Loven Draft

Loven Draft
Yana Merana



Yana melihat manusia mirip dengan Chaka, di balik rak belanjaan. Yana menyenggol Kaila, disuruh cepat menoleh ke arah yang dilihatnya.


"Itu tadi Kak Chaka 'kan?" tanya Yana.


"Kakak jangan berhalusinasi, Kak Chaka 'kan sudah meninggal." jawab Kaila.


Yana menyeret paksa Kaila, meninggalkan troli sejenak. "Ayo bantu Kakak periksa, kita harus memastikannya."


"Dari tadi aku tidak melihat manusia siapapun." jawab Kaila.


Ada seorang laki-laki yang membelakangi Yana dan Kaila. Gayanya mirip dengan Chaka, menggunakan baju kaos santai. Dia sedang membaca buku terlihat fokus, tidak memperhatikan banyak orang. Yana menarik bajunya, lalu malu sendiri saat laki-laki itu menoleh.


"Eh maaf, aku kira seseorang yang aku kenal." ujar Yana.


"Iya, tidak apa-apa." jawabnya pelan.


Yana rasanya ingin guling-guling, karena malu setengah mati. Semua orang memperhatikan dia, yang sapa sembarang orang. Beberapa perempuan remaja tertawa, melihat tingkah Yana berlari terburu-buru.


"Ayo, kita main lompat dinding." Yana ingin menghibur diri, paksa adiknya sedikit saja.


"Kali ini aku turuti keinginanmu, kasian melihat Kakak sudah dipermalukan. Lagipula baru ditinggal Kakak ipar, rasanya sedih sekali." Kaila melangkahkan kaki, dengan sedikit cepat.


Mereka sudah sampai di area permainan, dan berganti baju seragam. Kaila dan Yana menempelkan punggungnya ke tembok. Sudah puas giliran mengambil foto masing-masing.


"Sekarang pasti Kakak lapar 'kan? Ayo makan hotpot saja, di mall ini enak sekali." rayu Kaila.


Yana berjalan loyo. "Tidak berselera."


"Harus dipaksa, ayo semangat Kak." Menggandeng sebelah tangan Yana, sambil bersandar di pundaknya.


"Hanya Kakak yang mengeluh, sedangkan Kaihan bilang aku langsing." Menggoyangkan kepala, dengan percaya diri.


"Dibandingkan kalian, hubunganku sebenarnya jauh lebih beruntung. Hanya saja, sekarang sudah berakhir." Yana memasang raut wajah sedih. "Apa aku sudah seperti tikus got, tidak pernah mandi. Kusam sekali, kebanyakan menangisi kepergiannya."


Kaila mengangguk tanpa dosa, malah sengaja memanasi. "Iya, sekarang mulai timbul bintik hitam. Hayo, malu loh kalau harus tampil ke panggung." Menunjuk-nunjuk wajah Yana, seolah ada yang mengerikan.


Mereka sibuk berbicara terus, sampai tanpa sadar Yana menabrak seorang pria. Kaila terdiam sejenak, melihat Yana yang mematung.


"Eh, bukannya anda orang yang sudah mengadakan lelang jas waktu itu?" tanya Yana.


"Iya, sekarang sudah tidak ada hubungan denganku lagi." jawab Baskoro.


"Jangan seperti itu, bagaimana pun dunia menyambut jika dirimu bersedia tanggungjawab." Yana sengaja menyindirnya.


"Apa yang akan dipertanggungjawabkan? Kamu itu perempuan biasa, tidak tahu tentang bisnis." jawabnya, sambil tersenyum mengejek.


Yana berpangku tangan. "Ah, jangan meremehkan begitu? Jika anda paham tentang bisnis, pasti tahu tentang kewajiban kerjasama." Sengaja ingin dia jujur, jadi terus menekannya.


Pria itu hendak menonjok Yana, namun datang seorang pria paruh baya menghalanginya. Yana menunduk sebentar lalu menutup mulut, ternyata kedatangan tuan Bayoli rekan dalam kerjasamanya.


"Lepaskan aku, ini bukan urusanmu." ujar Baskoro, dengan amarah menggebu-gebu.


"Tuan, seperti ini juga tidak baik. Bagaimanapun orang di hadapanku wanita, kamu jadi terlihat seperti pecundang jika memukulnya. Aku hanya menjaga harga dirimu agar tidak jatuh." ucap Bayoli.


"Kamu orang asing yang tidak tahu darimana. asalnya, lalu berbicara demikian di hadapanku. Sungguh ada harga diri sekali!" Baskoro tersenyum mengejek.


"Baiklah, aku lepaskan." Menghempaskan tangan Baskoro dengan cara kasar.