Loven Draft

Loven Draft
Ayah Febby Kocak



Chaka dan Yana duduk di kursi, sambil menikmati agar-agar. Kaila dan pengawal Belko hanya memperhatikan, tanpa mengeluarkan satu patah katapun.


"Sayang, untuk sementara waktu aku tidak bisa kembali." ujar Chaka, dengan terus terang.


"Iya aku mengerti, kamu akan muncul setelah sidang dibuka." jawab Yana.


"Terima kasih sayang karena sudah mengerti. Jika rindu, menginap saja di sini." tawar Chaka.


"Rindu si sayang, tapi tidak menginap juga lebih baik. Aku harus mengurangi kecurigaan, karena kamu sedang menyembunyikan diri." jawab Yana.


"Kalau nona memang sudah tahu, mengapa mau kerjasama dengan tuan Ronal?" Yang diam akhirnya bersuara. "Nah, kenapa juga nona ingin mengawasi tuan Chaka pakai teropong?" Jadi wartawan dadakan.


Kaila memukul lengan pengawal Belko. "Mengapa mengintrogasi Kakak seperti itu? Urus saja Bibi Een." Kaila mendelik.


"Pengawal Belko, aku kerjasama dengan tuan Ronal karena ingin menyelidikinya. Aku tidak mau berpisah dengan suamiku lebih lama, makanya meringkus kamu demi menemukan suamiku. Salah kamu juga memergoki kami, lalu hampir menggagalkan rencana." jelas Yana panjang dan lebar.


"Maafkan aku nona, sudah membuat hari menjadi lebih gerah." Belko menundukkan kepala, namun tidak terlalu merasa bersalah.


Artha dan Febby memancing bersama, dan salah satu kail menarik sandal. Febby tertawa saat melihat Artha mengangkat pancingnya.


"Aku kira ikan besar Febby." ujar Artha.


"Ternyata sandal bekas iya, kasian sekali kamu." jawab Febby.


"Nah, lihat tuh pancing kamu bergerak juga. Hati-hati, siapa tahu batu besar." Artha sudah cekikikan duluan. "Aku bakalan balas penghinaan kamu sayang." Mengancam calon istri sendiri.


Febby tersenyum dengan rasa optimis. "Aku yakin ini ikan besar, mari kita lihat." Berdoa terlebih dulu, saat mengangkat pancing. "Hahah... benar sekali dugaan aku. Wow, gendut juga hewannya. Kita bersiap-siap makan besar, aku tidak sabar lagi memasak dalam kuali." Raut wajah cerianya terlihat imut.


"Jangan lupa, untuk mencicipinya bersama."


Artha mendekatkan kepalanya dengan kepala Febby, begitu juga sebaliknya. Baru saja mau memulai lebih dekat ke pipi, tiba-tiba ada tangan besar menghalangi. Mata mereka yang terpejam mendadak jadi terbuka lebar.


"Huaa!" Terkejut secara bersamaan.


Ayah Febby membawa cangkul. "Kalian mau ngapain? Berani iya berbuat di luar batas tanpa izin?"


Artha bergidik ngeri, melihat cangkul digerakkan. "Tidak, mana mungkin mau berbuat yang merugikan Febby."


"Terus yang aku lihat apa? Kamu cuma mau melihat pipi anakku?" Menggoyangkan kepala sambil melotot.


"Eh Ayah, bukan seperti itu. Ayah duduklah dulu, jangan emosi terus." Artha berusaha mencairkan situasi, namun tidak merubah prinsip ayahnya.


"Siapa yang menjadi ayahmu? Aku ini Ayah Febby seorang." Menekankan kalimat akhir.


"Bukankah aku ini calon menantu, pasti sebentar lagi memanggil anda Ayah." Artha tersenyum, dengan percaya diri.


"Tiba-tiba aku berubah pikiran." ucapannya berhasil mengejutkan Febby, yang sedang melepaskan ikan dari mata pancing.


"Ayah, jangan seperti ini. Hanya masalah kecil, sampai dibesarkan." rayu Febby.


Artha diam tidak bergeming, melihat kemurkaan ayah Febby. Belum jadi mertua, dia sudah sangat menakutkan. Tiba-tiba sekarang menendang cangkul, tapi tidak terpelanting juga. Hanya bergerak semakin dekat ke arah Artha dan Febby.


"Jangan penggal aku, ampun tuan. Aku hanya anak tupai tidak tahu diri." Artha bertekuk lutut, sambil mengatupkan telapak tangan.


Ayah Febby menjambak poni Artha lirih. "Hahah... aku akan mengampuni kamu, asalkan pergi dari hidup putriku."