
Malam harinya, Yana berjalan-jalan dengan Chaka. Mereka hendak makan, namun ponsel Chaka kembali berdering. Hanya mengirimi pesan teror, bilang kalimat seperti biasa. Benar-benar ancaman tidak bermutu pikir Chaka. Lama-lama dia bosan, ingin mengganti nomornya.
"Siapa Chaka?" tanya Yana.
"Biasalah sayangku, orang tidak jelas yang meneror lagi." jawab Chaka.
Yana sibuk tunjuk-tunjuk para manusia, yang duduk di kursi belakang Chaka. "Itu, bukankah penjahat kemarin."
Mereka yang ditunjuk malah tersenyum, sambil lambai-lambai tangan. Sudah tahu kehadirannya tidak diharapkan.
Chaka yang asyik menyendok kuah kulit ayam segera berhenti. "Hah? Kamu serius?"
"Mana mungkin bohong, terlihat nyata kok." ucap Yana.
"Kalau begitu, dalam hitungan ketiga kita berlari." ajak Chaka.
"Siap!" Yana menyiapkan kedua kakinya, memasang kuda-kuda untuk lari cepat.
Satu!
Dua!
Tiga!
Berhasil kabur juga akhirnya, setelah Yana menahan kaki yang lemas. Mereka melangkahkan kaki pada keramaian penonton, kebetulan lagi ada acara tari souvernir anak-anak. Chaka dan Yana sengaja naik panggung, agar tidak ditemukan oleh para penjahat.
"Kak, jangan mengganggu gerakan tubuhku." Seorang anak kecil laki-laki marah, karena Chaka bersembunyi di balik punggungnya. Dia melarang anak kecil tersebut, untuk banyak bergerak. Penonton bersorak-sorai, karena dua orang terlihat kaku.
"Chaka, kenapa kamu memberikan ide konyol seperti ini si." gerutu Yana.
Cukup lama kelompok pria berjubah hitam berdiri, di antara kumpulan penonton. Mereka memeriksa satu persatu orang, namun tidak ditemukan sosok yang dicari. Tidak lama kemudian memilih pergi, lalu Chaka dan Yana melepaskan tangan dua anak tersebut.
Plak!
Pipi Chaka ditampar, padahal baru saja menghela nafas lega. Anak-anak tersebut merasa terganggu, mulai mengeroyok lengan Chaka dengan jari mungilnya. Mencubit-cubit dengan kuat, sampai Chaka meringis dan meraung. Yana bukannya menolong malah kelepasan tertawa kuat. Bagaimana tidak lucu, melihat laki-laki dingin terlihat menyerah.
"Anak-anak kecil, kalian jangan marah lagi iya. Tangan kalian terlalu imut, untuk dijadikan gigi semut." Yana merayu mereka, dengan bahasa Indonesia.
"Tidak mau." jawab mereka serentak.
Chaka segera kabur saat mereka melihat Yana. Kaki istrinya mengikuti dari belakang, dan membiarkan kedua anak itu menangis. "Mengapa kamu meninggalkan aku." ujar Yana.
"Kita sudah terjebak lama di sana, harusnya sekarang bisa bersantai di hotel." jawab Chaka.
"Sudahlah, jangan mengomel lagi. Nanti aku beri hadiah bermesraan, tak kurang satu menit pun." Yana berusaha meredakan emosi suaminya.
Chaka tersenyum lebar. "Baiklah, aku sangat setuju." menjawab cepat, untuk sesuatu yang diinginkan.
Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai. Yana membersihkan diri terlebih dulu, lalu merias wajahnya secantik mungkin. Chaka juga mempersiapkan diri, namun lebih cepat dari Yana. Chaka menunggu Yana sambil membuka laptopnya, mengerjakan tugas yang belum diselesaikan.
Yana muncul sambil membawa kopi. "Minum dulu, santai saja. Meregangkan otot-otot di kepala, perlu pikiran tenang."
"Iya aku memang ingin minum kopi, agar bisa sekalian menelan laptopku." Chaka mencium aroma wangi dari arah Yana, tangannya memegang gelas hati-hati.
Menyeruput perlahan-lahan, ternyata membuat lidahnya merasa nyaman. Dia tidak perlu kepanasan, dan tiup berkali-kali. Chaka meletakkan gelas, lalu berdiri sejajar dengan Yana. Tangannya meraih tali baju tidur Yana, melepaskan perlahan-lahan agar lebih menarik.