
Febby makan permen lollipop, lalu tiba-tiba disenggol oleh Ronal. Permen terjatuh di lantai, dan tangannya hendak mengambilnya. Artha langsung menahan gerakan Febby, melarang dengan tatapan mata serta gerakan kepala.
"Kamu sengaja cari masalah iya." Artha menatap tidak suka.
"Aku tidak lihat." jawab Ronal.
Artha mulai bicara ngegas. "Kalau tidak lihat, lantas kamu tidak minta maaf?"
"Hanya masalah kecil saja, aku pun tidak sengaja. Terlalu diperbesar, kekanak-kanakan." Ronal tersenyum mengejek, membenarkan kacamatanya yang berwarna hitam.
Artha melemparkan tongkatnya ke sembarang arah. "Aku mau melihat, orang buta mengambil tongkat."
Bugh!
Perut Artha ditinju dengan Ronal, benar-benar lumayan sakit. Febby kebingungan, sesekali memegangi dua telinganya, lalu beralih ke kepala.
Febby melerai perdebatan mereka, sambil memegangi tangan Artha. "Sudahlah sayang, aku tidak apa-apa."
Pagi hari itu mentari bersinar, namun malah berdebat tidak berkesudahan. Artha mengibaskan bajunya yang longgar, merasa gerah dengan pertengkaran sengit tadi.
"Kamu harus larang Yana berteman dengan dia." ujar Artha.
"Jangan egois begitu, ini 'kan masalahmu." jawab Febby.
"Bukan begitu, sejak awal Chaka tidak menyukai Ronal." Artha bawa-bawa orang lain.
"Tidak boleh juga benci orang tanpa alasan." jawab Febby.
Artha berjalan dengan pandangan lurus, tidak menoleh ke arah lawan bicaranya. Febby terkesan seperti membela Ronal, meski tidak terlihat jelas.
"Harusnya si kamu tidak akan marah seperti ini." ujar Febby.
"Aku sangat emosi. Dia terlihat misterius, dan tampak menginginkan Yana." jawab Artha.
Chaka mengendarai mobilnya dengan perlahan, menuju ke perusahaannya. Tiba-tiba mobilnya ditabrak dari belakang, membuatnya melaju lebih kencang. Pengawal Chaka ada di depannya, dan ada juga di belakang.
Chaka berbelok ke lorong sempit, lalu diikuti oleh mobil di belakangnya. Mobil pengawal dari belakang menghadang ke depan, sehingga mobil itu terhenti sejenak. Mobil pengawal yang ada di depan Chaka, segera menghentikannya di sebuah pasar.
"Tuan, sebaiknya kita bertukar posisi." ujar Belko.
"Nanti kamu yang dicelakai mereka." jawab Chaka.
"Itu tugas kami sebagai pengawal, untuk menjagamu dengan aman." Belko memaksa Chaka.
"Baiklah." jawab Chaka, dengan ikut saja.
Chaka masuk ke dalam mobil, yang dipakai oleh pengawal tadi. Sedangkan mereka menggunakan mobil yang dipakai Chaka sebelumnya.
Febby dan Yana pergi ke perusahaan milik Ronal. Mereka membahas mengenai film yang akan dipublikasi.
"Aku senang sekali, akhirnya kesuksesan akan segera menyapaku." ucap Yana.
"Iya, apalagi bila kamu bersedia menjadi pacar pura-pura." jawab Ronal.
"Maaf Ronal, sekarang apapun yang aku lakukan perlu izin dari Chaka." Yana jujur saja.
"Aku tahu, kamu sudah memiliki suami. Namun membantu teman, bukan perbuatan yang keji." jawab Ronal.
Brak!
Mobil yang dikendarai oleh Belko ditabrak dari belakang, lalu berbelok-belok hingga menabrak tugu jalan. Selain itu, sempat menabrak tumbuhan di tengah jalan. Pot bunga jatuh ke kaca depan, pemandangan Belko untuk melihat menjadi terbatas.
"Nanti kita cepat melompat, lalu kabur dari tempat kejadian perkara." pinta Belko.
"Baiklah, dalam hitungan ketiga semua bersiap." jawab salah satu, dari empat orang pengawal di kursi belakang.
Brak!
Mobil menabrak pohon, lalu merosot ke jurang. Mobil meledak, dan Belko sudah berhasil melompat. Tangan dan kakinya berdarah-darah, tergores rumput tajam.