Loven Draft

Loven Draft
Menemukan Tempat Tinggalnya



Chaka duduk termenung di depan jendela, dengan pikiran menari-nari ke tempat kedai kopi yang sudah dikunjungi. Sesekali tangannya membuka buku resep, mengalihkan ke halaman lain.


"Buku ini untuk kamu memulai bisnis sayang, aku akan mengajarimu dengan senang hati." ujar Chaka.


"Memangnya nona Yana mau, dia 'kan sedang marah sekarang." jawab Belko.


Yana membawa cangkul ke kuburan, dan Kaila serta Kaihan melarangnya. "Eh, tidak baik Kak." ucap keduanya, secara serentak.


"Apanya yang tidak baik? Kalau kuburannya digali, Kakak Chaka tidak bisa pura-pura lagi."


"Bukankah wajahnya hangus terbakar, sudah tidak bisa dilihat jelas." ujar Kaihan.


"Dik, tapi aku penasaran dengan rahasia pengawal Belko. Dia mengirim video Chaka ke Bibi Een." jawab Yana, memasang raut wajah sebal.


Yana menelepon pengawal Belko berkali-kali, karena dari tadi pesannya tidak dibaca. Bukan karena tidak tahu, namun sengaja tidak dilihat. Begitulah kira-kira Yana menduganya, dengan kondisi wajah sekarang berkeringat.


"Sulit sekali dia diajak bertemu, aku ingin mengetahui tempat tinggalnya." ujar Yana.


"Kalau gitu, kita lacak dari nomor saja." jawab Kaila.


"Aku tidak tahu caranya, bukan ahli dalam bidang internet." Yana lesu.


"Aku punya kenalan yang bisa melakukan pelacakan, dia sudah biasa melakukan itu di warnet. Bagaimana, kalau kita meminta bantuan dia." Kaihan mengusulkan idenya, agar Chaka cepat ditemukan.


Kaihan berhasil membangkitkan semangat Yana, yang sempat padam sejenak. Mereka berjalan ke arah villa Chaka bersembunyi, setelah mendapatkan alamat tempat tinggalnya dari warnet. Yana mengepalkan tangan, sampai mendobrak pintu.


Pengawal Belko terburu-buru menghampiri Chaka. "Gawat, nona Yana ada di luar."


"Sudah pasti dia menggunakan sistem pelacakan." Pengawal Belko memberitahu dengan santai.


Chaka menepuk topi di kepala Belko. "Kamu jangan berlagak keren, ini merupakan kesalahan kamu juga. Mengapa harus mengirimkan pesan ke Bibi Een segala." celotehnya.


Yana berteriak di depan pintu. "Chaka, aku tahu kamu ada di dalam. Kamu sengaja bersembunyi, karena tidak mau melibatkan aku. Namun seperti ini, semakin menunjukkan bahwa aku tidak penting. Bisa-bisanya, kamu tidak percaya pada istri sendiri." Menendang pintu dengan emosi.


Tidak ada jawaban, sampai pengawal Belko membuka pintu. "Nona, mengapa datang ke sini? Apa ingin membawa Bibi Een, biar semakin dekat denganku." Tersenyum, seolah tidak menyembunyikan apapun.


"Aku ingin melihat suami ku, dia pasti masih hidup." ujar Yana.


"Silakan geledah ke dalam, bila nona menemukan orang yang dicari." Pengawal Belko menundukkan sedikit kepalanya, sambil mengayunkan tangan mempersilakan.


Yana, Kaila, dan Kaihan memeriksa seluruh tempat. Sampai ke gudang paling belakang, dan tidak ada yang boleh lepas dari pemeriksaan. Tumbuhan-tumbuhan juga diperiksa dengan detail, takut ada Chaka yang mengambil kesempatan untuk sembunyi.


Tiba-tiba Yana merasa mual, jadi terpaksa harus pergi. Chaka sebenarnya kasian, namun tidak ingin ketahuan. Menurutnya, ini bukan waktu yang tepat. Dia harus membuat musuhnya lengah, terlebih dulu.


"Kakak, ayo kita ke rumah sakit saja." ajak Kaila.


"Mungkin Kakak hanya kembung, tidak perlu repot seperti itu." jawab Yana.


"Nah, aku tahu yang sebenarnya. Jangan-jangan, Kakak sedang hamil." Kaila hanya menduga saja.


"Iya sudah, kita periksa ke dokter." Yana mengikuti langkah kaki Kaila dan Kaihan.