Loven Draft

Loven Draft
Baskoro Ditangkap



Pagi hari yang cerah, Chaka sudah bersiap dengan jas dinasnya. Hari ini, dia akan pergi ke kantor.


"Tampan sekali aku." Chaka memuji diri sendiri depan cermin.


"Kalau sudah tua, bakalan terlihat kusut juga."


Menggelengkan kepala. "Tidak, aku menolak tua."


"Dih, tegas untuk sesuatu yang harusnya diterima." ledek Yana.


"Hmmm... sayang, kamu tidak boleh begitu." Peluk dari samping. "Dukung aku jadi pasukan awet muda iya, please!" Pakai acara memohon segala.


"Terima saja kenyataan, terlalu ribet." jawab Yana.


Kaila dan Kaihan sarapan bersama, disebuah kantin sekolah London. Di sana udaranya sangat sejuk, bahkan bersih sekali halamannya. Kaila senang bisa pergi bersama Kaihan, jarang bisa melewati waktu yang lebih leluasa.


"Beb, kalau ada perempuan yang lebih cantik dari aku, kamu bakalan berpaling tidak?" tanya Kaila.


"Mungkin saja tidak." jawab Kaihan.


"Kalau dia bisa membuat kamu nyaman." Kaila ingin tahu.


"Mudah-mudahan tetap bertahan denganmu. Aku berharap, kita bisa sampai ke pelaminan. Seperti cinta Kak Chaka dan Kak Yana." jelas Kaihan.


Yana mengantar makan siang untuk Chaka, di ruangan kerjanya. Saat sampai di depan pintu, dia melihat bos pelelangan ada di sana. Iya Baskoro, yang sudah membuat Chaka dituduh penipu klien pentingnya.


"Hei, anda tuan Baskoro 'kan?" tanya Yana.


"Nona ini jelas-jelas sudah tahu, masih saja bertanya." jawab Baskoro dengan santai.


Chaka tiba-tiba membuka pintu ruangan, karena melihat Yana berbincang dengan Baskoro. "Tuan Baskoro, senang bertemu denganmu. Aku ingin meminta uang ganti rugi, atas jas lelang yang kami jual."


"Barang yang kamu jual itu, bukan merek berkualitas. Justru hanya dari bahan bekas, sampai membuatku mengeluarkan banyak uang. Kamu tidak akan kabur begitu saja 'kan, setelah menggelapkan uang penipuan." Chaka melihat gerak-gerik Baskoro yang ingin berlari.


"Tuan Chaka, kamu juga menerima untung dari hasil penjualan. Jangan menyudutkan aku seorang." Baskoro masih berusaha membela diri.


"Tuan Baskoro jangan menyangkal lagi, hidup selama ini tidak mungkin berbuat satu kejahatan saja." Chaka tersenyum, menahan kemarahan.


Tiba-tiba saja, langkahnya dihadang oleh pengawal Belko. Disusul dengan detektif Melvi, ditambah pengawal-pengawal lainnya lagi. Baskoro malah tertawa tanpa tahu malu, dia menendang salah satu pengawal. Setelah ambruk, dia menyerang pengawal Belko dan detektif Melvi.


Chaka melihat Baskoro berhasil ditangkap. "Cepat bawa dia ke kantor polisi saja." titah Chaka.


"Baik tuan." jawab semuanya.


Chaka membuka kotak bekal yang dibawa Yana, makan bersama istrinya dalam ruangan. Tiba-tiba Yana tersedak, karena mengomeli tindakan Baskoro.


"Minum sayang!" ucap Chaka.


"Aku mau menggunakan gelas kesayangan." Yana membuka lemari, yang tidak jauh dari meja kerja Chaka. Namun sayang, barang yang dicari tidak ada.


Yana sejak tadi sudah berkeliling, tidak juga bertemu dengan gelas tersebut. Dia ingin sekali minum dengan barang, yang sudah lama tidak dipakai itu. Yana mengomel, sambil melemparkan buku-buku.


"Kamu kenapa si mengomel terus." tegur Chaka.


"Kalau kamu tidak suka istri cerewet, lebih baik menikah sama kuntilanak. Mau keadaan apapun, dia pasti tertawa nyaring." Yana merasa sebal.


Chaka mengangkat jari-jarinya, memperlihatkan kuku yang tidak panjang. "Hihihihi..." Mempraktikkan langsung, seperti ingin mencekik.


"Mungkin otakmu sekarang dirasuki alien." Bertambah ingin marah.