Loven Draft

Loven Draft
Ketinggalan Kapal



Malam Minggu Kaila dan Kaihan bertemu berdua. Mereka janjian di tempat biasanya, sebuah taman yang tidak jauh dari perumahan warga.


"Kaihan, sekarang kita sudah jarang komunikasi. Apakah kepala sekolah merepotkan mu lagi?" tanya Kaila.


"Dugaan kamu benar, bahkan disuruh menjenguk Isruni sakit." jawab Kaihan.


"Ini tidak benar, besok kamu menjenguknya dengan aku saja. Ular satu ini, akan aku beri pelajaran. Sembarangan menyebarkan bisa, benar-benar tidak tahu malu." Kaila semakin geram menjadi-jadi.


"Iya sudah, ayo kita pulang. Udara malam ini sangat dingin." Kaihan memasangkan jaketnya pada tubuh Kaila.


"Nanti kamu kedinginan." Kaila menatap kekasih tersayangnya.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu tidak masuk angin." Kaihan beranjak dari duduknya.


Mereka melangkahkan kaki bersama, melewati lorong-lorong yang mulai sepi.


Ketinggalan Kapal karena tertidur di bawah pohon, membuat Yana terus memarahi Chaka. Sibuk menyalahkan suaminya,


"Coba kalau tadi kamu tidak mengemil sepanjang waktu. Aku pasti tidak akan tertidur, karena ada teman mengobrol." gerutu Yana.


"Lah, kenapa tidak menahan mata supaya melotot. Dengan begitu, kamu mungkin bisa mengatasi rasa kantuk." jawab Chaka, dengan seenaknya.


Melayangkan pukulan di lengannya. "Aku hanya ngiler melihatmu, sedangkan aku harus mulai diet."


"Pasti karena aku bilang kamu gendut tadi. Terima kasih, karena rela menahan lapar untukku. Coba katakan, hadiah apa yang kamu inginkan." Tersenyum, sambil menatap lekat istrinya.


"Aku mau kamu pikirkan cara, kita harus tidur di mana?" Menatap sekeliling, yang bahkan tidak ada satu rumah pun.


"Karena ini sebuah pulau, kita hanya bisa tidur di alam bebas. Tapi tenang saja, ada kakiku yang empuk sebagai bantal." jawab Chaka, dengan santainya.


Tengah malam pun tiba, Yana merebahkan kepala di kaki Chaka. Sudah menghangatkan tubuh, dengan api unggun yang menyala.


"Tidak bisa tidur dari tadi, mengapa kita tidak bermain kembang api. Ingat tidak, waktu pulang dari kantor polisi?" tanya Yana.


Mereka mengulang kejadian serupa, untuk mengenang waktu yang telah terlewati. Cantik sekali kilauan mercon di tengah kegelapan. Artha dan Febby memanggang bebek sebagai perayaan, atas keberhasilan perusahaan Artha.


"Keren sekali, bisa mencapai seratus juta pengguna." puji Febby.


"Karena bantuan kamu juga sayang, serta seluruh masyarakat yang ikut serta." jawab Artha.


"Yang lebih lucunya, kamu dan aku ikut jadi testimoni." Febby menusuk-nusuk daging bebek.


"Wow, sudah mulai empuk." Artha mencium aroma segar.


Febby mengangkat daging empuk tersebut, menuju wadah yang besar. Febby menghidupkan kipas angin, agar cepat bisa dimakan. Artha membantu membuka separuh daging, agar panasnya cepat kabur.


"Kalau kamu berani, makan cabai saja. Aku akan suruh konglomerat sejagat membayar kamu, beserta memberikan penghargaan paling mewah." Febby mengedipkan matanya.


"Aku mau, kalau kamu juga bersedia mencobanya." jawab Artha, mengemukakan persyaratannya.


"Itu bagian tantangan untukmu."


"Tantangan untukmu juga." Tidak mau mengalah.


Keesokan harinya, Kaila dan Kaihan menjenguk Isruni. Rumahnya terlihat sepi, tidak tahu mengapa. Kaila mengetuk pintu, lalu ada yang membukanya.


"Bibi, apa Isruni ada di dalam rumah?" tanya Kaila, menunduk sopan.


"Iya, nona sedang istirahat." jawabnya.


"Kami teman Isruni, bolehkah masuk untuk menjenguk?" pinta Kaila.


"Silakan, dia sedang menunggu." jawab perempuan paruh baya tersebut.


Kaila dan Kaihan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Isruni melihat Kaila dengan tatapan tidak suka, karena dia ikut menjenguk ke rumah juga.