
Musim semi di Swiss, 3 tahun setelahnya.
Anak-anak memulai kembali hidup normal. Hidup mereka benar-benar baru.
Athena membuka toko kue. Julie yang memberinya modal dan Devano yang membantunya mengurus tempat sewa.
Devano sendiri menjalankan bisnisnya di kota ini dengan mudah karena ia sudah punya relasi bisnis sebelumnya.
Lalu untuk mengisi waktu luangnya karena anak-anak sudah mulai bersekolah, Julie membuka toko bunga di sudut jalan di dekat tempat tinggalnya.
Mereka benar-benar hidup sederhana. Tidak ada yang menyangka kalau mereka adalah orang yang cukup kaya sebelumnya di Suresh. Julie lebih merasa damai hidup seperti ini. Tidak bersembunyi, tidak takut wartawan, dan tidak takut digosipkan seluruh kota.
Mereka hidup tenang. Banyak cerita yang sebelumnya disimpan, kini diurai dengan begitu jujur. Pun soal alasan Devano dulu meninggalkan Julie.
Mereka mengurai dengan perasaan yang lebih baru, lebih tabah, dan lebih bisa menerima.
Hari ini Julie yang kebetulan sedang berhalangan menjemput si kembar digantikan Devano. Ia menerima pesanan merangkai bunga untuk pesta secara mendadak. Julie begitu repot.
Devano lah yang menggantikan menjemput mereka ke sekolah.
Anak-anak memanggil Devano dengan sebutan Paman. Devano tidak keberatan sama sekali. Mereka begitu dekat satu sama lain. Seolah Devano adalah pengganti sosok ayah bagi mereka setelah Dario pergi untuk selama-lamanya.
"Paman, minggu depan ada hari Ayah. Ada acara sekolah yang mengharuskan ayah kita datang. Kita akan tampil di panggung memainkan drama. Apakah Paman bisa datang?" Brenda merengek. Bertha ikut-ikutan.
Devano yang sedang menggandeng tangan mereka di kiri dan kanan itu jadi kewalahan.
Tahun sebelumnya saat hari ayah, pada jauh-jauh hari Julie datang ke sekolah dan bilang kalau anak-anak akan cuti untuk pergi liburan. Ini semua ia lakukan agar anak-anak teralihkan dan tidak mengingat kembali memori sedih karena papanya sudah tiada.
Tapi tahun ini mungkin dia lupa. Devano hanya bisa mengangguk-angguk saja saat anak-anak itu memintanya datang.
Tentu ia akan melakukan apapun untuk anak-anak. Anak-anak itu begitu ia sayangi seperti anaknya sendiri. Bukan karena si kembar adalah anak Julie, tapi Devano merasa seperti terhubung satu sama lain. Anak-anak juga. Makannya mereka begitu dekat.
"Nanti biar Paman bilang pada mama, ya," ucap Devano.
Anak-anak mengangguk senang.
***
Julie dan Dario sedang menikmati minuman dan bersantai di Florist.
"Anak-anak memintaku untuk datang ke sekolah saat perayaan hari Ayah," ucap Devano sambil menerima secangkir kopi yang baru saja Julie berikan.
Julie agak tersentak. Ia terkejut. Ditariknya kursi dan kini mereka duduk dengan posisi saling berhadapan.
"Astaga! Aku lupa! Aku akan bilang pada gurunya. Kau tak perlu datang. Aku tahu kau sibuk. Lagipula kau ini masih lajang. Yang datang pasti para Ayah. Aku kasihan kepadamu," kata Julie.
Devano tertawa pelan sambil menyeruput kopi yang Julie seduhkan.
"Tidak maslaah bagiku. Aku senang kalau anak-anak datang. Biar aku datang. Mereka sedih karena tak punya ayah." Devano bergumam.
Julie menghela nafas panjang. Ia menatap jendela yang menampilkan pemandangan lalu lalang kota ini di malam hari saat musim semi.
"Tetap saja kau bukan ayah mereka," ucap Julie dengan sedih.
"Aku bisa menjadi ayah mereka." Devano berkata serius.
Julie menatapnya dengan bingung.
Devano tersenyum lalu ia mengulurkan satu kotak cincin dari mantelnya.
"Julie, sudah tiga tahun semenjak kejadian tragis itu. Kurasa sudah waktunya kita fokus untuk masa depan kita dan anak-anak. Aku akan menggantikan posisi Dario."
Julie tidak bisa berkata-kata, tapi matanya berbinar sekaligus menangis.
TAMAT.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Karya ini tulus dari hati dibuat. Walau sempat berganti-ganti judul dan cover dan akhirnya mundur dari kompetisi yang diadakan Noveltoon, tapi tak apa.
Karya dari hati akan tetap sampai ke hati pembaca.
Semoga kalian mengikuti aku di karya-karya yang lain. Apakah berbayar semua? Tidak. Ada juga yang gratis sampai tamat.
Maka dari itu ikuti di Instagram @rumaika_sally agar kalian tahu karya-karyaku yang lain.