
Kaila tersenyum ke arah Isruni. "Aku kasihan melihatmu tampak kusam, pasti akibat sakit. Aku suapi iya, sudah membawakan makanan enak."
"Tidak perlu repot-repot, biar aku makan sendiri saja." jawab Isruni.
"Nona cantik terlalu sungkan, kita 'kan teman." Kaila menyuapi Isruni sampai mulut penuh, dan lama kelamaan membuat hati jadi dongkol.
"Biar aku makan sendiri saja." Isruni merebut mangkuk, bahkan membanting sendok.
"Maaf jika mengganggu, sekarang kami pulang saja." Kaila menarik Kaihan keluar dari kamar.
"Awas kamu Kaila, aku pasti akan membalas." Menonjok dari kejauhan, menggerak-gerakkan tangan di udara.
Akhirnya Chaka dan Yana sudah bisa kembali pulang ke hotel. Dari tadi tubuh Yana merasa pegal, karena rebahan sembarangan tidak seperti posisi biasanya.
"Ternyata, tidur tidak menggunakan bantal membuat tubuh sakit semua." ujar Yana.
Chaka memijat pundak istrinya. "Satu frekuensi sayang, aku juga keram kaki."
"Enak sekali, pindah ke sebelah sini." Menunjuk telapak tangannya."
"Iya istriku, aku akan bertanggungjawab. Kali ini mohon ampunan mu, karena telah menyusahkan semalaman." Chaka mengatupkan tangannya.
Kaila cekikikan saat melihat postingannya diserbu tanggapan super cinta. Kaihan melewatkan beberapa foto yang diunggah Kaila, karena sangat sibuk beberapa hari ini.
"Kalau dipikir-pikir, cantik juga Kaila yang ini." Memperbesar layar foto di ponselnya. "Sepertinya ini editan, kelihatan sekali loh. Hahah... pakai make up baju tidur." Merasa lucu, tepuk-tepuk bantal.
Tasya mengelus kepala Kaila. "Kamu bahagia sekali."
"Iya Ma, hari sebagus ini kenapa harus merana." jawab Kaila.
"Ayo ikut kami pergi, Mama mau traktir Bibi Een makan." ucap Tasya.
"Baiklah, aku segera bersiap." Kaila melompat-lompat bahagia.
Sudah sampai di restoran, bibi Een makan dengan sangat lucu. Dia tidak tahu cara menggunakan sumpit, dan pasta selalu saja jatuh. Mencoba menusuk ikan dengan garpu, malah sampai hancur tidak masuk ke mulut juga.
"Aku belajar mau jadi orang kaya." Bibi Een menusuk ayam dengan kuat, sudah merasa jengkel dipermainkan.
Pletak!
Tulang menabrak dahi orang yang duduk di meja sebelah. Bibi Een segera minta maaf, namun tetap saja dimarahi. Tasya mewakili minta maaf, atas perbuatan Een.
"Maaf Nyonya, aku sudah membuat malu." ujar Een.
"Tidak apa-apa, namanya juga belajar. Dalam hidup kita perlu melakukan kesalahan, agar suatu hari kita menjadi orang yang berhasil. Pengalaman adalah pelajaran berharga dalam diri manusia." jelas Tasya.
Terharu, usap-usap mata yang berair. "Terima kasih Nyonya." Memeluk Tasya.
"Iya Bi, sama-sama." jawabnya.
Kembali fokus ke meja sendiri, melihat Kaila yang diam seribu bahasa. Awalnya tertawa, akhirnya merasa kasihan. Bibi Een tidak tahu permasalahannya, karena baru kenal juga.
"Kamu masih berantem dengan Kaihan?" selidik Tasya.
"Kapan aku mengatakannya, aku tidak bilang apapun." jawab Kaila.
"Aku yang melahirkan, tentu tahu watak putriku seperti apa." Tasya mengakui bahwa dia seorang ibu.
"Sekarang sudah baikan kok Ma. Komunikasi mulai lancar, tidak renggang lagi." jawab Kaila.
Selesai juga bulan madu di Korea, Yana dan Chaka kembali ke Indonesia. Febby dan Artha yang menjemputnya, lalu Febby mengajak singgah ke restoran.
"Kalian baru pulang siang ini, pasti belum makan. Ayo singgah ke restoran daging rebus pedas, aku tidak sabar lagi." Febby ingin makan-makan.
"Boleh, kamu yang traktir." jawab Yana.
"Yang keturunan konglomerat siapa, yang bagian traktir malah rakyat jelata." Bergumam lirih namun terdengar, dengan orang di sebelahnya.