
Yana cemberut, karena dari tadi Chaka tidak menjawabnya. "Kenapa iya dia mengabaikan, biasanya tidak pernah seperti ini."
"Mungkin dia sedang sibuk." jawab Febby.
"Setidaknya kirim pesan, aku tidak perlu cemas. Dari tadi, firasat tidak enak." ungkap Yana.
"Ah kalian suami istri baru pisah sebentar, namun sudah seperti tidak bertemu satu abad." ledek Febby.
Isruni mendekat ke arah Kaila. "Maaf iya, aku benar-benar tidak sengaja. Pembuat kue sudah dipecat, karena sembarangan mencampurkan ikan buntal."
"Tidak apa-apa, itu urusan Kakak ipar denganmu. Tidak ada kaitannya denganku juga." jawab Kaila, yang sebenarnya tidak secuek itu.
"Aku merasa tidak enak dengan Kak Chaka, sampaikan permintaan maafku padanya." ujar Isruni.
"Tenang saja, aku sampaikan bila ingat." jawab Kaila, dengan sedikit candaan.
Chaka bersembunyi dengan detektif Melvi, lalu berencana pura-pura meninggal. Chaka mengabaikan panggilan telepon dari Yana, yang sudah berulang kali tidak dijawab. Termasuk saat ini, semua pesan hanya dibaca. Beruntung, istrinya tidak bisa melihat pergerakan tersebut.
"Mengapa tuan Chaka menggunakan cara seperti ini. Aku pergi dari rumahku, karena tahu busuknya penjahat itu. Setiap hari mendatangi rumahku, hanya karena ingin menikam dengan belati. Jelas-jelas sejak awal dikosongkan." cerocos detektif Melvi.
"Aku hanya butuh seseorang, yang menjadi perantara terdekat bos mereka. Lalu, kita gunakan dia sebagai saksi di pengadilan." jawab Chaka.
"Bagus sekali, kalau begitu tuan terus saja bersembunyi." Detektif Melvi ikut senang mendengar rencana tersebut.
"Iya, terima kasih telah bekerjasama." Chaka senang, karena detektif Melvi sedia tutup mulut.
Kaila belajar sambil teleponan dengan Kaihan, membahas pelajaran fisika pada waktu malam hari. Tangan Kaila menari-nari di atas udara, sambil memikirkan rumus fisika yang sulit.
"Sayang anak Papa, tumben kamu rajin sekali." Devin melihat tulisan di bukunya.
"Ini lagi belajar sama Kaihan." ucap Kaila.
Devin baru sadar bahwa Kaihan membawa perubahan besar untuk Kaila. Sekarang dia menjadi anggota OSIS, karena rajin belajar. Mulai berprestasi, untuk mengalahkan Isruni. "Seperti ini juga bagus, daripada kamu bermain speed boat di laut." Devin berpangku tangan.
Tiba-tiba Tasya masuk kamar, sambil tertawa-tawa kuat. Dia menepuk-nepuk pahanya sendiri, beralih memeluk Kaila putrinya.
"Apa yang lucu Ma?" tanya Kaila.
"Ada, bayangkan saja waktu pertama menikah. Mama mengingat kenangan menurunkan jemuran, sampai ditegur Papa kamu. Mama tidak tahu, bahwa ada remote control." Setelah berbicara, malah lanjut tertawa. "Hahah..."
"Apa si Ma, tidak jelas deh." Devin senyum, berbicara dibuat-buat.
Kaila melihat sambungan telepon terputus, dan segera mengirim pesan pada Kaihan. "Maaf iya, aku tadi lagi bicara sama Papa."
"Tidak apa-apa, aku ikut senang mendengarnya." Balasan dari Kaihan.
Febby berjalan di pinggir jalan, lalu melihat sepatu tingginya tersangkut pada beton. Dia berusaha menarik kakinya sekuat mungkin, sampai dirinya sendiri jatuh tersungkur.
"Aduh, sakit sekali pantatku." Berusaha berdiri, namun terasa malas.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya, siapa lagi bila bukan Artha. "Cepatlah berdiri, biar aku bantu."
Febby memegang tangan Artha, dan tidak sengaja mendorong dada Artha. Mereka berdua jatuh ke jalan, sambil memeluk tubuh satu dan yang lain.