
Pertengkaran sengit terjadi di dalam mall, sampai keduanya diamankan oleh satpam. Mereka diseret keluar, karena membuat kegaduhan.
"Hih, pria ini tidak bisa bertengkar secara dingin apa?" tanya Kaila.
"Kaila yang cantik, laki-laki itu berbeda dengan wanita. Jangan kamu samakan, karena mereka suka adu otot." jawab Yana sembarangan.
"Tapi, kadang juga wanita suka saling menjambak rambut." Kaila teringat dengan drama terbaru yang ditontonnya.
"Menurutku, bertengkar seperti itu kurang halus. Jadi, terkesan kekanak-kanakan." jawab Yana.
"Lalu, seperti apa bertengkar yang membuat kita tidak terlihat kalah?" Kaila ingin tahu, jadi penasaran.
"Dengan cara mematahkan perkataan lawan." Yana mengedipkan bulu matanya yang lentik.
"Lawan debat membuatku lelah, kita juga bukan pengacara hukum." Kaila teringat dirinya yang berada di kejauhan, memendam kesal saat Isruni bersama Kaihan.
"Kalau begitu, kamu besarnya jadi pengacara saja." Langsung cekikikan tidak jelas setelah bicara.
Chaka merasa pegal-pegal, karena tidur di ranjang beralaskan bambu. Mau tidak mau, karena dia sedang bersembunyi.
"Aku tidak terbiasa mengurung diri di dalam ruangan." Meregangkan otot-otot lengan, dengan bergerak ke kanan dan kiri.
"Aku tahu, tuan setiap hari pergi bekerja. Belum lagi, ukuran ranjang yang jumbo. Mana bisa tahan, tinggal di sini begitu lama." jawab detektif Melvi.
Detektif Melvi membuatkan air hangat untuk tuan Chaka. Bagaimanapun juga, dia adalah klien pentingnya. Belum lagi, detektif Melvi berutang budi pernah ditampung. Jadi sekarang impas, pernah saling bertukar penginapan.
Chaka meraih gagang gelas, lalu meneguk air. "Benar, terasa asli kelezatannya."
"Waktu di luar negeri, aku sedikit belajar menggunakan mesin kopi." Detektif Melvi mengambil minyak urut, lalu memberikannya pada Chaka. "Pijatlah tubuhmu menggunakan minyak ini, mungkin sakit di rahang dan leher akan mereda." Menarik kursi, lalu mendudukinya.
Chaka melihat merek pada minyak tersebut. "Tidak pernah mengenal produk ini, dari mana mendapatkannya?" Gosok-gosok di leher, lalu jari-jarinya bergerak menekan.
"Ini khusus dari balai beladiri di Tiongkok, sangat terkenal khasiatnya. Murid-murid di sana, kalau sudah latihan kecapekan. Mungkin daging rasanya remuk, namun malam hari rutin menggunakan minyak urut." Detektif Melvi sedikit menarik sudut bibirnya, melihat Chaka yang geli karena tangannya lengket dan berbau.
Yana menusuk garpu pada tepung bulat-bulat. Benar-benar menggugah selera, melihat kuah pedas di sekeliling teflon. Belum lagi suwiran ayam, yang telah dimasak sempurna. Membuat lidah semakin ganas dalam melahapnya. Ada telur setengah matang, mie, dan selada mentah.
"Benar ucapan kamu Kaila, bahwa ini enak sekali," ucap Yana.
"Tidak ada masalah, yang tidak dapat dituntaskan dengan hotpot." Merentangkan tangan ke sembarang arah, sampai mengenai mata adik kecil perempuan yang lewat.
"Hua... mataku perih sekali." Berteriak kencang, sambil menangis tersedu-sedu.
Kaila melihat semua orang memperhatikannya. "Ayo Kak kabur." Kaila beranjak, lalu Yana mengikutinya.
"Kaila, kamu harus tanggungjawab." Berusaha menyusul adiknya yang nakal.
"Aku tidak mau, aku tidak bersalah. Dia sendiri yang tidak hati-hati, sembarangan lewat di sebelahku." Nafas ngos-ngosan, namun masih berbicara.
Mereka seperti dua anak kecil polos, bermain kejar-kejaran menuju ruang belanjaan pokok. Ingin menangkap Kaila, malah keliru memeluk beras. Yana tetap mengejarnya, namun Kaila juga tidak berhenti.