Loven Draft

Loven Draft
Menghadap Papa



Belko langsung mematikan sambungan telepon, mendengar Yana menggerutu jadi enggan. Bibi Een keluar dari toilet, sambil mengelus perut lega.


"Kenapa wajah nona merah padam?" tanya bibi Een.


"Tidak apa-apa." jawabnya berbohong.


"Apa pengawal Belko membuat nona kesal? Jika benar begitu, aku akan menjewer telinganya." ucap bibi Een, seolah benar adanya.


"Pengawal Belko ada penting denganmu, cobalah hubungi dia lagi." Yana berjalan gontai, meninggalkan bibi Een.


Membuat penasaran saja, penuh tanda tanya di kepala. Dia segera menghubungi Belko, namun ponselnya tidak aktif. Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, seperti itu terus operatornya memberitahu.


Tengah malam, Kaila menghadap Devin. Tasya kebetulan ada di ruangan kerja, membaca buku-buku bisnis. Devin sibuk mengurus perusahaan Chaka, yang sudah ditinggalkan beberapa Minggu.


"Papa, hari ini aku ingin menunjukkan sebuah nilai. Waktuku juga sudah habis, dan silakan menguji kemampuanku." ujar Kaila.


Devin menyahut kertas yang disodorkan dari tangan Kaila. Devin tersenyum lebar, lumayan puas dengan nilai Kaila. Kali ini putrinya bisa membuat bangga, karena mengalami sedikit perubahan.


"Biar tahu keaslian dari kemampuan yang dimiliki, harus memberikan soal paling ekstrim. Dengan seperti itu, otak kamu akan terus terasah." Devin menyentil kertas, lalu manggut-manggut.


Yana membantu bicara. "Papa jangan kasih soal terlalu sulit, namanya masih anak remaja." Membela secara halus, memasang senyuman semanis kurma.


"Jangan mengajari Papa, karena di sini dewan juri adalah aku. Biarkan Papa yang akan memikirkan, pertanyaan apa yang pantas." Devin membuka buku cetak, yang tebalnya mengalahkan ukuran telapak tangan Kaila.


Kaila melotot, dengan raut wajah tampak panik. ”Ada dendam apa, sampai seperti ini.” batinnya.


Tasya senyum melihat kelakuan mereka berdua, sungguh kakak adik yang kompak. Bisa-bisanya akting begitu, ntah siapa yang berencana sejak awal.


"Yana, bagaimana dengan film anime kartun Menikah Denganmu Takdirku?" Tasya penasaran dengan film tersebut.


"Pintar sekali anak Mama promosi." ujar Tasya.


"Tentu saja Ma, aku sudah mempelajari teknik marketing." jawab Yana.


"Papa hanya ingin yang terbaik untukmu." Devin menunjuk soal nomor 27, pada halaman 67."


Kaila mendelik, menunjuk dirinya sendiri. "Aku harus memecahkan bilangan aljabar ini, hmmmm... kelihatannya sulit sekali." Gigit jari telunjuknya, untung tidak putus.


"Tenang, biar Kakak bantu." Yana bisik-bisik lirih.


"Siap laksanakan tugas yang Papa perintahkan." Kaila tersenyum.


Keluar ruangan sambil dorong-dorong pundak Kaila. Yana terlihat bahagia sekali, melihat Kaila punya tekad jadi lebih baik. Hal seperti ini harus didukung, supaya lebih bersemangat.


Keesokan harinya, detektif Melvi melihat Ronal menemui perempuan yang diselidikinya. Detektif Melvi merekam diam-diam, dari mulai Ronal tidak menggunakan tongkat.


"Detektif Melvi, mengapa kita harus seperti Kang Koran?" Pelaq bagai kumbang, yang selalu sibuk hanya untuk melempar pertanyaan.


"Kalau tidak menyamar, semakin mudah dicurigai." jawab detektif Melvi.


Ronal mengusap kepala perempuan itu lembut. "Aku merindukan kamu, sudah lama tidak berjumpa."


"Ini juga karena ambisi besar kamu, yang ingin membalas keluarga Chaka Alexander." jawabnya.


"Sayang, kamu tenang saja setelah semua berhasil terbalaskan, kita akan berkumpul kembali." Ronal menjanjikan kalimat manisnya.


"Benar iya sayang, kamu jangan ingkar. Bisa memiliki keluarga utuh, adalah dambaan setiap wanita." jelasnya, sambil sedikit tersenyum.