Loven Draft

Loven Draft
Pasangan Kencan Langgeng



Chaka dan Yana keluar dari gedung mewah, karena acara pelelangan sudah selesai. Yana melihat Febby, yang tengah merapikan bunga-bunga. Tidak lupa menebar semprotan ke sana dan kemari.


"Hai Febby!" Yana melambaikan tangan menyapa.


"Hai Yana." jawab Febby.


"Kamu lagi buat acara apa?" tanya Yana, yang mulai penasaran.


"Aku membuat acara Kencan Langgeng." jawab Febby.


"Hai, untung ada kalian berdua. Cepat coba testimoni kecocokan hubungan kalian." Dipaksa Artha mengikuti acara kencan langgeng.


"Boleh." Chaka menjawab satu kata sambil tersenyum.


Yana menyikut lengan Chaka. "Siapa yang bilang setuju. Mengikuti kencan ini membutuhkan kesepakatan dua orang." sahutnya.


"Sudahlah, bantu kami sesekali." Febby menarik tangan Yana ke sebuah tenda ruangan, lalu disuruh Febby memilih warna marmut.


"Aku pilih warna merah, pertanda dia marmut pemberani." Yana bertepuk tangan gembira.


"Setelah menentukan memilih warna, lalu dimasukkan pada kotak berbentuk love." jawab Febby.


Yana menurut saja, dia memasukkannya pada kotak yang diarahkan temannya. Langkah selanjutnya Febby mengarahkan Yana, untuk melewati sebuah jalur jalan bertemu jodoh. Ternyata Chaka juga memilih marmut warna merah, pilihan yang sama dengan istrinya. Chaka keluar dari tenda ruangan, dan bertemu Yana kembali.


"Sekarang juga, pilih jalur yang mana?" Artha menunjuk panah, bersamaan dengan Febby.


"Pilih petunjuk ke arah kanan." jawab Chaka dan Yana secara bersamaan.


"Cie!" Febby dan Artha menunjuk mereka, lompat-lompat heboh. "Apa alasan kalian memilih sebelah kanan?"


"Selalu ada yang lebih indah, dari sisi yang baik." jawaban Chaka dan Yana sangat kompak.


Saat melewati jalan romantis, sama-sama melewati jalur panah ke arah kebun buah. Yana mengikat tali yang bertebaran di tumbuhan, menjadi lebih berbentuk kupu-kupu cantik. Chaka mengambil ranting pohon, dan tidak sengaja menusuk perut hewan.


Chaka berlari terbirit-birit, dan Yana melompat-lompat menangkap kupu-kupu. Chaka Saling bertabrakan punggung dengan Yana, saat panik mencari persembunyian karena dikejar tawon.


"Ayo cepat masuk ke tenda piknik itu." Chaka menunjuk plastik mini, yang tengah berdiri di tengah kebun.


Yana mengangguk dan berlari, bersamaan dengan Chaka. "Cepat buka tendanya."


Mereka buru-buru masuk, dan Yana tidak sengaja duduk di pangkuan Chaka. Tenda sudah ditutup dengan resleting, yang sangat rapat.


"Tidak terdengar suara dengungannya, aku harus memeriksa. Kalau mereka sudah pergi, aku mau keluar." Yana membuka resleting tenda perlahan, namun kelompok tawon menyerbu.


"Hati-hati." Chaka memegang kedua pundak Yana.


Wajah Yana terkejut, dan langsung menutup tenda dengan cepat. Yana tanpa sengaja memeluk Chaka, dan mencium pipinya yang memerah.


"Hmmm... kamu modal dusta iya!" tuduh Chaka.


"Hih, aku tidak sengaja." Yana segera menyingkir, duduk di sebelah Chaka. Namun posisinya lumayan jauh.


"Namun, caramu salah. Begini yang benar, biar aku ajari." Chaka mendekat, lalu mencium bibir Yana beberapa detik.


Yana terdiam, seperti menerima saja. "Eh, apaan ini." Mendorong tubuh Chaka sesegera mungkin.


Chaka mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. "Aku minta maaf, tidak sengaja menusuk perut tawon. Tadi aku mematahkan ranting, demi mendapatkan kotak cincin pasangan."


Yana membuka kotak tersebut, dan terkagum dengan cincinnya yang imut. "Aku mau memakainya."


"Sini biar aku pasangkan untukmu." Chaka memasangkan pada jari manis Yana. "Anggap saja, ini adalah cincin lamaran untukmu." Tersenyum setulus mungkin.


"Mengapa baru sekarang, lagipula kita sudah menikah." Protes, tapi tetap senyum.