
Chaka menurunkan kacamatanya, kini dia menjadi penguntit. Dari kejauhan terus memperhatikan Yana dan Ronal, karena penasaran dengan hal apa yang akan dilakukan.
"Hahah... terdengar tidak masuk akal. Jangan-jangan, kamu sudah tidak buta lagi." Tangan Yana menepuk pundak Ronal.
"Mana ada, aku saja masih menggunakan tongkat." jawab Ronal.
Yana berjalan-jalan dengan Ronal, ke sebuah taman. Tidak jauh dari tempat berkemah, jadi tidak mungkin sampai kesasar. Tiba-tiba saja, Ronal kebelet. Dia tidak tahan lagi, untuk menunda kepergiannya.
"Yana, aku ke toilet dulu iya." ucap Ronal.
"Iya Ronal, nanti kembali ke sini lagi iya. Aku mau keliling dulu, untuk melihat pemandangan sekitar." jawab Yana.
Ronal mengacungkan dua jempolnya, lalu berlari terbirit-birit. Langkah kaki dan matanya sibuk mencari tempat, yang bersedia membuang hajat panggilan alam.
Yana sampai di ujung jalan setapak, lalu melihat sebuah gubuk kecil. Yana segera memasukinya, lalu membidik dirinya sendiri. Yana tersenyum, sambil melambai di depan kamera. Dia sangat lega, merasa sangat-sangat terhibur.
"Hahah... mengapa baru bertemu dengan tempat ini. Sungguh nyaman sekali, menghirup udara segar." monolog Yana.
Tiba-tiba saat mau keluar, malah pintunya terkunci. Yana dikurung di dalam gudang, dengan seseorang tidak bertanggungjawab. Tentu saja musuh misterius, yang tidak diketahui orang-orangnya.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Tolong!"
"Tolong!"
Kaila dan Kaihan membunyikan peluit, lalu bapak kepala sekolah menyuruh seluruh murid tepuk Pramuka.
Plok!
Plok!
Plok!
Plok!
Ronal segera berlari, saat mendengar suara teriakan Yana. Baru saja mendekat ke arah pintu, tiba-tiba saja Yana sudah keluar duluan. Yana merasa lega, karena pintu tidak terkunci lagi.
"Iya Yana, sama-sama." jawab Ronal
"Aku takut sekali, sepertinya ada yang mengincar diriku." ucap Yana.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Setidaknya, kamu sudah berhasil keluar dari sini." jawab Ronal.
Yana melepaskan pelukannya, tadi hanya refleks saja. Tidak tahu mengapa, dia tidak takut dengan Ronal. Mungkin, karena Ronal tidak bisa melihatnya.
”Rasanya berbeda, dengan seseorang yang ada di pesta permen.” batin Yana.
Seseorang memperhatikan dari kejauhan, dengan mulut menggerang. Sungguh kesal, melihat pemandangan tersebut. Namun Chaka merasa gengsi, untuk muncul di hadapan Yana.
”Itu Ronal semakin seenaknya saja. Peluk istri orang, pegang sana, dan pegang sini.” batin Chaka menggerutu.
Ronal menyelipkan sehelai rambut Yana, ke sela daun telinganya. "Kamu tadi ngapain memeluk aku?"
"Aku terharu dengan cara kamu, yang datang tepat waktu. Sepertinya kamu selalu ada untukku, disaat aku sangat membutuhkanmu." jawab Yana.
Chaka bergumam-gumam lirih. "Hei, sebenarnya aku yang telah menolong dirimu."
Yana dan Ronal segera melangkahkan kakinya, kembali ke lokasi berkemah. Kegiatan di lapangan sudah selesai dilakukan, dan saatnya Kaila dan Kaihan beristirahat.
"Kalian dari mana saja?" tanya Kaila.
"Kami dari taman, jalan-jalan sebentar." jawab Yana.
"Aku tidak suka, bila Kak Ronal terlalu dekat." ucap Kaila, dengan spontan.
"Bukankah Kakak yang menginginkan, mengapa kamu berbicara seperti itu." jawab Yana.
"Sebagai Adik, aku ingin yang terbaik untuk Kakak." Mengatupkan tangan, sambil senyum.
"Alasan saja." Yana mencibir Kaila, sambil mencebik bibir bawahnya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Chaka berbunyi, dan dia segera berlari menuju tempat lain. Dia tidak ingin siapapun mengetahui, apa yang terjadi pada hatinya. Mungkin Chaka mulai menganggap, status suami istri berlaku.