
Yana menemui Chaka, yang sedang berkutat dengan laptopnya. Dia menyendiri di ruangan kerja, hanya untuk mengerjakan tugas kantor.
"Sayang, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." ucap Yana.
"Apa itu sayang." Chaka menghentikan tangannya yang sedang mengetik, lalu menoleh ke arah Yana.
"Ini tentang kegiatan mengikuti kelas Ibu hamil." Yana memberikan brosur, yang sempat disembunyikan belakang punggung.
"Baiklah, aku akan melihatnya." jawab Chaka.
Chaka melihat detail brosur tersebut, lalu membacanya dengan seksama. Chaka tersenyum, karena menyukai kelas ibu hamil. Hitung-hitung, banyak ilmu yang akan didapatkan.
"Aku tahu, istriku ingin melakukan yang terbaik untuk buah hati kita. Aku setuju, kamu mengikuti kegiatan ini."
"Suami baik, biarkan aku berterima kasih padamu." Yana mencium pipi kanan dan kiri bergantian.
Chaka berbunga-bunga, padahal bukan pertama kali. "Minimal sejuta kali, baru merasa sedikit puas."
"Seperti itu terlalu banyak jumlahnya, aku akan mencium suamiku sampai tertidur." jawab Yana, dengan pintarnya.
Tasya membuka lembar majalah perumahan, dan berdecak kagum dengan rumah-rumah minimalis. Sekarang dia sudah lega, membiarkan anak dan menantunya pindah. Mereka sudah saling mencintai satu sama lain, jadi tidak masalah merekomendasikan tempat tinggal.
"Rumah ini terlihat lebih layak ditinggali." Tasya menunjuknya.
Kaila melihat mamanya, yang terlalu fokus pada suatu objek. "Mama jangan pindah rumah, di sini terlalu banyak kenangan."
"Siapa yang mau pindah, ini rumah yang akan ditinggali oleh Kak Yana dan Kakak ipar." ujar Tasya.
"Yah, aku bakalan pisah sama mereka." Kaila menjadi murung.
"Kamu jangan khawatir, kamu tetap bisa mengunjungi mereka kok." ucap Tasya.
"Aku tetap tidak bebas bicara seperti biasanya. Komunikasi dari ponsel tidak bebas, seperti komunikasi langsung." jawab Chaka.
"Sayang, ini untukmu." Chaka memberikan satu kotak set perona pipi.
Yana berdecak kagum, melihat warnanya Yang bermacam-macam. "Hmmm... banyak sekali sayang."
"Lihatlah, warna ini sangat cantik." Chaka menunjuk deretan warna, yang rata-rata tidak jauh dari merah muda.
"Semuanya cantik kok, karena yang menggunakannya bidadari." Memuji diri sendiri.
"Semuanya cantik, kalau kamu yang pakai." Chaka mengoleskan ke pipi Yana.
"Aku akan melihatnya di cermin." Yana sudah berlari dengan percaya diri, lalu tercengang dengan hasilnya. "Sayang, mengapa seburuk ini."
"Hahah... aku tidak pandai merias. Sekali-kali iseng di wajahmu tidak masalah." Chaka menahan tawa, melihat wajah Yana belepotan.
Yana menghampiri Chaka, lalu meninju tidak serius. Pukulan-pukulan lirih diberikan pada tangannya, dengan raut wajah manja.
"Eh, hari ini ada bintang jatuh. Ayo kita lihat, jangan lewatkan fenomena langka ini." ajak Chaka.
"Iya sayang, cepat naik ke atas balkon." Yana menarik tangan Chaka, hingga berada di emperan lantai paling tinggi.
Kaila dan Kaihan sudah berduaan di sana, tampaknya mereka menunggu fenomena tersebut. Yana dan Chaka bergandengan tangan, sengaja menghampiri mereka.
"Eh Kaila, Kakak tidak mengganggu kalian 'kan?" tanya Yana.
"Tidak kok Kak, kami malah senang ditemani." jawab Kaila.
"Oh iya, tadi Mama sudah rekomendasikan rumah baru untuk kami." Chaka tersenyum, saat memberitahu adik iparnya.
"Kak Chaka, sebenarnya aku tidak rela. Berpisah dengan Kak Yana terlalu berat bagiku, begitu banyak hal konyol yang telah dilalui. Bubu pasti akan dibawa pergi, saat kalian pindah ke rumah yang baru." jawab Yana.