
Tuan Bayoli ditangkap atas kasus anjloknya saham perusahaan Alexander. Diduga dia melakukan kecurangan, dengan memanipulasi sejumlah data penting. Seperti laporan keuangan, yang direkayasa labanya. Seharusnya mendapatkan nilai rupiah yang besar, malah menjadi berkurang jumlah dua kali lipat.
"Apaan kalian, main tangkap orang yang tidak bersalah." gerutu Bayoli.
"Bagaimana bisa dikatakan tidak bersalah, sedangkan anda ini pintar berkedok manis muka." jawab pengawal Belko.
"Benar, akui saja bahwa anda adalah Papa Ronal." ujar detektif Melvi.
"Jika aku papanya, apa untungnya menangkapku." jelas Bayoli.
Belko terus memegangi Bayoli bersama detektif Melvi. "Anda terlibat dalam rencana pembunuhan orangtua Chaka. Inilah masalah utamanya, yang harus dipertanggungjawabkan di depan hukum."
"Oh, aku tidak bersedia menuruti keinginan kalian." jawab Bayoli.
"Kami bisa memaksa supaya anda bersedia." detektif Melvi menyuruh satpam membawa Bayoli. "Cepat ringkus dia!"
"Baiklah, akan kami bawa ke kantor polisi." Salah satu pria berbadan kekar menyeret Bayoli, bersama dengan teman-temannya.
Belko dan detektif Melvi bertepuk tangan ke atas udara, menyaksikan Bayoli yang hendak dibawa dalam mobil.
Febby dan Artha segera membawa kopernya keluar kamar. Mereka tersenyum sambil mengedipkan mata, karena telah merencanakan semuanya. Mereka ingin kembali ke kota, agar tidak dikekang orangtua Febby.
Thara memegang lap motif kotak-kotak. "Kalian sudah mau pergi saja."
"Nyonya Thara yang terhormat, bagaimana mungkin menetap di sini. Kami banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan." jelas Febby.
Dharmo membawa koper besar. "Anakku, aku tidak akan mengkhawatirkan kalian lagi. Mulai hari ini, Ayah dan Ibu akan siap siaga."
"Ayah, mengapa ikut kami ke kota. Nanti tidak ada yang mengurus ternak dan ladang." Febby mencari alasan, mencegah mereka pergi.
"Tenang saja, semua ini sudah kami titipkan. Justru kamu di kota dengan pria muda asing, hati Ayah tidak akan tenang."
"Hmmm... terserah kalian deh. Aku yakin, apapun yang kalian lakukan adalah terbaik." Memilih mengalah, malas berdebat lagi.
Pada malam harinya, Febby singgah ke rumah Yana. Orangtuanya juga ikut, karena ingin mengetahui sahabat dekat Febby. Malam itu mereka bakar-bakar jagung, Tasya dan Devin juga ikut.
"Kalian datang jauh-jauh, kami belum mempersiapkan sambutan hidangan." ujar Devin.
"Tidak perlu repot-repot, memang kami yang sengaja tidak memberitahu." jawab Dharmo.
"Yana, sekarang ponakan ku sudah berkembang bukan?" Febby tersenyum ke arah sahabatnya.
"Ah iya, sebentar lagi bisa menendang perut ibunya hingga mekar." jawab Yana.
"Yana, pantangan ibu hamil itu banyak loh." ujar Tasya.
"Hmmm... apa saja Ma?"
"Salah satu di antaranya, tidak boleh minum alkohol, obat-obatan dosis tinggi, jangan lupa mencuci tangan, mandi air panas, makanan mentah, merokok, ikan dengan kandungan merkuri, memakai kutek kuku, kafein, aktivitas berat, kalori yang berlebihan, dan banyak lagi. Makanya, kamu harus hati-hati." jelas Tasya.
"Iya Mama, aku akan menjaga cucu kalian sebaik-baiknya." Yana tersenyum.
Tiba-tiba muncul Kaila, yang baru saja pulang. Dia tampak kelelahan, karena mengikuti Olimpiade London.
"Sayang, kamu kenapa tidak memberitahu kalau hari ini pulang?" tanya Tasya.
"Maaf Ma, ini juga mendadak sekali. Kepala sekolah menyebalkan, padahal aku ingin lebih lama." jawab Kaila.
"Hahah... pasti ulah Papa kamu." Tasya menebak saja.
"Benar, Papa mencegah pasangan terlalu sering berduaan." Devin senyum, tanpa merasa bersalah.