Loven Draft

Loven Draft
Sidang Di Pengadilan



Pengawal Belko dan Chaka duduk di emperan, sambil menikmati secangkir kopi. Tidak lupa menyediakan roti gandum, tepat berada di sebelah gelas masing-masing.


"Beruntung ada mertua cerdas, yang memberitahu info tuan Bayoli." ujar Chaka.


"Eh, mertua kamu pintar membanggakan diri. Padahal memaksa mengorek informasi dariku." jawab Belko.


"Mengapa tidak memberitahu, beraninya kamu berkhianat." Chaka menepuk lengan Belko.


"Maaf tuan Chaka, aku lupa." Nyengir tanpa canggung.


"Ingin aku tarik pakai tang gigimu." celetuk Chaka, dengan kesalnya.


"Aww... baru mendengar langsung ngilu." Suara menjerit, yang terdengar seperti tikus terjepit.


Pengawal Belko mengambil roti gandum, lalu mengunyahnya dengan perlahan. Benar-benar lezat, ditemani bintang-bintang malam. Gurih setiap gigitannya, tetap membuat Chaka berhenti.


"Aku merasa kesal, baru mengetahui hal ini." ujarnya.


"Maafkan aku tuan Chaka." jawab Belko.


Thara dan Dharmo tiba-tiba muncul, mereka membawa dodol lembut. Sekarang Dharmo menari kuda lumping, dan Chaka menari kuda lumping juga.


"Wow... baru bertemu langsung satu frekuensi. Sama-sama penggemar tari kuda lumping." ungkap Belko.


"Tentu saja, ini membuat tubuh lebih segar. Setiap gerakannya mengandung makna, yang bisa dirasakan oleh hati. Mana bisa dijangkau nalarmu, yang setiap hari memikirkan bibi Een." Tersenyum balas dendam, mempermalukan depan orang lain.


Keesokan harinya, Yana menemani Chaka ke pengadilan. Kasus sudah dilaporkan ke polisi, agar dibuka kembali untuk disidang. Saat dipersilakan untuk bicara, Chaka tidak melewatkan semua cerita dari awal hingga akhir. Ketua hakim mencatat yang disebutkan olehnya, untuk dipertimbangkan benar dan salah.


"Kami membunuh atas perintah tuan Ronal." ucap saksi pertama dua orang.


"Aku meracuninya atas perintah nona Isruni." ucap pelayan restoran yang sempat di penjara waktu itu.


"Aku bisa menerima kegagalan, tapi aku tidak menerima pengkhianatan!!" ujar Chaka.


"Tuan Chaka terlalu berbicara meninggi, hubungan kita hanya rekan kerja." jawab Bayoli.


"Diam semua! Dilarang berdebat disaat sidang pengadilan." ucap ketua hakim.


"Maaf ketua hakim, harusnya aku bisa mengendalikan perasaan sendiri." jawab Chaka.


Tiba-tiba muncul istri Ronal, dia membenarkan tentang dirinya yang diasingkan. Ronal heran dengan istrinya, mengapa mau mengakui yang telah terjadi. Ingin rasanya dia emosi meluap-luap, dengan menarik Yana secara tiba-tiba.


"Kamu pengkhianat sayang!" ujar Ronal.


Istri Ronal mengangkat sebuah buku harian. "Ini buku milikmu, cukup membuktikan siapa yang berkhianat lebih dulu. Kamu selalu menceritakan Yana Ananta, sebagai seseorang baru yang kamu cinta. Aku rasa, hari ini cukup membalasmu."


"Aku tidak seperti itu, ada kesalahan penulisan dalam buku tersebut." Ronal mencari alasan.


"Hahah... bisa saja membela diri." Chaka tertawa mengejek, setelah berbicara.


"Diam kamu! Jangan ikut campur dalam urusan rumahtangga ku." Ronal menunjuk Chaka, dengan raut wajah tidak senang.


Tiba-tiba ketua hakim mengetuk palu, lalu memutuskan bahwa Ronal yang bersalah. Polisi segera menangkapnya, namun Ronal melakukan perlawanan. Dia tidak mau diborgol, lalu mendekam dalam penjara.


"Chaka, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia." Ronal segera berdiri dan berlari menarik Yana.


"Lepaskan aku!" Yana berteriak.


Pengawal Belko dan teman-temannya hendak menembak, namun Ronal mengangkat senjata di dahi Yana. "Aku akan membunuh istri tuan muda kalian, jika berani maju selangkah saja." Mengancam semua orang.