
Yana sudah dibawa ke rumah, lalu diletakkan ke atas ranjang tidur. Dokter memeriksanya, terutama bagian bibir yang mengeluarkan darah. Chaka sangat emosi, karena Ronal berani kasar pada istrinya.
"Kak Chaka, Kak Yana tidak apa-apa 'kan?" tanya Kaila.
"Dia tidak apa-apa, hanya butuh waktu untuk istirahat." jawab Chaka.
Dokter telah membuatkan resep vitamin, lalu setelah diantar keluar oleh pengawal Belko. Tasya mengusap rambut Devin, yang basah kuyup.
"Sepertinya tidak cukup seperti ini, aku mau mandi dulu Ma." ucap Devin.
"Tidak perlu, cukup ganti baju saja." jawab Tasya.
"Nanti tidak nyaman, lebih enak bersih sekalian." Devin melihat ke arah Tasya.
"Iya Papa sayang, cepat sana ." jawab Tasya.
Malam harinya, Kaila dan Kaihan pergi ke restoran. Isruni sudah menyiapkan semuanya, agar malam itu lebih romantis.
"Sayang, kok tidak ada siapapun di restoran ini?" tanya Kaihan.
"Hahah... tentu saja, aku sudah menyewa restoran ini." Kaila mengiris daging liat dalam piring.
"Iya deh, yang anak konglomerat sejagat." Kaihan mengakui hal tersebut.
"Aku cuma dapat seperempat kok. Aku hanya cucu dari Opa Argan, sedangkan Papa adalah anaknya. Menurutmu, perempuan sepertiku bisa dapat mewarisi perusahaan?"
"Baru juga mau masuk SMA, tidak cocok kamu. Lebih pantas jika Kak Chaka saja, meski statusnya menantu namun kerja kompeten." Memuji, sekaligus menyinggung pacar sendiri.
Tengah malam keringat bercucuran dari tubuh Yana, dia baru sadar dari pingsannya. Kedua bola mata menoleh ke samping kanan, ternyata ada Chaka. Dia tampak tertidur pulas, mungkin saja sedang kecapekan. Sejak keluar dari area pengadilan, selalu saja mencari Yana kesana dan kemari.
"Sayang, kamu kasian sekali." Yana mengusap lembut kepala suaminya.
Chaka mencari-cari Yana, baru tenang ketika menyadari istrinya dalam kamar mandi. Terdengar suara keran yang menyala, setelahnya dimatikan saat sudah selesai.
"Sayang, kamu membuat aku khawatir saja." ujar Chaka.
"Aku sengaja membersihkan diri." jawab Yana.
"Aku mau membersihkan wajah juga. Kamu tunggu aku, malam ini mau mengajakmu bermesraan." ucap Chaka.
"Baiklah. Meskipun lelah, aku akan meladeni suami tersayang." jawab Yana.
Chaka melihat Yana yang datang mengantar makan siang. Dia langsung memeluk istrinya, lalu menyuruhnya duduk di kursi yang berputar. Chaka memencet remot jendela ruangan, karena Kaila dan Kaihan mengintip diam-diam.
"Nasib deh, padahal aku penasaran dengan keromantisan mereka." ujar Kaila.
"Sudahlah, kita masih terlalu kecil. Jangan suka ikut campur urusan orang dewasa." jawab Kaihan.
"Tumben bijak, biasanya setuju saja kamu." Kaila berpangku tangan.
"Iya, tapi tidak untuk waktu kedepannya." jawab Kaihan.
Febby sendirian di rumah Yana Creator, karena tidak ada yang menemani. Biasanya pergi dengan Yana, tapi sekarang dia ke kantor Chaka.
"Apa yang harus aku berlakukan untuk hal ini." Menopang dagu, mulai melamun.
Tiba-tiba datang sekelompok orang, yang melempar pot ke pintu kaca. Febby terkejut dengan amukan yang dilakukan banyak orang. Dia segera mengirim pesan ke Artha, agar membantunya yang kesulitan.
Artha membaca pesan dari Febby. "Cepat bantu aku, ada demo di rumah Yana Creator."
Artha mengetik papan tombol. "Baiklah, tunggu di sana. Aku akan segera datang." Mengirimkan pesan.