
Kaihan mendekat ke arah telinga Kaila. "Kenapa dia begitu berbeda, hari ini ikut dengan kita. Apa kepala sekolah mengizinkannya begitu saja?"
Kaila tersenyum. "Tentu saja, dia akan menjadi pemandu sorak."
"Maksudmu, dia akan mendukung kita?"
"Iya, ada teman-teman lain juga ikut." jawab Kaila.
"Bukankah, biaya hanya ditanggung untuk yang berprestasi." Kaihan bingung.
"Aku anak konglomerat, apa yang tidak bisa aku lakukan." Kaila tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.
Pesawat terus saja berjalan, melintasi bumi di bawah langit. Udara semilir angin tidak terasa, karena kaca pesawat tertutup rapat.
Yana bertemu dengan Ronal lagi, dan masih saja berpura-pura membawa tongkat. Yana tahu dia tidak buta, karena selama ini sudah menangkap gelagatnya.
Yana menyapa dengan ramah, mengikuti permainan Ronal. "Hai!"
"Hai juga." jawab Ronal.
"Jalan ke mall berdua saja apa baik?" tanya Yana.
"Tentu saja, kita 'kan ingin belajar alat musik gitar." jawab Ronal.
Jalan beberapa langkah, telah membuat perut Yana keram. Ronal di belakangnya diam-diam mengangkat jarum suntik, namun mendapat serangan tinju dadakan.
"Siapa yang telah meninjuku?" Berpura-pura meraih tongkat.
Brak!
Yana menendang tongkatnya lebih jauh. " Jangan munafik kamu, berdirilah tanpa tongkat. Kamu itu tidak buta, kamu benar-benar merepotkan." Yana menunjuknya, dengan tatapan tidak suka.
"Hahah... pintar juga sandiwara pasangan ini. Ternyata, kamu pura-pura meninggal iya Chaka." Ronal memiringkan bibirnya.
"Sebenarnya ingin bersandiwara lebih lama. Melihatmu terlalu baik pada istriku, jadi tidak sabar untuk muncul." jelas Chaka datar.
Berbicara dalam batin, masih saja merasa tidak adil. ”Kenapa Chaka malah muncul, tanpa konfirmasi terlebih dulu. Katanya mau menangkap pelaku, yang sudah membunuh orangtuanya.”
"Kamu memintaku mundur sejak awal juga, aku tidak akan pernah bersedia. Dia sudah menjadi istriku, cukup aku atasi sendiri." jawab Chaka, dengan tegas.
"Aku bisa membantumu bercerai lebih cepat." ujar Ronal.
"Tuan Ronal tidak perlu repot-repot, aku tidak berniat menceraikannya." jawab Chaka.
"Kalau cinta, tentu tidak merasa repot. Aku malah senang melakukannya." Ronal tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Tuan Ronal, kesenanganmu mengusik kesenanganku. Bagaimana aku bisa tenang, pasti menolak setuju."
"Tuan Chaka, biarkan aku merebut istrimu. Aku sudah terlanjur cinta, aku jamin dia bahagia."
"Hanya orang bodoh, yang mau memberikan pasangan hidupnya. Aku tidak mau masuk kategori yang disebutkan." jawab Chaka.
Chaka segera membantu Yana, yang sudah meringis sejak satu menit yang lalu. Ronal hendak memberikan tinjuan, namun tangannya ditahan oleh pengawal Belko.
"Jangan mengganggu tuan Chaka, lebih baik menyerahkan diri." ujarnya.
"Hahah... memangnya tuan Chaka punya bukti." jawab Ronal menyepelekan.
"Tuan Ronal, mana bisa dia tenang tanpa bukti. Kami sudah mengumpulkan informasi dari jauh-jauh hari." sahut detektif Melvi.
"Kurang ajar kalian, lepaskan aku." Ronal berteriak histeris, seperti hilang akal.
Dokter telah memberikan resep obat, untuk menghilangkan rasa keram perut. "Ini parasetamol murni tanpa kafein, jadi aman untuk Ibu hamil."
"Terima kasih dokter." jawab Yana.
Sepanjang koridor mereka berbicara, dengan posisi tubuh Yana yang digendong. Kali ini masih terasa ringan, karena kandungannya belum besar.
"Sayang, apa yang kamu rasakan?" tanya Chaka.
"Aku baru mengalami ini pertama kali, sakit di bagian perut bawah dan punggung." jawab Yana.