
Sampai ke dalam mobil, dan meletakkan tubuh Yana di kursi sofa, malah ditarik tiba-tiba pundaknya padahal nyaris beringsut. Chaka tidak sengaja mencium bibir Yana, saat terburu-buru menahan tubuh agar tidak menimpanya. Yana membuka kedua bola matanya, bersamaan dengan itu Chaka berusaha mengalihkan kepalanya.
"Kamu mencari kesempatan dari kejadian ini." Yana menunjuknya, menyipitkan mata curiga.
"Hih kamu ini, kenapa pintar sekali memutarbalikkan fakta. Waktu Kencan Langgeng kamu yang mencium aku. Sekarang juga, kamu ceroboh lagi." jawab Chaka, dengan jujur.
"Lagipula yang memulai mengusik tawon itu kamu. Sekarang juga aku lelah dan tertidur, karena menunggu kamu diintrogasi." Yana menyalahkan balik.
Tiba-tiba saja, langit dipenuhi kembang api. Malam itu tidak tahu mengapa, begitu ramai orang-orang keluar. Chaka menarik tangan salah satu pria, yang sedang lewat di depan kantor polisi.
"Ada acara apa di kota sekarang? Mengapa begitu ramai para manusia keluar?" tanya Chaka.
"Ini acara pertunjukan lumba-lumba. Kalau penasaran, langsung saja datang ke sini." Menyerahkan brosur pada Chaka.
Chaka menerimanya, lalu mengajak Yana ke sana. Mobil melaju dengan kekuatan sedang, dan sampai ke lokasi. Chaka melihat nama perusahaan dengan huruf besar pada brosur. Tentu dia tahu, bahwa itu perusahaan Artha.
Baru sampai, kaki Yana merasa kesemutan. Chaka duduk berjongkok, sambil menepuk punggungnya. Yana naik dan mengalungkan tangan di leher suaminya. Mereka berdiri di depan kolam lumba-lumba, sambil bermain kembang api. Romantis sekali, pasangan serasi, begitu kata ibu-ibu yang lewat.
"Hei, kamu tidak malu dilihat sama manusia sekeliling?" Yana memukul-mukul pundak Chaka, meminta untuk diturunkan.
"Disaat romantis seperti ini, kamu masih bisa bicara perihal malu." jawab Chaka, sambil bercanda.
"Sudahlah, kamu tidak cocok jadi raja gombal. Tidak sesuai dengan sikapmu yang biasanya." Yana tersenyum saat mengatakannya.
Chaka melihat lumba-lumba perempuan berdekatan dengan lumba-lumba laki-laki. Mereka sangat romantis, melakukan tindakan yang terlihat romantis.
"Dih, mereka berciuman." Yana sempat meledek dua binatang tersebut, sambil sembunyi kepala di balik kepala Chaka.
Febby mengangkat vas bunga dan hampir jatuh, lalu tangan Artha menangkapnya tepat sasaran. Febby melihat dengan terpesona, tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Awalnya begitu cuek, dan tidak tertarik sama sekali.
"Terima kasih, karena telah menolongku." ucap Febby
"Iya, sama-sama." Artha memberikan bunganya pada Febby. "Sekali ini beruntung, selanjutnya tidak tahu. Maka berhati-hatilah, saat aku tak ada didekat kamu."
"Baiklah, biar aku susun di tempat lain." Febby langsung mengambil bunga di lengan Artha, lalu memajang di tempat yang seharusnya.
Yana tersenyum saat menghidupkan kembang api, kakinya melompat-lompat pelan. Chaka menepuk pundak Yana, lalu merangkulnya dengan lembut.
"Kelak apa yang kamu lakukan, kamu harus melibatkan aku selamanya." pinta Chaka.
"Kamu mengapa harus bersikap terus terang? Jangan terburu-buru, kita juga belum lama memulai hubungan sandiwara." jawab Yana.
"Biar semuanya lebih jelas, tidak saling menerka lagi." ujar Chaka, dengan serius.
"Aku tidak perlu menerka, tidak penting juga dibahas." jawab Yana.
"Jadi, kamu bersikeras memastikan kita akan bercerai?" Chaka menatap dua bola mata Yana yang cerah.
"Tidak, aku menerima tawaranmu menjadi istri sungguhan. Hanya saja, aku perlu waktu untuk melaksanakan kewajiban." jawab Yana.
Chaka tertawa lucu, mendengar alasan Yana menunda permintaannya. Hanya karena khawatir, dengan perihal ini. Yana mendorong tangan Yana, sambil kesal-kesal senyum.