Loven Draft

Loven Draft
Saling Merindukan



Kaila masuk ke dalam kamar, lalu membuka rumus fisika. Yana geleng-geleng kepala, karena cinta bisa merubah segalanya. Tidak masuk akal, mau berubah jadi rajin demi cinta. Namun Yana tidak boleh terlalu heran, karena dirinya bisa seperti sekarang karena Chaka. Phobia terhadap sentuhan laki-laki, sudah mulai berjalan semakin membaik. Bahkan, sudah melakukan hal yang berkesan bersama suaminya.


"Rindu tangannya saat memanjakan aku, rindu senyumnya saat menatapku, rindu matanya yang berbinar saat bersamaku." Yana menopang dagunya.


"Cih, katanya mau menjalani hari dengan bahagia." Kaila mengingat ucapan Yana.


Malam hari saat Yana tertidur pulas, ada yang diam-diam memanjat jendela. Chaka ingin merealisasikan mimpi kemarin menjadi nyata. Chaka kurang berhati-hati, hingga jendela tidak sengaja menghimpitnya.


"Aduh, sakitnya daging ku kejepit jendela." Chaka memegangi miliknya yang panjang, sangat kesakitan karena menabrak pinggir jendela.


Chaka melepaskan helai benang baju Yana, dan *******-***** gunung. Memberikan sentuhan pada kuncup bunga merah muda, sampai mulut goa menjadi basah. Yana menggeliat mengira hanya mimpi, saat sesuatu memasuki goanya yang sempit.


Chaka menautkan bibirnya pada bibir Yana, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Hanya terjadi beberapa menit, takut Yana jadi terbangun. Dia benar-benar rindu, untuk bermanja-manja dengan sang istri. Terpaksa keluar dari kamar secepat mungkin, saat mendengar ponsel Yana berbunyi.


Tidak pergi, masih berada didekat jendela luar. Chaka penasaran, siapa kira-kira yang meneleponnya. Yana meraih ponsel di atas meja, lalu duduk bersandar.


Yana melihat panggilan dari nomor asing. "Halo, siapa ini?"


"Jika kamu ingin melihat suamimu yang masih hidup kembali, temui kami seorang diri. Lokasinya di pabrik gas yang tidak jauh dari hutan Menggonala." jawab seorang laki-laki berjubah.


"Aku tidak sudi menemui kalian, karena suamiku sudah mati." ujar Yana.


”Mengerikan sekali, pasti bukan orang baik.” Yana segera mematikan sambungan telepon, sekalian daya ponselnya juga.


Yana berjalan mendekat ke arah jendela, lalu Chaka segera menggeser tubuhnya. Chaka tidak ingin istrinya tahu, tentang keberadaan dirinya sekarang. Yana membuka tirai jendela, lalu memandang jalanan kota.


"Mengapa aku merasa ada yang aneh iya? Kenapa orang di telepon bilang Chaka masih hidup. Namun mereka bisa saja berbohong, hanya untuk memancingku datang ke pabrik gas Menggonala." Yana menutup mulutnya yang menguap, karena masih merasa kantuk.


Yana baru sadar kalau bajunya berantakan, seperti ada yang bergerak melakukan sesuatu padanya. Yana mengangkat tangan ke atas udara, sambil bergerak ke kanan dan kiri.


"Pegal juga tubuh ini, sudah syuting film kartun. Menikah Denganmu Takdirku harus terkenal, film ini didesain khusus untukmu suamiku. Aku ingin sekali menonton bersamamu, namun harapanku sirna." Yana merebahkan tubuhnya, kembali terlelap.


Keesokan harinya, Yana mengantar Kaila ke sekolah. Saat di lampu merah, Yana melihat manusia yang mirip Chaka. Dia sedang berada di trotoar jalan, sambil meletakkan telepon genggam di telinganya.


"Kakak lihat siapa?" tanya Kaila.


Yana menunjuk seorang pria muda. "Itu, aku melihat orang di sana."


"Pasti Kakak mau bilang dia Kak Chaka. Dia hanya mirip saja dari belakang, sekali dilihat dari depan Kakak akan kecewa lagi." jelas Kaila.


"Hmmm.... dari jas yang dipakainya, dia terlihat seperti Chaka." Yana memilih melajukan mobilnya, karena lampu hijau sudah menyala.