
Isruni menghadap kepala sekolah, sambil memasang raut wajah tak sedap. Kepala sekolah heran dengan Isruni,
"Paman, aku sudah bayar uang sogokan. Kenapa si Kaihan malah pergi dengan perempuan bernama Kaila itu." ucap Isruni.
"Tenang, nanti Paman bantu kamu lagi." jawabnya, dengan rayuan.
"Tak bisa percaya lagi." Isruni mengerucutkan bibirnya, sambil berpangku tangan.
"Percayakan pada Paman, bilang saja aku memanggilnya ke kantor." jawab kepala sekolah.
"Sekali ini harus berhasil." Isruni menuntut keinginannya.
"Baik, asalkan kita kerjasama kompak." jawab Isruni.
"Sayang, kita mau main layang-layang di mana?" tanya Yana.
"Kita main di pulau seberang laut." jawab Chaka.
"Apa banyak orang di sana?" Yana takut kalau hanya berdua.
"Tenang saja, kapal pergi kalau sudah lewat pukul 18.30. Kita masih bisa menyaksikan senja, pasti seru sekali." jawab Chaka.
Chaka dan Yana naik kapal, sambil melihat gemericik air di bawah. Yana melihat sekelompok burung berkicau, yang semakin terbang meninggi. Di atas pohon, tidak tahu apa yang dicarinya.
"Mereka mengapa ramai sekali?" tanya Yana.
"Mungkin sedang menjaga anaknya dari ular." jawab Chaka.
"Bukankah harusnya bertelur yang banyak dulu, sekarang musim yang tepat untuk berkembang biak." ujar Yana.
"Mereka juga sedang berkembang biak, setelah selesai masa bertelur." Chaka memperhatikan dengan seksama.
Akhirnya sampai juga di pulau seberang laut, Yana berputar-putar badan. Jingkrak-jingkrak, terlihat sangat bahagia. Dia mengalungkan tangannya, di leher Chaka.
"Apa kamu belum pernah ke sini sebelumnya?" tanya Chaka.
"Tidak sayang, aku takut. Selama ini hanya sering mengurung diri, karena memiliki phobia terhadap laki-laki." jelas Yana.
"Iya, aku beri hadiah dulu." Yana mengembangkan senyuman, mencium pipi Chaka.
"Kamu mulai berani iya sekarang," Chaka mencubit pinggang Yana.
Yana tertawa geli, lalu mendorong Chaka. "Kejar aku!" pintanya sambil berlari.
Chaka melewati jalan pintas, sengaja ingin menghadang di depan. Yana berjalan santai, saat tidak melihat Chaka di belakangnya. Tiba-tiba saja, ada yang menutup matanya dari belakang.
"Ayo tebak, siapa ini?" tanya Chaka.
"Aku tidak tahu, tangannya terlalu kasar." Yana tersenyum bercanda, menunjukkan deretan giginya.
"Kamu pasti tahu, apa yang telah terjadi." ucap Chaka.
"Kamu mungkin mendadak menjadi petani, lalu memegang parang dengan penuh penghayatan." jawab Yana.
"Nah tidak benar, ini semua karena membopong tubuhmu yang berat. Ingat 'kan waktu di hotel sebelumnya." Chaka meledeknya.
"Aku tidak gendut, kamu jahat sekali," Yana jadi sebal. "Apa kamu masih suamiku?"
"Maaf, tidak seharusnya aku mengatakannya. Tapi aku terlalu terus terang, seperti yang kamu pinta sebelumnya." ucap Chaka.
"Baiklah, pertahankan sikap seperti ini."
Yana mengingat ucapannya sendiri, dan langsung terdiam. Chaka menguyel-uyel pipi istrinya, lalu mengajak jalan ke arah lain. Mereka berdua main pelampung, di sebuah danau yang sepi.
"Jangan lupa membentang terpal." Yana mengingatkan.
"Tidak lupa kok, nanti kita makan-makan setelah bermain layangan." jawab Chaka.
Setelah puas main percikan air, mereka menerbangkan layang-layang di atas udara. Siapa yang paling lama bertahan, dialah pemenangnya.
Tiba-tiba angin bertiup kencang, dan layang-layang Yana terjatuh. Chaka buru-buru menghampiri Yana, lalu melihat layang-layang miliknya putus. Chaka menatap sedikit iba, melihat raut wajah Yana.