Loven Draft

Loven Draft
Menyukai Perempuan Yang Sama



Binazir melerai pertengkaran keduanya, lalu menarik lengan Yakult. Dayu merasa cemburu, karena teman masa kecilnya membela orang lain.


"Bina, aku tidak akan menyerah untuk menjelaskannya padamu." monolog Dayu.


Puk!


Ada yang menepuk pundak Dayu yaitu Bayu. Dia memiringkan topinya ke samping kiri, sambil senyum mengedipkan mata.


"Kenapa kamu jadi mengejar perempuan, biasanya tidak seperti ini." ujar Bayu.


"Dia berbeda, dia teman masa kecilku." jawab Dayu.


"Hah? Jangan bilang kamu mau merebut dariku." Bayu sudah wanti-wanti.


"Soal itu aku tidak tahu, mungkin saja aku akan bersamanya." jawab Dayu.


Dayu pergi begitu saja, lalu masuk ke dalam kelasnya. Bayu memasuki kelas bersamaan dengan Yakult, lalu keduanya saling menatap tajam. Bayu tidak mau mengalah, terus mendorong tubuh Yakult.


"Hei, lebih baik mengalah dengan pria muda keren sepertiku. Kamu sudah terlihat tua, harusnya malu." Bayu membenarkan kerah bajunya.


Yakult tidak meladeni anak baru yang bersikap kekanakan tersebut. "Pikiran sempit!" Pergi begitu saja, dengan raut wajah dingin.


Bayu membulatkan kedua bola matanya, hampir tidak percaya dengan penuturannya. "Apa dia bilang? Berani-beraninya bilang pikiran ini sempit. Wah mengajak perang dia, belum tahu saja siapa aku." Bergumam tidak terima.


Binazir pergi ke pandai besi, tempat yang dia titipkan kalung. Baru saja pulang dari kampus, sudah berlarian karena tidak melihat taksi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti, ternyata dia adalah Yakult.


"Ayo, naik ke mobilku saja." tawarnya.


"Terima kasih." Binazir segera membuka pintu mobil, sambil mengusap peluhnya.


"Ini tisu untukmu!" Yakult memberikannya.


Binazir menerimanya untuk mengelap dahinya. "Aku ingin mengambil kalung."


Bayu melihat Aurin yang sedang berjalan santai. "Perempuan menjijikkan!"


"Eh, kamu laki-laki gila waktu di pertunjukan terjun payung." Aurin segera melemparkan botol dalam genggamannya, ke kepala Bayu.


Bayu segera pergi, kesal melihat wajah Aurin. Mirip sekali dengan mantannya, yang ada di desa Gabus.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, kalau ada satu perempuan yang menjadi pemeran pengganti. Dia membuat hari-hari menjadi gerah, sampai awalnya aku kira benar-benar mantanku."


Dayu merangkul pundak Bayu. "Sudahlah, jangan terlalu sedih. Masih ada hari lain, untuk bertemu kembali."


"Kalau gitu cepat kembali, kita harus mendatangi tempat Ayah mengajak makan keluarga harmonis." ujar Dayu.


"Aku sungguh tidak mengharapkannya." jawab Bayu.


"Ayah dan Ibu ini sedikit-sedikit bertengkar, nanti berbaikan juga sebentar." jawab Bayu.


"Dayu, Bayu, kami sudah memikirkan satu hal." ujar Vipco.


"Jangan bilang, kalian mau pindah rumah ke luar kota lagi. Aku sudah nyaman di sini, dan memiliki keinginan menetap selamanya." jawab Bayu, dengan cepat.


Bimoli langsung mengeluarkan jurus andalannya, menjentikkan jari telunjuk dan jempol hingga berbunyi. "Nah, kalau sudah tahu tidak perlu aku jelaskan lagi."


"Dayu menolak dengan halus!" Dayu angkat bicara, meski terdengar sangat lembut.


"Dayu, kamu anak baik pasti menginginkan kami bersama. Bisnis Ibu akan terbengkalai, bila di sini terus menerus."


"Kuliah kami juga akan terbengkalai, bila pindah kampus tidak jelas menetap." jawab Dayu.


Pelayan datang membawakan makanan yang sudah dipesan. Bersamaan dengan itu, Yakult masuk ke sana bersama Binazir.


"Eh, itu Binazir 'kan?" tanya Bayu.


"Mengapa dia dengan Yakult." Dayu juga melihatnya.


"Kalian melihat apa?" tanya Bimoli.


"Tidak Bu, kami hanya membicarakan teman satu kampus." jawab Dayu.


"Ah, kalian berdua sudah mempunyai seorang gebetan." Bimoli tepuk-tepuk tangan, sambil senyum menyebalkan.


"Bu, lebih tepatnya kami naksir orang yang sama." jawab Bayu.


"Ingat, saudara tetap tidak boleh putus hubungan. Naksir orang yang sama, sampai bertengkar sangat lama." Bimoli melirik Vipco.


"Ibu menyindir Bapak iya." Vipco melotot.


"Nah, memang benar begitu 'kan kenyataannya?" Bimoli menyudutkannya, sambil bercanda.


"Aku dan Paman besar tidak pernah menjalin silaturahmi, karena dia dulu sampai membentak aku di depan umum. Dia memperebutkan Ibu sampai segitunya, tidak peduli ditonton semua orang." Vipco mengingat-ingat masa kuliahnya.


"Oh, jadi kami berdua memiliki seorang Paman besar?" tanya Dayu, dengan pandangan berbinar-binar.


"Sudahlah, jangan dibahas." jawab Vipco.


Yakult mengusap bibir Binazir dengan tisu, dan Dayu menahan Bayu yang hendak melabraknya. Dayu tidak ingin kedua orangtuanya melihat, bahwa ada anaknya yang rebutan wanita.


Yakult menunduk. "Maaf, aku tidak seharusnya lancang."


"Tidak apa-apa, tapi aku bisa sendiri." Binazir tidak enak hati, langsung meraih tisu di meja makan. Dia mengelap bibirnya sendiri, dengan sedikit malu.


Dayu menepuk pundak seorang perempuan, yang mengenakan jas mirip Binazir. Setelah kepalanya menoleh ke belakang, ternyata bukan orang yang dicari.


"Maaf!" ucap Dayu dengan sopan.