Loven Draft

Loven Draft
Museum



Banyak pohon-pohon besar, yang tumbuh disekitar museum. Semuanya menjadi bahan cuci mata, benar-benar segar melihat pemandangan luar.


"Kak, tolong bujuk Papa iya, supaya mau membantu aku di sekolah. Aku ingin jadi ketua OSIS, menggeser posisi Isruni yang licik." ujar Kaila.


"Tidak bisa berjanji, namun bisa diusahakan. Tapi, dengan satu syarat." Mengajukan permintaan.


"Ah, Kakak masih meminta syarat disaat seperti ini." Kaila merasa sebal.


"Sedikit saja, syarat yang tidak akan membuatmu terguling dari muka bumi." Menutup mulut sambil cekikikan. "Aku mau duduk dulu, bibirku kering butuh minum." Membuka botol dengan perlahan, lalu meneguk air dengan cepat.


Kaila mengambil botol minum di tangan kakaknya. "Kalau Kakak tidak mau, aku juga bisa bilang sendiri."


Tiba-tiba, Kaila melihat Kaihan jalan dengan Isruni. Baru saja dibicarakan, mereka sudah bersama lagi. Kaila tidak tahan melihatnya, dengan cepat melemparkan botol ke kepala Isruni.


Pletak!


"Haduh, kepalaku sakit!" keluh Isruni.


"Ternyata ada orang di sini, maaf iya aku tidak sengaja." Kaila tiba-tiba muncul.


"Baru berdamai beberapa hari lalu, sekarang sudah mengibarkan bendera perang." Isruni memijat kepalanya, dengan perasaan kesal luar biasa.


"Aku tidak berniat seperti itu, kalau tidak ada yang membuat ulah." jawab Kaila.


"Kaila, kamu jangan mengganggu dulu iya. Aku ada tugas dari kepala sekolah, disuruh ke tempat ini bersama Isruni." ujar Kaihan.


Kaila melihat baju mereka, yang masih mengenakan seragam sekolah. "Jadi, kamu menganggap aku hanya pengganggu? Aku ingin bicara sebentar denganmu, tapi hanya empat mata."


"Apa kamu mulai bosan sama hubungan kita?" tanya Kaila.


"Tidak Kaila, dari awal masuk sekolah aku sudah menyukai kamu. Bahkan sampai sekarang, aku masih tetap suka. Aku sibuk, bukan bosan." jelas Kaihan.


"Aku ingin bukti, bukan hanya ucapan. Kalau kamu tidak bisa menjauh dari Isruni, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Aku butuh waktu tiga hari, pilih aku atau dia." ucap Kaila.


"Baiklah, tiga hari ini aku akan berjuang demi kamu. Namun, kamu akan tahu konsekuensi penolakan kegiatan yang disuruh kepala sekolah." jelas Kaihan.


Kaila pergi begitu saja, benar-benar egois. Dia tidak peduli, dengan perasaan Kaihan. Yana mengejar seorang laki-laki, yang mirip sekali dengan Chaka. Kaila sibuk mengejar Yana, yang berlari tanpa henti.


"Kakak, tunggu aku!" Tangannya terangkat satu ke atas udara, dengan pandangan mata fokus ke Yana.


Yana mengejar lewat jalan setapak, supaya lebih cepat mengejarnya. Tiba-tiba melihat ular, dan menjerit ketakutan. Tidak menyangka ada seseorang yang membantu, di jalan pintas yang semak tersebut. Dia mengusir ular dengan tongkatnya, hingga binatang melata tersebut menghilang. Yana tersenyum, melihat seseorang yang familiar di matanya.


"Apa kamu terluka?" tanya Ronal.


"Tidak, beruntung ada kamu. Terima kasih iya." jawab Yana.


"Oh iya, tidak apa-apa. Aku kebetulan lagi mengambil latar belakang, untuk mengedit video film anime." ujar Ronal.


"Eh, ini untuk film kita iya." Mata Yana berbinar-binar.


"Iya, film kita berdua. Tema dari cerita ini, adalah romantis komedi. Judulnya, Menikah Denganmu Takdirku." jelas Ronal.


Tidak sengaja berjumpa dengan Ronal, akhirnya mereka syuting sekalian. Chaka mengepalkan tangan dari kejauhan, saat adegan demi adegan kartun dilatih sutradara. Bayoli senang, karena baru digarap sudah mendapat antusias dari masyarakat.