
Belty dan Whika saling pandang, bingung dengan perdebatan yang telah terjadi. Belty dan Whika merasa penasaran, namun sudah capek melontarkan pertanyaan.
"Kenapa mereka berdua tidak mau bicara, apa yang telah terjadi?" tanya Belty.
"Aku juga tidak tahu, mungkin terjadi salah paham." jawab Whika.
Dosen masuk ke kelas, memberikan tugas bahasa Inggris. Binazir selalu mengantuk, dengan pelajaran bahasa asing satu ini.
"Mengapa susah sekali, tidak seperti saat menguap." Binazir menyipitkan mata, melihat dosen Maymun menjelaskan.
"Binazir, tugas akhir semester yang belum dikumpul hanya kamu." ujar dosen Maymun.
"Aduh Bu, maafkan Binazir yang baru separuh mengerjakannya." jawab Binazir.
"Ibu ingin kamu selesaikan secepatnya. Sebagai wali kelas, Ibu menerima laporan dari dosen berbagai mata pelajaran. Mereka bilang, Binazir yang selalu mengumpulkan tugas disaat terakhir." jelas dosen Maymun.
"Binazir lumayan lamban Bu, namun soal komunikasi sosialisasi paling nomor satu di kelas." Binazir tahu kelebihannya itu unggul.
"Iya Binazir, tapi administrasi harus pintar bahasa Inggris. Bagaimana bila kamu ingin magang di perusahaan Shimpony, kalau tidak bisa melayani pimpinan luar negeri yang datang ke sana." ucap dosen Maymun.
"Baiklah Bu, Bina akan berusaha lebih giat lagi." jawab Binazir.
Baru keluar dari kelas, Aurin dikejutkan dengan kehadiran Bayu dan Dayu. Bayu dan Aurin mulai perang lagi.
"Perempuan menjijikkan!" teriak Bayu.
"Laki-laki gila!" teriak Aurin.
Dayu dan Binazir bingung saling pandang, lalu mengangkat kedua pundak serentak. Mereka tidak tahu, mengapa Aurin bertengkar dengan Bayu. Akhirnya Dayu menyadari, ternyata wajah Aurin penyebabnya.
"Pergi kamu! Enyah dari penglihatan!" Bayu mengusirnya.
"Kamu yang pergi, karena ini kelas administrasi." jawab Aurin.
Dayu langsung menarik lengan Binazir, dan berlari berdua menuju ke ruangan lain. Dayu dan Binazir tidak ingin mendengar pertengkaran, yang bukan terkait hal penting.
"Eh, kamu main ke rumah iya nanti malam." ujar Dayu.
"Memangnya ada acara apa." jawab Binazir.
"Malam nanti ayahku ingin membuat kejutan untuk ibuku." Dayu mengusap lembut kepala Binazir.
"Tentu saja aku akan hadir, orangtuamu merupakan orang terpenting di dalam hidupmu." Binazir tersenyum ke arahnya.
Pukul 19.00 Binazir mengenakan baju dress brokat berwarna merah muda. Dhisa membaca buku majalah, dan mengabaikan pandangan mata kecilnya. Situasi kosan hari itu, tidak seperti biasanya. Aurin tidak nyaman, namun diam saja.
"Bina, kamu hati-hati iya kalau keluar. Sekarang cuaca dingin, hujan gerimis melanda bumi." Aurin memberikan jaket, sungguh terlalu perhatian.
Binazir menerimanya. "Terima kasih Aurin, tapi aku tidak alergi terhadap cuaca. Kamu tahu 'kan, bahwa aku alergi bunga."
Binazir mengambil sepatu cantiknya. "Aku pergi dulu."
Setelah kepergian Binazir, Dhisa sibuk dengan yang ada dalam pikirannya. Di sana tampak Binazir yang sedang kencan, disebuah tempat mewah. Dhisa mengira Dayu akan menyatakan perasaan pada Binazir, malam itu juga. Dhisa menjerit seketika menangis, sungguh hal yang tidak ingin dibayangkan lagi.
"Aaa!" teriak Dhisa, dengan lantang.
Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, lalu Aurin berjalan membukanya. Dia terkejut tatkala mendapati Yakult yang berdiri. Aurin senyum, hampir bertepuk tangan. Namun dia tahan tidak bergerak, supaya kelupaan tidak menimbulkan malu.
"Pasti kamu datang ke sini untukku." ucap Aurin.
"Kamu salah paham, aku mencari Binazir." jawab Yakult.
"Dia baru saja pergi, memangnya kamu ada perlu apa mencarinya?" tanya Aurin penasaran.
"Aku ingin memberikan barangnya, waktu satu mobil sempat tertinggal." Yakult memberikan sebuah pita rambut.
Binazir sudah sampai rumah Dayu, lalu disuruh masuk. Vipco menyambut teman Dayu yang datang, lalu sembunyi untuk menyambut kedatangan Bimoli. Lampu dimatikan mendadak, saat target memasuki pintu.
"Mengapa rumah sangat sepi, ditambah lagi lampu mati." Bimoli sibuk keliling rumah, memanggil semua nama para penghuni.
Tiba-tiba lampu menyala, saat ada yang menutup mata Bimoli. Pandangan mata Bimoli menjadi gelap, lalu menoleh ke belakang.
"Surprise!" Vipco, Dayu, Bayu, dan Binazir merentangkan tangannya.
Bimoli tersenyum dengan mata berbinar-binar. "Mengapa membuatku terharu, ini benar-benar mendadak."
Mereka berpelukan, lalu ketiga orang di belakang melompat-lompat. Dayu, Bayu, dan Binazir tepuk tangan di udara.
"Sekarang makan-makan." ajak Dayu.
"Ayo, cepat sedikit." Bayu sudah menahan lapar sejak tadi.
Di dalam kelas, dosen sudah memulai pelajaran. Binazir terlambat datang lagi, sudah berapa kali berulah dalam pelajaran matematika. Dosen Yiming melihat ke arahnya, yang berjalan mengendap-endap.
"Kamu masih niat masuk kelas tidak." Menatap Binazir tajam.
"Maaf Bu, aku tadi bangun kesiangan." jawab Binazir.
Dayu tidak sengaja lewat depan pintu, lalu melihat ke arah ruangan kelas administrasi.
"Bangun kesiangan lalu terlambat, namun masih berani menyelinap." Dosen Yiming tampak marah.
"Hukum saja Bu." Anton menyudutkan seraya tertawa lantang.