Loven Draft

Loven Draft
Insiden Mencurigakan



Keesokan harinya Yana dan Febby sedang berjalan berdua, namun terkejut dengan mobil yang hendak menabraknya.


"Yana awas!" Febby menarik tubuh Yana ke pinggir.


"Siapa pengemudi di dalamnya? Benar-benar ceroboh!" jawab Yana.


"Itu bukan sekadar ceroboh, ada unsur kesengajaan." ujar Febby.


"Benarkah? seingat diriku, aku tidak memiliki musuh." jawab Yana.


"Kamu bisa saja tidak mencari musuh, namun mereka ingin menemukanmu." ucap Febby lagi.


"Hah, terserahlah. Aku tidak ingin memikirkannya." jawab Yana.


Yana melihat Ronal, yang berada di depan rumah Yana Kreator. Febby dan Yana melangkahkan kakinya, sampai mendekat ke arah Ronal.


"Ngapain di sini?" tanya Yana.


"Aku sedang menunggumu." jawab Ronal.


"Ada urusan apa mencari ku?" tanya Yana.


"Ah kamu ini, sungguh tidak peka. Ajak bicara di dalam ruangan, mengapa mengintimidasi seperti ini." Febby yang menjawab.


"Hanya bertanya kali, bukan mengintimidasi." ujar Yana.


"Iya deh Yana, iya." jawab Febby, yang menekankan kata akhir.


"Ayo Ronal, masuk ke dalam." tawar Yana.


"Iya Yana, terima kasih." jawab Ronal.


Yana segera duduk, begitupun dengan Ronal. Febby pergi ke pantri, untuk membuatkan minuman. Tak berselang lama, terdengar suara geseran kaki kanan dan kiri Febby.


"Ronal, diminum dulu." tawar Febby.


"Iya, terima kasih." jawab Ronal.


"Ada perlu apa?" tanya Yana, dengan serius.


"His Yana, jangan seperti itu kali. Seolah-olah, Ronal tidak boleh bermain-main santai." cibir Febby.


"Aku hanya ingin mengundang kamu Yana. Iya gitulah, sebagai pemeran drama anime." jawab Ronal.


"Aku 'kan asisten pribadi Yana, aku juga ikut iya." sahut Febby.


Ronal berpamitan pulang, setelah berkomunikasi cukup lama. Febby membantu Ronal yang keluar, dengan menggunakan tongkat. Yana memotong kuku dengan santai, lalu melihat Febby yang asyik bermain ponsel. Dengan rasa penasaran, Yana mendekat ke arahnya.


"Kamu sedang bermain apa si?" tanya Yana.


"Aku sedang bermain aplikasi Meeting You." jawab Febby.


"Aplikasi apaan tuh?" tanya Yana, yang super penasaran.


"Memangnya kamu tidak tahu. Ini aplikasi pencari jodoh yang paling populer." jawab Febby.


"Aku tidak pernah dengar." ucap Yana.


"Masih baru si, tapi menunya seru sekali. Ada untuk mengirim pesan teks, gambar, dan panggilan suara." jelas Febby.


"Panggilan video bisa iya?" Yana mulai ingin tahu.


"Bisa, tapi hati-hati di dalamnya banyak pria asing." jawab Febby.


"Ah tidak menarik, aku kira perempuan semua." ucap Yana.


Febby geleng-geleng kepala. "Tidak mungkin kamu ada, kalau di dunia perempuan semua."


Malam hari pukul 20.00.


Tasya dan Devin melihat Kaila yang sedang membereskan barang-barang. Kaila hendak pergi ke luar kota, untuk mengikuti kegiatan kemah.


"Eh, besok lusa Kak Yana bisa temani aku tidak?" tanya Kaila.


"Kamu mau ditemani kemana sayang." jawab Yana.


"Aku mau minta temani kemah, karena itu kegiatan di sekolah." ujar Kaila.


"Bisa saja si, asalkan Kakak ada temannya." Yana memberikan persyaratan jitu.


"Yana ditemani sama Chaka saja iya." sahut Devin.


"Papa, aku ditemani sama Febby saja." jawab Yana.


"Tidak boleh, harus laki-laki yang menemani kamu." Devin menegaskan tindakannya tersebut.


"Kalau gitu, aku minta temani Ronal saja. Dia pria yang buta, tapi baik banget kok." jawab Yana.


Devin sebenarnya tidak setuju, karena cara tersebut tetap dikatakan keliru. Yana mempunyai suami, tapi ditemani oleh pria lain. Namun mau bagaimana lagi, Devin tidak bisa memaksa Yana bersama Chaka. Sudah cukup memaksanya menikah, tanpa keinginan dari dalam hatinya.