
Dario masuk ke rumah lamanya itu. Ia meminta Shan dan Andrew mengikutinya.
Andrew memang agak pincang saat berjalan. Cedera itu tampak permanen. Tentu saja bukan karena pertarungan atau semacamnya. Ia mendapatkan cedera itu saat bertugas di pasukan khusus kepresidenan.
Wajah Andrew nampak bekas sayatan dan jahitan di sudut bibir kanannya. Tentu saja dengan kecanggihan dunia kedokteran dan estetika medis, bisa saja luka itu kembali mulus.
Tapi apalah artinya wajah bagai seorang Andrew. Ia tak butuh. Yang ia butuh hanyalah kesenangan hidup dan kebebasan. Bukankah semakin seram wajahnya, berarti semakin bagus penampilan dan kegagahannya?
Mereka duduk di ruang kerja Papa Dario. Satu kursi lagi diseret Shan dari ruang tengah.
"Bagaimana bisa membuka layar ponsel yang dikunci dengan nomor kode?" tanya Dario.
Andrew meminta ponsel Julie itu. Ia lalu mengeluarkan sebuah alat dari tas. Ada kabel kecil yang menghubungkan alat itu. Andrew seperti meminta kode dan memakai sistem penyadap.
Sekitar dua menit, ponsel itu terbuka. Andrew kembali menyerahkan ponsel itu pada Dario.
"Kodenya 115511," kata Andrew pada Dario.
Dario membuka pesan dan kosong. Riwayat panggilan telepon itu tak ada nomor lain selain namanya.
Singkatnya, tidak ada apapun yang bisa dikulik Dario dari handphone itu.
"Bisakah mencari riwayat pesan atau panggilan yang telah dihapus?" tanya Dario.
Andrew kembali meminta ponsel itu. Ia mengutak-atiknya.
"Ini ponsel keluaran terbaru dari Tezx. Memang sistemnya canggih, tidak bisa dibobol. Ya, mungkin saya yang belum pernah menguliknya. Apa ada petunjuk lain selain ponsel yang digunakan?" tanya detektif Andrew sambil mengembalikan ponsel itu pada Dario.
"Tidak ada," kata Dario dengan lemas.
"Bisakah perusahaan taksi di sekitar sini kita selidiki dan kita minta datanya? Mungkin sekitar jam dimana Nona Julie pergi," tanya Shan berpendapat.
"Saya sudah cek. Ada 5 perusahaan taksi yang aktif beroperasi di Valex." Dario menjawab.
"Bisa saja bukan taksi. Mungkin ada seseorang yang menjemputnya? Apakah mungkin?" Detektif Andrew mulai berpikir ke arah lain.
"Mungkin. Tapi satu-satunya orang terdekat Julie adalah Athena. Dan dia di Suresh. Orang-orang saya mengawasinya dan tidak ada pertanda atau petunjuk apapun yang mencurigakan," Dario berkata dengan yakin.
Semua hening.
"Bagaimana dengan data penumpang di stasiun Valex? Aksesnya lumayan dekat dari sini." Deketif Andrew kembali bertanya.
"Sudah saya telepon bahkan saya suap banyak petugasnya agar data itu keluar. Tidak ada nama Julie di sana," jawab Dario begitu yakin.
Kembali hening.
Dario tiba-tiba teringat ucapan Paman Michael dab Bibi Joan. Ada taksi yang mereka kenali siang itu lewat dan menyapa Bibi Joan. Mungkinkah?
"Shan, panggil Bibi Joan," kata Dario.
Shan bergegas keluar dari ruangan itu. Ia mencari Bibi tua itu.
Detektf Andrew melihat sekeliling ruangan kerja itu. Gayanya memang lugas dan spontan. Ia juga cenderung santai dan tak serius. Padahal itu hanya tampak luarnya. Aslinya, ia begitu tangkas dan handal.
"Ya, Tuan," kata Bibi Joan begitu masuk ruangan itu.
"Bibi, kemarin Bibi bilang ada taksi yang melintas saat kalian sedang berada di luar dan memotong rumput. Benar?" tanya Dario.
"Ya, Tuan. Sekitar tak lama sebelum Tuan datang dan memberi tahu kalau Nona Julie menghilang."
"Bibi bilang kenal akrab dengan sopir itu?" tanya Dario lagi.
