Loven Draft

Loven Draft
Kesempatan Tiga Hari



Tiga hari, selalu terlintas kata tersebut. Suara Kaila berdenging di telinga Kaihan, tidak dapat membuatnya tertidur pada malam hari. Dia berganti posisi rebahan, sampai mengangkat kaki pada lutut sebelahnya. Masih juga tetap gelisah, sudah berganti menungging. Kaihan melemparkan bantal, lalu menutup kedua telinga.


”Apa serepot ini, sekolah sambil punya pacar." Bergumam-gumam lirih.


Kaila menemui Devin di ruang kerja, setelah mengetuk pintu. "Pa, aku ingin jadi ketua OSIS di SMP. Tidak bisakah Papa membantuku, untuk bicara pada kepala sekolah?"


"Kamu sebentar lagi lulus, untuk apa mengejar jabatan yang sebentar itu." Devin masih fokus dengan laptopnya.


"Aku tidak suka ditindas, karena ada seorang perempuan yang menjadi ketua OSIS dadakan. Bahkan, dia tidak menggunakan pemungutan suara." Kaila mengadu.


"Kamu tak akan merengek minta Papa mengatasi, karena hal kecil seperti ini 'kan?" Berbicara tegas, menatap ke arah putrinya.


"Melihat jawaban Papa, aku mengurungkan niat." Kaila baru saja mau keluar, tiba-tiba mendengar ketukan pintu.


"Masuk!" Devin menyuruh seseorang di luar, segera menemuinya.


Yana membawa ayam yang baru dimasaknya. "Ini untuk menemani Papa lembur." Mengedipkan mata sebelah kiri ke arah Kaila, dilakukan secara sembunyi-sembunyi.


Kaila tersenyum. "Pasti Kakak mau membantuku, hmmm... aku terharu." batinnya sudah menduga.


"Kamu tumben masak sudah tengah malam seperti ini. Tidak biasanya masuk ke ruang kerja Papa, apalagi bawa masakan enak. Kecuali, memang ada maunya." ujar Devin, menebak tepat sasaran.


"Heheh..." Yana nyengir, sambil membenarkan rambutnya yang tergerai ke depan. "Pa, sebenarnya membantu Kaila juga bagus. Dia rajin belajar dan mulai berprestasi, karena dorongan dari Kaihan."


"Kamu hanya ingin menuruti keinginan adikmu. Sebenarnya, Papa tidak setuju membantu. Kecuali, Kaila bisa membuktikan perubahan besar. Nilai hari-hari, seperti tugas di rumah, latihan, dan ujian yang meningkat." Devin mengajukan keinginannya.


Devin tersenyum. "Baiklah, karena kamu jaminannya, Papa akan setuju. Namun, hanya kasih kesempatan tiga hari."


"Siap laksanakan Papa, aku akan membuktikan prestasi bersinar." Kaila memeluk Yana, dengan perasaan senang.


Tiga orang berada dalam satu ruangan, saling berbincang satu sama lain. Mereka terlihat serius, membicarakan perihal penting ini.


"Tuan Chaka, meskipun beberapa pengawal mati, namun beruntung masih ada yang selamat." ujar Belko.


"Kita harus sembunyi, sampai mengumpulkan kekuatan. Lalu setelahnya, bereaksi untuk menggugat terdakwa. Kasus akan dibuka, bila saksi ditemukan." jelas Chaka.


"Pengawal Belko, kamu begitu setia. Apa tidak takut, bila tuan Chaka berkhianat?" Detektif Melvi sempat bercanda, sambil melirik ke arah Chaka.


"Tidak, aku sudah berjanji untuk setia. Lagipula, sudah menemaninya sangat lama. Dari tuan Chaka masih kecil, hingga mengenal apa itu arti cinta." Belko tersenyum meledek tuannya.


"Mulai berani? Apa aku terlalu baik padamu?" Senyum, sambil menyipitkan mata.


"Baru juga dibilang, dia sudah tampak ingin membunuhmu. Aku memang tidak salah tebak, kalian ini sering bertengkar." Detektif Melvi meniup airnya yang masih panas.


Chaka meremas kertas, lalu melemparkan ke pundak Melvi. "Kamu ini jadi kompor saja, benar-benar tidak patuh."


"Aku bukan pengawal Belko, yang bisa hidup dengan aturan. Aku lebih suka bebas namun misterius, karena aku detektif tidak sembarangan membuka jati diri." Menjelaskan, sambil meneguk air kopi manis.


"Aku tidak bertanya, tidak perlu menjelaskan detail tentangmu." Chaka kembali fokus menulis, memperhitungkan setiap bukti, konsekuensi, dan yang bisa jadi saksi.