
Febby makan daging sapi dengan buru-buru, benar-benar menikmati kelezatannya. Namun lebih enak perlahan-lahan, biar rasanya tidak cepat memudar. Seperti itulah Yana, makan dengan santainya. Dia bersiap mendengarkan ocehan dari mulut sahabatnya.
"Sudah lama tidak makan ini, menghabiskan banyak waktu pengujian survei, mengadakan promosi untuk menarik peminat, mengurus kencan langgeng, mengumpulkan testimoni, dan terakhir kali kita makan-makan saat menyiapkan resepsi pernikahan." celoteh Febby. "Akhirnya kesampaian juga, menyantap makanan kesukaan." Comot-comot dengan sumpit, sampai tak terasa menjatuhi baju Artha. "Upss... aku tidak sengaja. Maaf iya sayang, mari kita bersihkan ke toilet." Sebagai rasa tanggungjawab, yang dilakukan seharusnya.
"Tidak perlu, kamu tunggulah di sini." Artha beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki ke arah toilet.
"Dia tidak marah 'kan?" Menatap Yana.
"Tidak, mungkin kamu dapat toleransi." Yana menusuk daging lembut itu, dengan garpu.
"Aku ingin memasak makanan sendiri, andaikan resep restoran ini tidak rahasia." Febby melihat pasta, yang masih dikelilingi saos. "Nyam... nyam..." Makan dengan bersuara.
"Kalau semua orang tahu, restoran ini bisa ditiru. Lalu dengan mudah, ada di mana-mana. Usaha besar seperti ini, harus ada menu andalan. Setidaknya beberapa saja, yang berbeda dengan restoran lain." Yana meraih gelas motif bunga, lalu meneguk air minum sampai kerongkongannya.
"Makanlah dengan serius, makanan tidak suka dipermainkan. Iya sama sepertiku, tidak suka diduakan." ujar Chaka.
"Dia makanan, jangan disamakan denganmu." Mendorong pipi Chaka pelan.
"Eh, acara bulan madu kalian kemarin bagaimana?" tanya Febby penasaran.
"Seru sekali, cuma paling sebal waktu ketinggalan Kapal. Gara-gara Chaka mengemil melulu, akhirnya aku jadi korban ketiduran. Belum lagi kaki pegal, sebelumnya dikejar-kejar penjahat. Tidak ketinggalan layangan putus, saat seru-serunya bermain." jelas Yana.
"Hahah... cerita kalian lucu sekali. Cocok menjadi drama anime, cepat beritahu Ronal." Febby tertawa lepas, dengan berbicara normal.
"Jangan berikan istriku, pada pria gila itu!" Chaka sebal dengan Febby, yang memberikan istrinya sebagai umpan.
"Kaihan, aku mau mengundang kamu. Namun, bisa ajak Kak Chaka tidak?" tanya Isruni.
"Untuk apa dia ikut, memangnya kamu kenal?" Melempar kalimat yang menimbulkan jawaban.
"Tidak kenal, hanya saja sering lihat dia mengantar kamu. Aku sudah lama ngefans sama dia." Isruni tersenyum malu-malu.
"Sebaiknya kamu jangan melangkah lebih jauh, dia mana mau sama anak SMP. Lagipula dia sudah punya istri yang cantik, namanya Yana Ananta. Memang lebih cocok si, karena umur mereka tidak terpaut jauh." Malah sengaja menjelaskan pasangan Chaka di depan Isruni.
"Please, sekali ini saja. Suruh Kak Chaka datang, kamu yang memintanya untukku. Mau iya, aku traktir deh kalau berhasil." Merayu Kaihan, agar mau menurutinya.
"Jangan salahkan aku, kalau membawa Kaila. Jika ditraktir, aku tidak mau diperhitungkan." Dikasih hati, malah minta jantung.
Malam harinya, Chaka pergi bersama Kaihan. Sesuai kesepakatan, datang ke restoran mewah. Ternyata Chaka membawa banyak pengawal, dan di luar dugaan terjadi keributan.
Pyaar!
Salah satu pengawal memecahkan mangkuk tiba-tiba, membuat semua orang menoleh ke arah meja Isruni. Pengawal melihat hal mencurigakan, pada kue pembuka acara.
"Sebaiknya, tuan jangan makan sembarangan. Biar kami periksa di laboratorium, untuk memastikan aman atau tidak." ucap ketua pengawal mewakili.
"Baiklah." jawab Chaka.