"Ya, Tuan. Carl bekerja di Yellow Taxi bertahun-tahun. Saya berlangganan taksinya dua tahun terakhir ini."
"Bisa. Saya akan menelponnya," kata Bibi Joan lalu pamit pergi.
Mereka bertiga kembali berunding.
"Seperti apa Nona Julie? Maksud saya bukan ciri-cirinya. Tadi Tuan sudah bilang dan saya sudah tahu. Ini tentang tempat yang mungkin ia tuju atau semacamnya? Keluarganya?" tanya Detektif Andrew.
"Julie tidak punya kekuarga. Dia sebantang kara di panti asuhan semenjak dia bayi," kata Dario menjelaskan.
"Mungkinkah dia kembali ke tempat asalnya?" tanya Detektif Andrew lagi.
Dario terdiam. Ya, mungkin saja. Ia ingat Julie dulu kabur ke Rumah Asuh tempat Anthena. Dan Julie juga pernah bilang cita-citanya ingin membesarkan anak-anak sebantang kara sepertinya di pedesaan yang sejuk dan damai. Tapi dimana desa itu? Ia lupa.
Dario segera menelpon Anthena.
"Ya, Dario. Bagimana Julie," jawab Athena.
"Belum ada petunjuk. Athena, kamu tahu dimana Rumah Asuh tempat Julie dibesarkan semasa kecil?" tanya Dario.
Athena terdiam sejenak. Ia tahu Dario pasti cerdas dan pertanyaan semacam ini pasti akan muncul. Julie juga sudah berpesan padanya untuk berbohong.
"Ya, tentu saja. Kami tumbuh dan besar di Amberstone," jawab Athena.
Telepon ditutup. Ya, satu petunjuk lagi. Sebuah Rumah Asuh di Amberstone.
"Shan, suruh orang-orangmu untuk ke Amberstone," kata Dario.
***
Carl, sopir taksi itu datang tak lama setelah Bibi Joan menelponnya.
Dario berdiri di dekat jendela. Shan dan Andrew menanayainya.
"Jadi, Pak, ada seorang perempuan yang menghilang dari rumah ini. Mungkin antara pukul 1-4 sore. Apakah anda mengantarkan sesorang di sekitar sini kemarin?" tanya Detektif Andrew.
"Kemarin? Ya, sekitar pukul 2 mungkin. Ada perempuan yang asing. Saya baru pertama kali melihatnya di sekitar sini. Dia sedang hamil besar," kata Carl.
Mendengar kata-kata hamil besar, Dario lalu berjalan cepat menuju arah mereka. Ya, sebuah petunjuk telah ditemukan.
"Rambutnya agak pirang? Matanya sipit, kan? Apalagi yang anda ingat, Pak?" tanya Dario dengan tak sabar.
"Entahlah. Ah, cat kukunya merah muda. Saya tak sengaja melihatnya saat membantunya mengangkat koper ke atas kereta," katanya kemudian.
Tepat, banar sekali. Dario makin memicingkan matanya. "Pak, saya memeriksa data penumpang hari itu. Tidak ada nama dia. Seharusnya semua penumpang yang naik harus memasukan identitasnya pada mesin pemindai di kereta," kata Dario.
Carl menggeleng. "Nona itu terlihat sangat buru-buru. Dia bilang kartu identitasnya tertinggal dan ia harus naik kereta secepatnya karena suaminya sedang sakit. Petugas kereta merasa iba dan membiarkannya masuk."
Ya, mungkin saja itu Julie. Ia jelas berbohong agar tak terlacak. Rupanya ia tak kalah cerdas.
"Kemana arah tujuan kereta itu?" tanya Dario.
Carl nampak berpikir dan mengingat.
"Di jalur 3. Nona itu bilang ia harus ke Dallas. Tempat kereta berhenti di stasiun pusat." Carl menjelaskan.
Shan, Dario dan Andrew mengangguk. Sudah diputuskan kemana mereka akan pergi mencari Julie.
Carl si sopir taksi itu pergi dengan segepok uang. Ia tersenyum tak henti-hentinya. Tak ia sangka, berkat menolong Nona hamil itu, ia mendapat banyak uang.
Ya, informasi yang Julie berikan tentu saja bohong. Ia bilang akan ke Dallas, tapi ia bisa saja turun di Green Valley.
Dario memakan umpannya. Ia menuju ke arah yang salah.