
Dor!
Sebuah tembakan melayang ke arah Tasya, lalu Chaka menembakan peluru ke arah lawan juga. Setelah itu berlari secepat mungkin, untuk menghalangi punggung Tasya. Chaka menggigit gigi sendiri, sampai berbunyi karena beradu dengan yang lainnya. Kakinya terasa kaku, menahan perihnya lengan terkena peluru. Aksi kejahatan itu berhenti, tatkala para polisi datang. Mereka lari terbirit-birit, dan menghentikan niatnya untuk membunuh.
"Kak Chaka, kenapa melindungi Mama dan aku." Kaila panik, melihat darah yang keluar.
"Tidak apa-apa, luka di tangan masih mudah diselamatkan. Kalau punggung Mama terkena peluru, takut sampai menembus organ dalam." jawab Chaka.
Devin segera menghampiri Chaka, mengajaknya cepat-cepat membawa diri ke rumah sakit. Dia tidak mau luka menantunya semakin parah karena terlambat mengeluarkan peluru, yang menjadi sumber pendarahan.
Di rumah sakit, Chaka segera mendapatkan pertolongan. Peluru yang tengah menyelam dalam daging tangannya telah diambil. Beberapa menit menunggu, kedatangan tamu yang familiar. Siapa lagi bila bukan Ronal, Febby, dan Artha.
"Yana, Chaka tidak apa-apa 'kan?" Artha yang paling panik, karena Chaka sepupu satu-satunya.
"Kamu tenang saja, dokter sedang menanganinya." jawab Yana.
"Siapa sebenarnya yang menyuruh membunuh Chaka?" Artha menjadi khawatir, teringat cerita Chaka, yang selalu mendapat teror.
"Kalau aku juga tahu, pasti menyuruh polisi menangkap akar permasalahannya. Musuh ini benar-benar licik, pasti berhubungan dengan pembunuh orangtua Chaka." jawab Yana.
"Bukankah orangtua Chaka bunuh diri, kenapa kalian mengira dibunuh?" Ronal menjadi penasaran.
"Hmmm... maaf Ronal, ini permasalahan keluarga. Aku tidak bisa memberitahu kamu lebih jelas." Yana berusaha menutupi, bahwa suaminya masih menyelidiki.
Yana dan Febby berbicara sebentar, disebuah kursi pojokan. Mereka ingin saling berbagi cerita, agar mendapat kepuasan meski tidak mencari solusi.
"Febby, awalnya aku mengira aku menyukai Ronal, ternyata itu hanyalah rasa percaya terhadap rekan kerja. Sedangkan perasaanku pada Chaka, itu baru sungguhan dari hati. Aku takut kehilangannya, bersamanya aku bahagia, cuma butuh dia beri waktu." ungkap Yana jujur.
"Heheh... boleh pasang iklan menggunakan foto kami. Tapi, setelah kami meresmikan resepsi pernikahan." ujar Yana, mengajukan persyaratannya.
"Iya, aku setuju. Jangan lupa undang aku iya, aku pasti berada paling dekat." jawab Febby, tanpa keraguan.
Yana menghampiri Chaka, yang baru saja keluar dari ruang perawatan. Dia dengan setia memapah tubuh suaminya, sampai masuk ke dalam mobil.
"Yana, aku turut prihatin iya dengan musibah yang menimpa suami kamu." ucap Ronal.
"Kamu lagi, kenapa tidak terbang ke langit saja, lalu menghilang ditelan semesta." Malah Chaka yang menjawab, dengan nada sangat ketus.
"Kamu jangan seperti itu padanya." bela Yana, sambil menutup pintu mobil.
"Terus saja kamu memihak pada dia." jawab Chaka.
Chaka sudah sampai ke rumah, lalu ditemani Yana menuju kamar. Yana menggeledah lemari Chaka, untuk mencari penyangga lengan. Tanpa sengaja di melihat terompet cinta, pada
"Eh, kenapa kamu menggeledah lemari pribadiku." Chaka protes.
Yana mengangkat terompet di hadapan Chaka. "Kamu mencoba menyembunyikan ini dariku. Jadi, yang ada di pesta permen kamu." Menatap lekat kedua mata suaminya, ingin dia berkata jujur.
"Maafkan aku istriku sayang, aku harusnya mengatakan sejak awal." ucap Chaka.
"Minimal memberitahu, sejak kita sepakat menghapus perjanjian kontrak menikah." jawab Yana.