
Kaila buru-buru menghampiri Yana, yang baru saja pulang. Dia ingin cepat berlatih, untuk membuktikan pada papanya. Belum lagi, dia ingin mengikuti Olimpiade London.
"Kak, sekarang apa masih sempat?" tanya Kaila.
"Masih adikku sayang, tenang saja." jawab Yana.
"Bukankah, waktunya sudah hampir habis?" tanya Kaila memastikan.
"Sampai tengah malam nanti, Papa baru memeriksa nilaimu." jawab Yana.
"Tenang, sudah ada peningkatan 80. Namun harus belajar lebih giat lagi, karena mungkin Papa akan berikan pengetesan. Apalah arti sebuah nilai, bila aku cepat lupa. Begitulah Papa kita, ingin memeriksa detail." ujar Kaila.
"Iya Dik, mari Kakak ajari kamu." Yana meletakkan tasnya, di atas ranjang tidur.
Yana membuka buku cetak, lalu melihat soal latihan diakhir tema. Dia menyuruh Kaila mengerjakan soal yang paling mudah, diselingi dengan yang paling tersulit. Kaila sesekali bertanya, jika ada yang tidak tahu.
Detektif Melvi melihat seorang perempuan, keluar dari rumah mewah. Statusnya sudah diketahui, sebagai bagian dari keluarga Ronal. Fakta yang sangat mengejutkan, bisa diungkap saat persidangan dimulai.
"Detektif Melvi, mengapa kita mengintip di sini?" tanya salah satu pengawal, bernama Pelaq.
"Dia sedang teleponan dengan Ronal, kita harus selidiki untuk mendapat kepastian." jawab detektif Melvi.
"Tugas kami hanya menemanimu, memastikan keadaanmu baik-baik saja. Bukan untuk mengurusi pria muda, saingan tuan kami." ujar Pelaq.
"Kamu bicara seperti orang bodoh, seolah dia menginginkan Yana sungguhan. Suatu hari, kalian ini akan mengerti. Memang cuma ketua pengawal Belko, yang paham gerak-gerik musuh." sindir detektif Melvi.
"Pengetahuan kami rendah, kami hanya tahu menjadi pengawal. Trik menipu musuh ini, aku tidak pandai akting. Lagipula, aku mudah tertawa. Di sekolah pernah disuruh tampil drama, gigiku sudah keluar duluan. Padahal aktingnya menangisi Nenek." Malah curhat.
"Ah kamu ini, bisa-bisanya diloloskan sebagai pengawal."
Febby dan Artha singgah ke rumah Yana, lalu mengetuk pintu setelah mengucapkan salam. Yana mempersilakan mereka duduk di ruang tamu.
"Hmmm.... aku ikut senang mendengarnya. Kamu keren Artha, sudah berani menunjukkan keseriusan dengannya." puji Yana.
Artha senyum saja, mendengar perbincangan mereka. Kaila gigit jari, kadang-kadang gigit pena. Melihat orang dewasa yang berpasang-pasangan, dia juga ingin memiliki Kaihan seutuhnya. Namun, sekarang masih terlalu kecil.
Puk!
Puk!
Kaila memukul kursi sofa, sambil memegangi kedua sisi pelipis kepala. "Mikir apa si kamu Kaila."
Yana menepuk bantal didekat Kaila. "Kamu mikir apa si, ingat loh masih sekolah. Fokus saja dengan pelajaran, yang boleh menjalin asmara orang dewasa." jelasnya.
Kaihan membuka pintu rumah, saat Isruni datang ke rumahnya. Kaihan tidak menyuruhnya masuk, malah berbicara di luar.
"Ada yang ingin aku bicarakan." ujar Isruni.
"Tentang apa?" jawab Kaihan.
"Sejak aku tidak menjadi ketua OSIS, kamu sudah jarang memiliki waktu bersamaku." ucap Isruni.
"Hubungan kita hanya sebatas rekan organisasi. Jika sudah tidak berkepentingan, aku tidak boleh banyak basa-basi." jelas Kaihan.
"Aku tahu kok, kamu sedang menjaga hati Kaila." Isruni mengatakannya.
"Kalau sudah tahu, aku tidak perlu repot-repot menjelaskan." Berbicara tegas, menolak terang-terangan.
Kaihan tidak ingin diputusi oleh Kaila, karena waktunya hanya tiga hari. Sekarang sudah waktunya, untuk menjauh dari Isruni.