Loven Draft

Loven Draft
Hamil



Setelah malu-malu, akhirnya Artha berhasil mengutarakan maksudnya. Wajah orangtua Febby sangat gembira, karena putrinya akan dilamar. Namun sedih juga, karena merawatnya butuh waktu lama.


"Kami akan sangat merindukanmu, bila sudah menikah jarang berjumpa."


"Kami akan sering mengunjungi." jawab Febby.


"Aku harap begitu, kalian tidak sekadar memberi rayuan manis." Ibu masih rindu dengan Febby, jadi menyuruhnya tinggal lebih lama.


"Tidak Bu, mudah-mudahan kami selalu punya waktu dan rezeki, untuk kembali ke kampung halaman." Febby menggenggam tangan ibu kandungnya, berharap mendapat restu penuh.


Dokter memberikan surat hasil pemeriksaan, dan mengucapkan selamat pada Yana. Dia sekarang sudah resmi menjadi seorang ibu, karena hamil beberapa Minggu.


"Usia kandungan aku ini, masih belum dapat dilihat bukan?" tanya Yana.


"Iya, karena masih kecil. Belum bisa dilakukan USG, untuk melihat bayinya." jawab dokter tersebut.


Sampai ke rumah, Tasya menanyakan kepergian mereka. Yana memperlihatkan hasil pemeriksaan, seketika membuat mamanya melompat. Sudah lama mendambakan seorang cucu, akhirnya doa-doa terkabulkan.


"Yana, kita harus beri kejutan untu Papa Devin." ujar Tasya.


"Boleh juga, tapi aku ingin Chaka menemani aku." jawab Yana.


"Dia 'kan sudah meninggal sayang." ucap Tasya, menyuruh putrinya menerima kenyataan.


"Dia masih hidup Ma, buktinya saja pengawal Belko selamat." jelas Yana.


Olimpiade London semakin dekat, harus disiapkan dengan matang. Tidak peduli rintangan apa yang akan dihadapi oleh Kaila, dia akan tetap maju dengan semangat membara.


"Sayang, semangat iya." Kaihan melihat Kaila dari jendela, lambai-lambai tangan.


Kaila melirik sambil tersenyum. "Aku pasti semangat."


"Duh romantisnya."


"Mereka berbeda, terlalu uwuw."


"Aku juga punya pacar seperti itu, bahkan lebih romantis."


Perempuan yang berseliweran menyempatkan berkomentar, karena melihat tontonan drama gratis. Kaila sedang dilatih oleh kepala sekolah, agar bisa mengerjakan soal lebih cepat lagi.


"Tidak boleh izin makan pempek dulu iya." Kaila nyengir, sambil tawar menawar.


"Tidak, mana boleh seperti itu. Kalian harus latihan dengan baik, untuk menjadi kandidat yang terpilih mengikuti Olimpiade London." jawab kepala sekolah.


"Peserta dari laki-lakinya siapa Pak?" tanya Isruni.


"Siapa lagi bila bukan Kaihan." jawab bapak kepala sekolah.


Febby dan Artha memilih jalan-jalan ke pantai, bermain pasir akan terasa menyenangkan. Mereka juga menangkap udang di laut, dengan menggunakan jaring.


"Sayang sekali, sudah mulai punah. Dulu waktu kecil, tidak sesulit sekarang mencarinya."


"Mungkin udangnya sudah lelah, melihat wajahmu yang masih jelek seperti dulu." Artha malah meledeknya.


Febby hendak melemparkan kayu, namun Artha mengelak. Akhirnya mereka bermain kejar-kejaran, sambil tertawa riang. Febby mengitari pohon besar, menuruti langkah kaki Artha.


"Kalau berhasil ketangkap, akan aku jewer telingamu." Febby menunjuk orang yang mengerjainya, dengan sedikit tersulut emosi.


"Aww... seram sekali." Artha menunjukkan raut wajah seram.


Detektif Melvi telah kembali, karena usai mendapatkan yang diinginkan. Chaka meminta Melvi menyebutkan yang dia ketahui, lalu dicatat dalam kertas agenda penting. Chaka akan mempertimbangkan, apakah informasi itu sudah cukup kuat. Kalau belum lengkap, dia tidak akan membuka kasus di pengadilan.


"Kita masih kurang informasi, karena mereka berbicara di dalam. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, meskipun menggunakan teropong." ujar detektif Melvi.


"Teropong itu berfungsi untuk memperjelas penglihatan, bukan bisa mendengar dari kejauhan." jawab Chaka.