
Chaka mengeringkan rambut Yana dengan mesin. Yana tersenyum, sambil melihat Chaka di depan cermin. Chaka melihat ekspresi Yana pada cermin, lalu fokus kembali pada alat di tangannya.
"Sayang, segera temui kurir paketnya." pinta Yana.
"Tenang saja, dia tidak berani kabur. Aku pastikan menunggu di depan pintu." jawab Chaka.
Tiba-tiba terdengar suara klakson motor, bahkan ada keributan pengawal Belko dan teman-temannya. Mereka menghalangi motor kurir, yang mau menerobos gerbang.
"Sepertinya, paket sudah sampai." Chaka melihat dari jendela lantai atas.
"Iya sudah, cepat ambil sana." Yana mendorongnya, agar cepat berjalan.
Sementara di sisi lain, Febby dan Artha masih tergantung. Mereka seperti ditawan, namun tidak berniat untuk dibunuh.
"Hei, kalian berdua, masih berani main stempel?" Ayah Febby datang tiba-tiba, sambil tegak pinggang.
"Ampun Ayah, Febby tidak akan mengulanginya." Febby ketakutan.
Kaila menghampiri Kaihan yang sedang bersandar, pada sebuah mobil asing yang tidak tahu milik siapa.
"Singgah ke kedai kopi Janji Jiwa yuk." ajak Kaila, sambil merengek.
"Aku tidak mau, ingat hal lama lagi." Memegang pelipis, sambil geleng-geleng.
"Kalau kamu tidak mau ikut, kamu akan tertinggal sendiri." Kaila melangkahkan kakinya, mengikuti kaki Isruni.
Kaihan masih berbicara, di belakang punggungnya."Mulutmu ini kecil, tapi seperti pegas."
Kaila mengabaikannya sesaat, karena ada urusan yang jauh lebih penting.
"Katanya mau bicara, bukankah nona konglomerat tidak biasa, mengajakku minum bersama?" ujar Isruni.
"Aku tidak akan basa-basi lagi, hanya ingin kamu menuruti permintaanku."
"Orang kaya di negara ini, bisa membeli apapun. Untuk apa meminta sesuatu padaku, yang belum tentu bisa aku berikan." Isruni merasa heran.
"Aku ingin kamu jadi saksi di pengadilan, saat Kakakku membuka kasus lama untuk disidang." jawab Kaila.
"Sudahlah, di depanku tidak perlu drama. Aku yakin, kamu tidak sebodoh itu. Kamu sudah mengetahuinya sejak awal, apa maksud kepala sekolah ingin membawamu." jelas Kaila.
Yana masih ceria, tampak bahagia setelah membuka paket. Sekarang asyik-asyiknya ingin menggunakan mesin kopi. Semua bahan yang dibutuhkan, sudah tersedia didekatnya.
"Aku akan mencoba semua resep sekaligus." ujar Yana.
"Jangan bilang, kalau aku yang dijadikan manusia percobaan?" Chaka sudah curiga duluan.
Yana tersenyum-senyum sendiri. "Bukan manusia percobaan, namun kamu akan menjadi marmut termanis."
"Jangan merayuku, tidak akan membuat meleleh. Aku curiga, istriku punya maksud lain." Pikiran Chaka menari-nari, sampai ke bayangan memuntahkan kopi karena terlalu mual.
”Hih, jangan sampai kejadian waktu pergi dengan pengawal Belko terulang. Perutku terasa begah, meminum air manis terlalu banyak.” batinnya berbicara, sedikit trauma.
Yana mulai memencet tombol mesin kopi, lalu menunggu beberapa menit. Setelah itu membiarkan gelas penuh air rasa manis, tersaji dengan telapak tangannya.
"Sayang, minum iya sekali saja." ujar Yana.
"Bohong, melihat matamu pasti punya niat jahat." jawab Chaka spontan.
"Ah sayang, kamu tahu saja. Aku ingin menyuruhmu mencoba berkali-kali hahah..." Menjawab sambil tertawa, jujur juga.
Chaka mengambil gelas yang berisi air hitam pekat tersebut. "Aku hanya ingin sekali, tidak ada penawaran."
Yana malah membuat lagi, lalu menyuruh Chaka meminumnya. Terus saja dilakukan berulang kali, dengan bilang kalau menolak tidak menghargai.
Cemberut saat ke 20 kali Yana memaksa, Chaka menggelengkan kepala. "Sayang, sekali lagi. Please, hargai pasangan kamu."
"Tidak mau." Tegas menolak, sambil berpangku tangan.
"Anakmu yang memintanya." Yana tersenyum, bawa-bawa alasan mengidam.
Chaka akhirnya menuruti, meski rasanya kembung mau muntah. Dia segera berlari ke toilet, begitupun dengan Yana.