Loven Draft

Loven Draft
Kedatangan Polisi



Dua polisi datang ke rumah Devin secara dadakan. Mereka terlihat berpakaian rapi, dan berdiri tegap. Bersamaan dengan itu Chaka keluar, dengan Yana yang berdiri di belakangnya.


"Saudara Chaka, anda diduga terlibat dalam penggelapan uang untuk lelang." ujar polisi.


"Maaf Pak, aku tidak melakukan apapun. Aku membeli jas itu, dari tuan Baskoro." jawab Chaka.


"Jelaskan saja di kantor kami, mari ikut!" Polisi itu mengayunkan telapak tangan kanannya ke bawah.


"Baiklah, aku ikut kalian." Chaka terpaksa menuruti, untuk diintrogasi detail.


Yana bingung sendiri lihat polisi, yang memborgol tangan Chaka. Padahal sudah bersedia ikut, dan tidak kabur juga. Yana masih kepikiran dengan kalimat, yang sempat Chaka utarakan di kantor.


”Tidak romantis, mengungkapkan perasaan kok di kantor.” batin Yana.


"Papa apa tidak bisa menolong Chaka?" tanya Yana.


"Mana bisa, status dia bukan sebagai menantu Sebastian. Papa hanya memperkenalkan dia, sebagai orang penting terpercaya dalam perusahaan." jelas Devin.


"Hmmm... aku ingin menolongnya." Yana mengutarakan maksud sebenarnya.


Tasya menepuk pundak Yana. "Nah, begitu juga bagus. Kalau kamu peduli padanya, segeralah cari cara membebaskannya dari tuduhan."


"Aku punya bukti, tapi sayang dikeluarkan. Dia terlihat sangat rela dibawa oleh polisi, bahkan tidak melakukan pergerakan. Kalau butuh bantuan, aku pikir dia bisa mengatakannya." Yana menggerakkan pundaknya, ke kanan dan kiri.


"Ayolah Yana, bantu sekarang juga." Memaksa, pakai acara cubit-cubit pipi. "Dia suamimu, jadi cepatlah bebaskan dari kantor polisi." Tasya menarik baju Yana, sambil menggoyang-goyangkan lengannya.


Yana akhirnya pergi ke kantor polisi, atas desakan mama dan papanya. Tasya dan Devin sengaja ingin Yana yang paling mencolok, dalam menunjukkan rasa peduli terhadap Chaka.


"Semoga jadian, semoga segera beri cucu." Tasya komat-kamit, sudah seperti Mbah dukun membaca mantra.


"Ini aku hanya bergumam lirih, bagaimana mungkin kamu bisa mendengarnya." Tasya melirik heran ke arah Devin.


Sementara Chaka di kantor polisi tetap menjelaskan kalimat yang sama. Pernyataannya tidak berubah sama sekali, mengenai uang yang diterimanya.


"Kalau begitu, berikan kontak tuan Baskoro." ujar polisi.


"Maaf Pak, aku tak menyimpannya." jawab Chaka.


Yana sudah sampai di kantor polisi, lalu menyerahkan bukti di meja polisi. Rekaman tentang acara lelang itu diselidiki, dan akan dicari orang-orang yang terlibat dalam kejahatan.


"Seharusnya, dengan bukti ini tuan Chaka sudah bisa dibebaskan dari tahanan." ujar Yana.


Polisi berdiri tegak, lalu berjalan mendekat ke arah Yana. "Tidak bisa tawar menawar, harus diperiksa sampai tuntas."


Yana sudah menjauh sejak tadi, sebelum posisi tubuh polisi itu didekatnya. "Bagaimana, bila aku yang menjamin dia tidak akan kabur."


"Nona Yana, tuan Chaka ini tidak ada hubungannya denganmu." jawab polisi itu tegas.


Yana akhirnya memilih menemani Chaka, dan rebahan di kursi tunggu. Chaka merasa kasian pada istrinya, saat tidur terlihat menggigil. Chaka membuka jasnya, lalu menutupi tubuh Yana.


"Tuan Chaka, rekan kami telah menyelidiki bahwa tuan tidak bersalah. Silakan jika ingin pergi, kami bebaskan" ujar polisi, sambil mengulurkan tangannya.


Chaka menerima uluran tangan dari polisi. "Terima kasih Pak." jawabnya datar, tak merubah ciri khasnya ketika bicara.


Chaka tidak tega membangunkan Yana, jadi digendong saja tubuh istrinya sampai ke parkiran mobil.