
Yana memeluk pinggang Chaka, sambil memperhatikan pemandangan luar dari kaca pesawat. Chaka memeluk Yana, sambil melihat apa yang menjadi objek fokus istrinya.
"Sayang, aku kok merasa seperti ada yang mengawasi kita iya." ucap Yana.
"Aku juga merasa begitu, namun alangkah baiknya jangan diperhatikan." jawab Chaka.
Febby bermain tiup balon, begitupun dengan Artha. Kaila lewat sambil membawa jarum, dan dicoblos balon mekar milik Artha. Kaila tertawa-tawa, saat melihat raut wajah marah Artha.
"Sini kamu anak nakal, tidak akan aku biarkan kamu lolos." ujarnya kesal.
"Tangkap aku kalau bisa." Kaila menjulurkan lidahnya, menantang Artha untuk menangkapnya.
"Kamu itu sekolah, kenapa pulang pagi sekali." Artha menunjuknya.
"Aku malas sendirian di kelas, karena Kaihan sedang rapat di ruang OSIS. Ada rapat guru, jadi dia sibuk." jawab Kaila.
"Kamu menyerah saja, biar aku beritahu cara menghadapi orang ketiga." Artha mengajukan hal menarik.
"Aku tidak mau, cara Kakak ipar sepupu belum tentu berhasil." jawab Kaila, meragukan tawaran Artha.
Turun dari pesawat dengan terburu-buru, karena dikejar oleh beberapa orang laki-laki. Mereka mendorong penumpang di depannya, sambil mengancam dengan senjata pistol.
"Cepat awas, atau kalian aku tembak."
"Cepat, cepat, jauhkan tubuh anakmu." Melihat anak kecil berjalan menggunakan tongkat, bersama ibunya.
Chaka dan Yana berlari ke sebuah pasar yang ramai masyarakat sekitar. Dari tadi sengaja menyamar menjadi pembeli, mengacak-acak sayur tapi tidak dibayar juga. Penjual akhirnya marah, dan Chaka segera kabur.
Yana mengikuti Chaka berjalan menunduk, bersembunyi di meja jualan ke meja yang lainnya. Chaka mencampurkan ikan teri dengan ikan asin. Masih lagi mengambil hati ayam, lalu dicampurkan dengan kulit kambing.
"Aku juga tidak akan seperti ini, kalau keadaan tidak terlalu genting." jawab Chaka.
Awalnya penjual masih sabar, berusaha menahan emosi. Tapi pada akhirnya, dia marah juga.
"Kalian kalau tidak berniat beli, jangan mempermainkan dagangan ku. Mengapa diacak-acak." Berteriak, dengan menggunakan bahasa kebangsaan Korea.
"Aku tidak mengerti dengan yang dia bicarakan." jawab Yana.
Chaka menyeret tangan Yana, mengajaknya pergi ke tempat lain. Saat melewati lorong meja, Chaka memundurkan langkah kaki ke belakang.
"Gawat, masih ada penjahat itu." ujar Chaka.
"Sebenarnya mereka siapa? Apa yang sering mengirim teror pesan singkat padamu?" Tanah malah bertanya, tidak sesuai tempat.
"Mungkin saja, aku sudah mengutus seseorang untuk menyelidikinya. Namun sampai saat ini, belum diketahui dalang dari pengirim pesan." Chaka berbicara lirih.
"Aku yakin orang ini sangat licik, karena sulit diketahui informasinya." Yana menebaknya.
Tiba-tiba ada pedagang yang menegur mereka, karena bersembunyi di balik meja jualannya. "Kalian mau mencuri iya." Mengangkat sapu lidi, dan hendak memukul.
Chaka menangkisnya, agar tidak terkena tubuh Yana. "Kami tidak mencuri, kami sedang dikejar penjahat." menjawab dengan bahasa Korea.
Kelompok pria bertopi hitam itu mengejar Chaka dan Yana berlari. Namun tidak bisa menggunakan tembakan, karena banyak orang beraktivitas di pasar tersebut. Akhirnya kehilangan jejak, karena Chaka dan Yana bersembunyi dalam ruangan telepon.
"Apa yang kamu bicarakan tadi, aku benar-benar tidak paham artinya." ujar Yana.
"Aku bilang dia adalah istriku, dan aku sangat mencintainya." Chaka senyum-senyum sendiri, sengaja mengerjai Yana.