
Kaila menunggu Yana dengan jenuh, sesekali mengedit fotonya yang imut. Sekadar mengusir kesal, karena berjam-jam kakaknya tidak datang.
"Kemana si dia, apa masih makan?" Kaila mencoba menghubungi nomor Yana, namun sedang di luar jangkauan kata operator pembicara. "Hih, lagi-lagi tidak diangkat. Benar-benar membuatku tidak sabar lagi. Jangan-jangan Kakak mematikan ponsel, merasa risih dengan adik cerewet sepertiku."
Febby baru saja mengusap wajahnya, dia melihat ponselnya ada pesan masuk. Febby membalas pesan Kaila, karena pesan berulang kali masuk. "Harusnya Yana sudah sampai, karena kami pulang dari tadi."
Kaila mengetik pesan lagi. "Aku tidak bohong, dia memang belum sampai Kak."
"Baiklah, Kakak akan mengajak Kak Artha mencarinya."
"Iya, terima kasih sebelumnya."
Yana berbelok ke sembarang arah menuju tempat pariwisata, tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana. Jalan buntu di ujung gang, dan dia segera mematikan mesin mobilnya.
"Hei, keluar." Seorang pria mengetuk-ngetuk mobil Yana.
"Baik, tunggu sebentar." Yana membuka pintu mobil.
"Dia harus dihakimi, karena menabrak ayam lalu kabur." ujar perempuan paruh baya.
"Aku mohon jangan, aku akan bertanggungjawab." Yana cemas melihat keramaian mengerubunginya, trauma mendadak kambuh lalu menangis.
Yana hendak dipukul kayu, dan seorang laki-laki menendang mereka. Yana yang sebelumnya menutup wajah segera membukanya, lalu terkejut melihat wajah Belko.
"Pengawal Belko, kamu kemana saja? Bisa-bisanya bersembunyi padahal masih hidup." monolog Yana.
Pikiran Yana jadi memikirkan suaminya, menduga-duga apakah Chaka masih hidup? Namun kenapa tidak muncul untuk menolongnya.
"Mana ganti ruginya?" tanya perempuan paruh baya.
"Pasti akan diganti dengan cepat, kalian tenang saja. Dia ini putri kandung Devin Sebastian, jangan berani-berani kalian mencelakainya." jawab Belko.
"Tidak apa-apa, aku juga salah. Tidak seharusnya aku kabur begitu saja, setelah berbuat kesalahan." jawab Yana.
Belko menghampiri Yana lalu membantunya berdiri, dia dipukul pelan oleh tangan Yana.
"Kenapa kamu bersembunyi, di mana suamiku?" tanya Yana.
"Dia sudah meninggal, kamu tahu sendiri 'kan mobilnya terbakar." jawab Belko.
"Reaksimu yang biasa saja, menandakan ada kebohongan." tuduh Yana.
Pengawal Belko angkat tangan. "Tidak seperti yang nona pikirkan, awal mulanya juga sedih. Namun tidak mungkin, menangisi kejadian sudah lama."
Keesokan harinya, Yana bersiap-siap pergi ke bioskop Sweet Dream. Hari ini peluncuran film perdana terbaru, yang berjudul "Menikah Denganmu Takdirku".
Plok! Plok!
Suara tepuk tangan riuh penonton, saat melihat Yana memasuki ruangan. Ada Ronal juga yang berjalan bersama Bayoli. Yana tersenyum, menatap semua orang yang duduk dan berdiri.
"Eh, nona perempuan yang kemarin menabrak ayam Bangkok milikku 'kan?" tanya perempuan paruh baya.
"Iya Bu, maaf atas kejadian yang kemarin." jawab Yana.
"Iya tidak apa-apa, yang kemarin biarlah berlalu. Ngomong-ngomong, nona Yana mengapa di sini?" tanyanya penasaran.
Yana menyempatkan menjawab, di tengah orang-orang yang sibuk. "Aku di sini, untuk melihat film anime kartun "Menikah Denganmu Takdirku". Yang menjadi pengisi suara audionya, adalah aku dan dia." Melihat ke arah Ronal.
"Haduh, keren sekali. Ini untuk pertama kalinya, dua desain disatukan. Aku tidak sabar lagi untuk menonton, pasti jalan ceritanya bagus sekali." Lompat-lompat heboh, memberitahu banyak orang terdekatnya.