Loven Draft

Loven Draft
Kerja Bersama



Chaka memperkenalkan Yana pada seluruh karyawan dan karyawati perusahaan Alexander. Semua orang mengucapkan kata selamat datang, sebagai penyambutan baru.


"Aku berharap kedepannya, bisa berkontribusi untuk perusahaan ini." ujar Yana.


"Istri dari seorang CEO, pasti sangat berkompeten." jawab perempuan berkacamata.


"Tidak juga, di sini aku sedang belajar. Suamiku akan memberikan arahan, selama aku menjadi manajer desain." jelas Yana.


"Benar, selama menjabat dia akan mendesain karya perusahaan. Namun, kalian tetap harus menghargainya dalam bekerja." Chaka mengingatkan semua orang.


"Baik tuan Chaka." jawab semuanya serentak, seraya menundukkan kepala.


Setelah mengumumkan posisi Yana, Chaka mengajak istrinya ke ruangan kerjanya. Chaka memeluk Yana hingga duduk di pangkuannya. Yana tersenyum, sambil memukul dada Chaka.


"Sayang, malu dilihat banyak orang." Yana melihat ke sekeliling


"Tidak ada siapa-siapa, hanya kita berdua saja." jawab Chaka lembut.


Yana menoleh ke samping, lalu Chaka mendekat ke arah bibir Yana. Nyaris menempel, namun gagal terealisasikan. Pintu tiba-tiba diketuk, membuat tubuh Yana menyingkir secepatnya. Dipergoki dengan para pekerja kantor, akan membuatnya malu setengah mati.


"Masuk!" ucap Chaka tegas.


Seorang pria muda masuk, sambil membenarkan dasinya. "Ini laporan omzet terbaru, setelah ditemukan data yang sempat menghilang."


Chaka membuka berkasnya sambil tersenyum. "Bagus, tidak sia-sia aku menangkap pelaku."


"Iya, tuan Bayoli telah mengkhianati kerjasama investasi." ujarnya.


"Siapa yang berani mengkhianati aku, pasti tidak akan bertahan lama." jawab Chaka.


Kaila makan di kantin, sambil menyuapi mulut Kaihan. Isruni ada di sana, membeli makanan yang biasa mengisi perutnya.


"Sayang, ada yang menyangkut di tenggorokan aku. Tampaknya kamu memberiku makan rumput, seperti kambing liar penggoda." ucap Kaila, dengan manja.


Yana menunggu Chaka makan siang disebuah restoran, namun dia tidak datang juga. Padahal mereka sudah janjian, sebelum Yana keluar dari ruangan kerjanya.


Boneka beruang besar datang, lalu melambaikan tangan ke arah Yana. Dia bertepuk tangan, sambil bernyanyi dengan merdu. Tidak segan bergoyang sambil berputar kanan dan kiri.


"Eh, aku seperti pernah melihat boneka ini sebelumnya." monolog Yana.


Chaka membukakan sebuah kain yang digenggamnya, dan Yana tersenyum melihat setangkai mawar merah. Yana menebak bahwa itu suaminya, jadi dia mencium bunga warna merah tersebut.


"Sayang, jadi waktu itu kamu yang menghiburku di jalan?" tanya Yana.


Chaka membuka kepala boneka. "Iya sayang, memang aku yang melakukannya. Namun ingin memberitahumu tidak mungkin, aku 'kan sedang pura-pura meninggal."


Yana menarik tangan Chaka, agar segera duduk. Dari tadi makanan telah disajikan oleh pelayan, dan Yana tidak ingin menunggu sayur hingga dingin.


"Ini enak sekali, aku sudah rindu dengan makanan kesukaanku." ucap Yana.


"Gulai Angsa dan juga mie acar ini, pernah menemani masa-masa remaja dulu." jawab Chaka.


"Hmmm... ternyata kamu masih ingat, dulu kamu lap bibirku yang belepotan kuah." Yana merasa lucu, mengingat masa sekolah.


"Namun, setiap melihat mie aku jadi teringat sesuatu." Chaka tampak sedih.


"Hmm... aku sudah tahu permasalahannya. Kamu trauma 'kan, dengan kelakuan jorok teman sekelas?" tanya Yana.


"Dari mana kamu tahu, saat itu aku bersama Artha saja. Kamu sedang demam tinggi, jadi tidak masuk sekolah." jawab Chaka.


"Aku tahu, karena Kaila pernah bertanya pada Artha. Hal sebesar ini pun, kamu tidak mau cerita." Yana cemberut.


"Sudahlah, kita konsultasi ke psikolog saja." Chaka memberikan solusi tepat.