Loven Draft

Loven Draft
Bertemu Penjahat



Yana celingak-celinguk di tempat yang berkelip lampu terang benderang. Dia memukul lembut kepala sampingnya, karena pandangannya berkunang. Tidak ditemukan juga Ronal, sepertinya sudah pulang pikir Yana.


"Kemana dia iya, kok sepi sekali tempat ini."


Yana akhirnya memutuskan kembali pulang, sambil berjalan dengan gontai. Dalam perjalanan dia terkejut, melihat preman yang menghadang langkahnya.


"Mau kemana cantik!"


"Ayo, temani kami saja."


Yana segera berlari, di sepanjang jembatan sungai yang besar itu. Dia benar-benar takut, kalau kejadian masa lalu terulang. Yana bersembunyi di balik pot bunga yang besar, sambil menangis tersedu-sedu. Trauma dan phobianya seperti kambuh lagi.


”Siapapun tolonglah aku! Jangan biarkan aku dilecehkan mereka.” batin Yana mengharapkan ketakutannya lenyap.


Tiba-tiba, ada yang meraih pundak Yana. Dengan perasaan terkejut masih berusaha tenang, dia memutar balik badannya.


Bugh!


Meninju hidung seorang pria, yang sangat familiar di matanya. Darah mengalir dari hidung Chaka, dan Yana pingsan seketika. Chaka menggendong tubuh Yana, sampai pulang ke rumah.


Keesokan harinya, alunan kicau burung terdengar. Matahari tidak malu-malu, muncul dengan berani. Mengapung awan-awan yang bergeser, bertambah cerah dunia. Sinar terang benderang, menyinari seluruh penjuru bumi.


"Eh Ronal, maaf iya semalam aku terlambat datang." ucap Yana.


"Terlambat datang? Jadi, semalam kamu sempat datang?" Ronal memasang ekspresi terkejut.


"Iya, kita 'kan sudah sepakat." Yana menggoyangkan dua jarinya ke udara.


"Tapi, aku sudah pulang. Aku pikir kamu tidak akan datang." jawab Ronal.


Chaka yang menguping pembicaraan mereka merasa kepanasan. Tidak tahu mengapa, kedatangan Ronal seperti kompor. Bawaannya, membuat Chaka ingin menyalakan kobaran api dalam dirinya.


”Cuih, pahit sekali melihat wajahmu itu. Meski kamu buta, aku merasa tetap terganggu.” batin Chaka.


"Aaa... suapi aku dong istriku." pinta Chaka.


"Aku tidak mau." jawab Yana.


"Ayolah sayang, dia 'kan suamimu." rayu mama Tasya.


"Tapi 'kan, aku cuma ..." Kalimat yang ingin diperpanjang malah menggantung.


"Tidak boleh tapi-tapian." Tasya sedikit memaksa, biar tumbuh benih cinta di antara mereka.


"Baiklah Ma." jawab Yana.


Ronal hanya terdiam di tempat duduknya, menerima saja apa yang terdengar oleh telinganya. Dia kebetulan bertamu, lalu diajak makan bersama. Iya sudahlah, terima saja apa adanya.


"Aduh, pelan-pelan dong. Kecil sedikit kenapa, aku kesulitan mengunyahnya." Pipi Chaka mengembung, karena Yana menyuapi nasi dan lauk ukuran jumbo.


"Aku memang seperti ini. Kalau tidak suka, suruh tangan manjamu saja untuk melakukannya." jawab Yana, dengan cueknya.


Yana meraih sendok di piringnya, menyuapi mulut sendiri dengan lahap. Setelah perut tidak terasa lapar, dia berhenti makan. Setidaknya karbohidrat yang kini mengganjal tubuhnya, bisa menjadi tenaga untuk bekerja.


Sementara di sisi lain, Artha dan Febby terlihat berebut ponsel. Mereka sedang adu debat, karena berbeda sebuah argumen.


"Febby, kita pergi piknik yuk. Aku malas bertengkar tentang ini saja. Kita harus membuktikan sendiri, riset mana yang paling baik." tantang Artha.


"Apanya yang bisa dibuktikan, cuma piknik." Febby berpangku tangan.


"Makanya ikut aku." Artha menarik tangan Febby.


"Baiklah." jawab Febby, yang terpaksa ikut.


Di dalam perjalanan Yana tersenyum-senyum sendiri. Tidak tahu mengapa, dia bisa percaya pada Ronal. Pokoknya, dia rekan kerja yang menyenangkan.