
Pada malam harinya mereka menonton bioskop, lalu Yana mengalungkan rantai tas pada leher Chaka. Mereka duduk di kursi VIP, yang telah dipesan khusus oleh Chaka.
"Hih, enak banget mereka menggunakan kursi pasangan. Andaikan kita seperti itu, pasti sudah pelukan hangat." ujar Febby, berkhayal sebentar.
"Kamu mau aku peluk, tidak perlu pakai cara seperti itu. Tinggal duduk di pangkuan aku saja." jawab Artha.
Artha menarik lengan Febby, hingga perempuan itu terjatuh dalam dekapannya. "Bagaimana seperti ini? Sudah enak 'kan?" Semakin mempererat tangannya pada perut Febby.
"Iya, ini nyaman sekali." jawab Febby.
Semua fokus ke layar kaca, saat acara film telah dimulai. Kuntilanak terbang ke atas pohon, lalu pemeran utama bergerak cepat. Tiba-tiba kakinya ditarik, hingga tubuhnya membentur pohon.
Yana buka tutup mata, dengan adegan yang baru dilihatnya. Yana memeluk pinggang suaminya saat melihat layar, tetesan darah mengenai dahi pemeran utama. Setelahnya, malah dihampiri jenggot gendruwo.
Yana ikut berteriak, saat orang dalam layar berteriak. Para penonton menoleh ke arah Yana sebentar, lalu fokus kembali ke layar bioskop. Sepasang kekasih di sebelah kanan Yana, langsung mengenali dengan jelas saat cahaya lampu berjalan ke arah Yana.
"Eh, kamu perempuan yang sedang viral di sosial media 'kan? Aku mau minta tandatangan dari kalian." ucapnya gembira.
"Boleh, boleh, silakan saja." jawab Yana.
"Pacarku mau minta foto bareng juga, boleh iya Kak?" tawarnya dengan lirih.
"Silakan."
"Tidak boleh."
Chaka menyahut saja, menjawab bersamaan dengan Yana. Chaka yang meladeni untuk berfoto dengan laki-laki, dan Yana meladeni yang perempuan berfoto.
Devin memberitahu pelaku yang menembak pistol di studio foto, ternyata orang yang ingin membunuh orangtua Chaka. Saat mereka pulang dari bioskop, langsung saja Devin mengutarakan hal yang diketahuinya.
"Terima kasih Pa, aku sudah menyelidikinya." ucap Chaka.
Keesokan harinya, memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Yana dan Chaka akan pergi ke luar negeri, menghabiskan waktu berdua berbulan madu.
Isruni membeli makanan bakpao, hendak menyuapi Kaihan. Tangannya segera menangkis Isruni, sebelum makanan itu menyentuh bibirnya.
"Aku sarankan kamu tahu batasan, bukankah ini berlebihan?" ucap Kaihan spontan.
"Maaf, harusnya aku menyadari sejak awal. Anggap saja, aku tidak melakukan ini." jawab Isruni.
Saat Kaila muncul, Isruni sengaja menyentuh pipi Kaihan. Berpura-pura mencari anak dan induk nyamuk, yang menghilang ntah kemana.
"Maafkan aku Kaihan, aku tadi refleks karena lihat nyamuk besar sekali." ucap Isruni.
"Jauhi aku selain keperluan OSIS, aku tidak mau pacarku salah paham." jawab Kaihan, memberi peringatan.
Kaihan baru saja berlalu, tapi melihat Kaila yang mengambil buku. Mungkin dia mendengar, tapi pura-pura tidak tahu pikir Kaihan.
"Kaila, kamu jangan pergi." Melihat Kaila yang sudah melangkahkan kaki.
"Sudahlah, tindakan yang aku ambil tidak penting. Tidak akan berpengaruh juga dalam hidupmu." jawab Kaila ketus.
"Aku minta maaf, bagaimana bila kita berbaikan?" Kaihan menawarkan diri.
"Baiklah, aku setuju." jawab Kaila.
Yana membuka kotak bekal yang disiapkan Tasya. Ada sup iga sapi, dan juga ikan bakar.
"Chaka sayang, coba deh kamu cicipi ini." Yana menyendok nasi dan lauk.
Chaka membuka mulutnya, menerima suapan dari istri tercinta. "Ini benar-benar enak, lain kali mau lagi."