Loven Draft

Loven Draft
Curiga



Detektif Melvi berhasil melarikan diri, saat para penjaga mabuk-mabukan. Mereka tidak menyadari, asyik bermain judi sambil pesta minuman keras. Detektif Melvi melihat poster sepanjang perjalanan, semuanya menempel gambar wajahnya. Dia segera singgah di tempat penjual bakso pinggir jalan.


"Pak, aku sangat lapar. Berikan aku sedikit makanan, nanti aku ganti. Aku tidak membawa uang, karena disekap dengan penjahat." ujarnya.


"Tenang saja, aku akan mengantarmu langsung ke rumah tuan Devin. Dengan begitu, aku akan mendapatkan uang." Masih saja, dia memikirkan imbalan. Padahal, orang lain sedang mengalami kesulitan besar.


"Baiklah, meskipun ini terdengar tidak manusiawi namun aku bersedia." Tidak ada pilihan lain, pasrah saja ditolong dengan cara apapun.


Pria paruh baya itu menuang bakso ke dalam mangkuk. "Terima kasih." jawabnya.


Beberapa menit menikmati makanan, lalu setelahnya dibawa ke tempat yang detektif Melvi inginkan. Iya, rumah Devin lebih nyaman. Di sana banyak pengawal yang berjaga, dan akan mempersulit siapapun yang berniat menyingkirkannya. Yana membuka pintu, saat mendengar bel berbunyi.


"Nona Yana, apa tuan Chaka ada?" Bertanya serius, dengan suara parau menahan sakit.


"Silakan masuk ke dalam, biar aku panggilkan." jawab Yana.


Chaka turut prihatin melihat wajah detektif Melvi. Dia terlihat menerima perlakuan buruk sebelumya, setelah menghilang beberapa hari ini.


"Siapa yang telah melukaimu?" Chaka ingin memastikannya.


"Aku juga tidak tahu, wajah orang yang memukulku tidak kelihatan. Dia menggunakan jubah dan penutup kepala, aku tidak mengenalnya." jelas detektif Melvi.


"Iya tuan, beruntung aku tidak membocorkan bukti yang kita dapatkan. Tentang orang yang sudah mengakui, bisa dijadikan saksi di pengadilan." jawab detektif Melvi.


"Namun sayang, saksi yang sudah didapatkan memilih menjebloskan diri sendiri. Ini tidak menarik, karena dia setia dengan yang memberi titah. Aku bukan binatang, yang bisa menyiksanya tanpa ampun." Chaka berpangku tangan.


Yana menepuk pundak Chaka. "Jika semua yang terjadi benar dusta, pasti akan ketahuan pada waktunya." Menyemangati suami tercinta.


Di rumah Yana Creator, sengaja secara khusus memperbincangkan hal penting.


"Ronal, terus terang aku merasa ada yang aneh. Jujur saja, bukanlah pertama kali aku mendapati kecurigaan. Waktu Chaka menghadang kamu di rumah sakit, kamu juga bisa tahu gerakannya. Terus, waktu ada yang menembak pistol saat di studio rekaman kamu bisa tahu. Tidak mungkin 'kan, kalau ini cuma kebetulan?" Yana merasa aneh, dan memilih mengutarakannya daripada menebak sendiri.


"Yana, itu hanya kebetulan saja. Aku juga tidak tahu, mengapa setiap melindungi mu aku bisa merasakan dengan batinku. Mungkin saja, ini yang disebut cinta." jawab Ronal, sambil tersenyum.


"Maaf Ronal, aku menyadari dengan jelas bahwa aku tidak memiliki perasaan padamu." Yana menolak dengan jujur.


"Iya, tidak apa-apa. Aku tulus sayang sama kamu, jadi aku tidak menuntut untuk dibalas. Kelihatannya kita memang berbeda, aku hanya laki-laki buta. Memangnya siapa yang akan menyukai aku." jawab Ronal, yang menunjukkan sifat pesimisnya.


"Kamu tidak boleh seperti ini, aku yakin suatu hari nanti ada perempuan baik yang menerimamu."


"Aku rasa, perempuan baik itu hanya kamu. Kalau tidak ada kamu, maka yang lain juga tidak ada." jawab Ronal, dengan raut wajah serius.