
Mentari bersinar dengan cerah, seperti kulit Yana yang baru saja dioles pelindung cahaya UV. Yana akan segera pergi bersama dengan seseorang, yang sekarang dianggap teman terdekatnya.
"Yana, aku mau memperlihatkan kamu sesuatu." ujar Febby.
"Apa? Cepat katakan." jawab Yana.
Febby membuka sarung tangan, lalu memperlihatkan ke sahabat dekatnya itu. "Lihatlah, cincin ini pertanda aku dilamar." Sengaja menggoyangkan tangan di depan layar.
"Aku iri melihatnya, ingin diperlakukan seperti itu." jawab Yana.
"Suami kamu itu tidak perhatian, berani-beraninya sembunyi dari istri." gerutu Febby.
"Kalau dia ketahuan masih hidup, aku akan memberi pelajaran padanya." jawab Yana, mencubit-cubit jari-jari tangan sendiri.
Yana segera keluar dari ruangan pribadinya tersebut, karena Tasya dan Devin memanggilnya. Ronal sudah menunggu di depan pintu, karena janjian akan pergi bersama.
"Pa, sejak tidak ada Chaka rumah menjadi sepi." ujar Tasya.
"Iya Ma, biasanya kita menggunakan Ronal sebagai alat pemanasan." jawab Devin, apa adanya.
Tasya dan Devin memperhatikan Yana yang sudah menghilang, setelah masuk ke dalam mobil. Mereka pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota. Yana ingin membeli kaset film kartun, siapa tahu dapat informasi untuk mendesain karya baru.
"Eh, ayo ke sana main balon." ajak Yana.
"Boleh, bantu aku berjalan." pinta Ronal.
Yana membantunya pelan-pelan, menunjukkan jalan yang pas untuk mengarahkan tongkatnya. Chaka yang paling kasihan, dari tadi ditertawai karena pakai helem.
"Tidak tahu sampai kapan, mereka akan selesai berduaan. Bila tidak sedang menyamar, aku tarik lengan Yana untuk menyingkir." monolog Chaka.
"Kakak, kamu imut sekali! Aku jadi teringat dengan seseorang." Sibuk menarik celana Chaka.
"Huaa... Kakak helem jahat." Menangis, sambil berteriak kuat.
Perhatian Yana beralih ke arah anak tersebut, dan Chaka segera lari terbirit-birit. Tiba-tiba dia ditarik dan diseret oleh sekelompok anak kecil, masih saja Chaka tidak berubah ekspresi. Dia malah tetap mempertahankan telapak tangan, yang terus menarik tali jaket bertopi.
"Kakak, bermain pukul helem yok." ajak anak laki-laki tinggi besar.
Chaka mempertahankan pipinya yang mengembung. "Iya, ayo bergegas sekarang." Suaranya terdengar tidak biasa.
Chaka masih cemas, takut dikejar oleh ibu dari anak tadi. Tidak diapa-apakan tiba-tiba menangis histeris, membuat repot Chaka saja. Ikut nongkrong dengan anak-anak kecil, belum tentu dapat menyelamatkan diri juga.
Kaila semakin giat berlatih, karena ingin mewakili sekolah. Selain membuktikan pada teman-teman disaat terakhir, Kaila juga ingin membanggakan kedua orangtuanya.
"Cepat Kakak bantu memecahkan soal yang sulit." tawar Yana.
"Kirain memecahkan telur." jawab Kaila, dengan bercanda.
"Aku punya sesuatu, yang akan menambah semangat belajarmu." Yana mengeluarkan kotak bubur ayam, yang baru saja diseduh air panas.
"Kelihatannya enak sekali, aku jadi menyukainya." jawab Kaila.
Isruni menyambut kedatangan Ronal secara diam-diam, namun tidak menyadari pengawasan pengawal Belko. Isruni sejak awal sudah ditandai, saat mengundang Chaka ke acara ulangtahunnya.
"Dik, apa berhasil menghancurkan hubungan Kaila dan Kaihan?" tanya Ronal.
"Tidak, mereka malah semakin dekat." jawab Isruni.
"Kamu sudah banyak membantu, Kakak tetap ucapkan terima kasih." Ronal tersenyum ke arahnya.
"Aku rindu Kakak ipar, membantu sedikit saja tidak masalah." jawab Isruni, seraya bersandar.