Loven Draft

Loven Draft
Berita Hoak Dibereskan



Meski hukumannya digantikan dengan Bayoli, Isruni dibully teman-teman sekelas karena punya keluarga narapidana. Dia diasingkan, padahal sebelumnya mendapat pujian.


"Anak dari seorang pembunuh, suruh dia pergi saja."


"Iya, mencemarkan nama baik SMP Bintang Cerah."


"Sudahlah, kalian tidak ada gunanya melakukan ini." Kaila menghentikan.


Mereka semua berlalu dari hadapan Kaila, melawannya juga tidak akan menang. Malah akan membuat malu, karena mereka kalah telak.


"Tidak perlu membelaku." ucap Isruni.


"Aku tidak membelamu, hanya inisiatif diri sendiri." Kaila segera meninggalkan Isruni, yang tengah berdiri mematung.


Artha menghentikan kelakuan masyarakat yang berdemo. Chaka memberikan keterangan yang diperoleh dari interogasi dengan Ronal, beserta bukti yang didapatkan dari hacker warnet yang membantu penyelidikan Kaila.


"Lebih baik kalian pergi, kalau tidak aku akan melapor ke polisi." ancam Chaka.


"Baik tuan, kami minta maaf." jawab semuanya serentak.


Yana membuka ponselnya, masih ada suara seliweran. Semua orang di sosial media, menyebar gosip dirinya sebagai plagiat.


"Kamu lihat, si plagiat karya itu. Benar-benar tidak tahu malu, masih menampakkan diri lagi."


Yana tiba-tiba menangis, karena traumanya kambuh lagi. Kejadian yang sekarang hadir, mirip peristiwa masa lalu sebelumnya. Dijadikan pusat perhatian, hanya karena salah paham.


Selesai dengan masalah tersebut, Chaka mencari-cari Yana. Namun tetap tidak terlihat batang hidungnya, ternyata bersembunyi di bawah ranjang tidur.


"Sayang, kamu kenapa menangis di sini?" Chaka menyeret pelan tubuh Yana, agar dia mau keluar.


"Aku dituduh Plagiat, aku bukan seperti itu." Yana memeluk Chaka.


"Sudah aku bereskan, kamu tenang saja." ujar Chaka.


Chaka mengusap air matanya. "Jangan khawatir, aku ini milikmu seorang."


"Siapa yang bilang kamu milik dua orang." Yana mengerucutkan bibirnya.


Chaka dan Yana naik ke atas ranjang tidur, untuk istirahat sejenak. Padahal masih sore, tapi memendam diri dalam kamar. Seperti enggan untuk bertemu dengan para makhluk dunia.


"Sayang, kalau mau aku ingin menjadikan kamu manajer desain di kantorku." ujar Chaka.


"Boleh sayang, aku bersedia." jawab Yana.


"Lalu, rumah Yana Creator diurus dengan Febby saha." ujar Chaka.


"Rencananya, aku ingin menyuruh Artha menemaninya. Ibaratnya, dia rekan yang akan aku beri imbalan." jawab Yana, mengutarakan keinginan hatinya.


"Boleh sayang, hanya saja Artha sibuk mengurus perusahaan pencari jodoh. Apa kamu pikir dia akan bersedia?" Chaka mengucapkan dengan jujur, supaya Yana mengerti.


"Lalu, dia ditemani sama siapa. Aku tidak tega, membiarkan sahabatku sendirian." jawab Yana.


Keesokan harinya Yana berada di rumah Yana Creator, bersama dengan Febby. Tiba-tiba sekelompok orang datang, mereka membawa brosur kegiatan kelas ibu hamil.


"Yana, ini cocok untuk kamu." Febby melihat panduan.


Yana membaca keterangan pada buku panduan. "Iya, aku ingin mengikutinya. Ini kegiatan sangat bagus, menjelang proses persalinan." jawabnya.


Artha tiba-tiba muncul, karena Yana telah memberitahunya sebuah tawaran. "Yana, aku setuju untuk menemani Febby di sini."


"Keputusan bagus, lagipula kamu pimpinan perusahaan. Kamu bisa bebas, melakukan perjalanan kemana saja. Asalkan panjat sosial lancar, tidak ada kendala." Yana tersenyum ke arahnya.


Artha menawarkan brosur pencari jodoh, pada sekelompok orang penyelenggara kelas ibu hamil. Artha meminta mereka menyebarkan brosur ke perempuan yang mendaftar pada kegiatan kelas ibu hamil.