
Esok harinya Yana seharian tidak mau keluar rumah, dia hanya sibuk menghabiskan waktu di kolam renang. Kaila melihat pemandangan tersebut membuat resah, ingin mencari cara untuk menghibur Yana lagi.
"Kemana iya aku harus mengajaknya jalan. Aha, aku punya ide." Kaila merasa senang, saat terlintas museum dalam pikirannya.
Yana beringsut memegang gagang besi, untuk memanjat ke permukaan. Dia duduk di sebelah Kaila, lalu meraih botol dengan gambar jeruk.
"Glek, glek." Yana menghembuskan nafas lega. "Sudah pulang sekolah iya?"
"Belum si, cuma aku pulang sendiri." Tersenyum, sambil membelai telapak tangan dan jari-jarinya.
"Masih berani bolos, katanya mau jadi siswi teladan." ledek Yana.
"Ah Kakak, kamu sedang menghinaku. Aku sebal dengan si Isruni itu, tidak tahu apa alasannya. Perkenalan awal tidak mengesankan, sekarang dekat-dekat untuk jadi teman." celoteh Kaila.
"Dia mungkin menyerah untuk bersaing." Yana menduga sesuai pemikirannya.
"Belum tentu, mungkin susun rencana ganas." Mengigit pilus panggang, yang sudah masuk ke dalam mulutnya. "Aku mau mengajakmu jalan ke museum." ujar Kaila.
"Tidak mau, aku sedang merana." jawab Yana.
"Tidak boleh menolak, jangan sampai gila kehilangan cinta. Kakak harus berlibur, menyegarkan otak. Biarkan dia pergi, supaya tenang di surga." Mengepakkan tangannya bagai sayap, sambil menampilkan deretan giginya.
"Baiklah, mulai hari ini aku akan menjalani hidup dengan bahagia." Yana melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
Sementara di sisi lain, ada Chaka yang mencabuti bunga hingga gundul. Dia yang lebih merana daripada Yana, harus sembunyi tubuh sampai waktu yang tidak terjamin.
"Iya tentu saja, dia adalah ketua pengawal. Orang yang paling aku percaya, di antara yang lain." jelas Chaka.
"Aku turut prihatin dengan kumbang jantan, karena bunganya sudah dihabisi olehmu." Melvi melihat bunga yang tinggal beberapa helai, padahal tadi pagi mekar dengan ukuran jumbo.
"Aku tidak peduli, kumbang jantan harus merasakan merana." Meninju daun-daun tidak bersalah. "Aku rindu padanya, semalam hanya bertemu sebentar. Tidak bisa mengobrol, hanya diam-diam menemui dalam mimpi." Suara merengek seperti anak kecil.
Yana dan Kaila sudah sampai di museum, setelah dari tadi banyak langkah rumit. Sibuk memilih baju dan tas, riasan yang tidak menor, kendaraan yang tepat dipakai untuk berdua. Siapa lagi bila bukan Kaila, biang kerok dari segala keributan.
"Ini museum bagus sekali, mengapa tidak mengatakannya padaku." Yana menyapu matanya ke sekeliling.
"Kakak anak konglomerat, tapi wisata saja kurang pengetahuan. Aku sering ke sini sama Kaihan, tapi lebih sering ke laut si heheh...." Berbicara halus, namun ekspresi wajah menyebalkan.
Yana merangkul pundak adiknya. "Kamu tidak boleh meledek Kakak sendiri. Beri hormat sedikit saja, jangan membuatku menjadi tidak berempati."
Kaila mengangkat tangan kanannya, hingga setinggi pelipis. "Ini adalah pelunasan hutang pada Kakak, tidak boleh membalas kemudian hari."
Orang-orang yang lewat tertawa melihat Kaila, tidak tahu apa yang dia hormati. Tidak ada tiang bendera, tidak ada pelaksanaan upacara, tidak ada hal apapun yang masuk akal.
"Turunkan tanganmu, jangan membuat malu." Yana tidak suka dijadikan pusat perhatian.
Kaila tersenyum gemas. "Iya, dengan senang hati mengurangi kecemasan Kakak tersayang."
Yana dan Kaila masuk ke dalam, berjalan lalu berhenti. Area untuk sampai ke museum lumayan jauh, terdapat di puncak bukit.