
Chaka duduk tenang berhadapan dengan Devin, sedangkan Tasya dan Yana mengintip. Mereka takut Devin marah-marah, soal Chaka yang pura-pura meninggal.
"Jangan-jangan, Papa mau interview suamiku dengan galak." ujar Yana.
"Jangan berpikir sembarangan, pakai serabut kelapa juga tidak mungkin." jawab Tasya.
"Serabut kelapa apaan? Apa serabut kelapa bisa membuat kepala suamiku botak?" Yana masih fokus mengintip.
Tasya sengaja menakuti putrinya. "Kalau bukan serabut kelapa, mungkin Papa kamu bawa gunting. Kalau tidak mencoblos jantungnya, mungkin dugaan paling terendah, menggunting kumisnya hingga sisa satu helai." Mau tertawa, takut kedengaran.
Yana menoleh ke arah mamanya. "Keterlaluan, Mama mertua yang jahat. Di belakang mendoakan hal buruk untuk menantu."
"Hal buruk apaan, Mama hanya menjelaskan sifat Papa kamu." jawab Tasya.
"Papa tidak akan menunggu dirasuki alien, baru bisa bijak 'kan?" Yana terkejut, saat tirai pintu ditutup. "Hih, apaan si Papa."
"Hahha... sudah Mama bilang, dia mau berbuat sesuatu pada suamimu. Cepat pasang sayap, jadilah malaikat pelindungnya." Masih sempat bercanda.
"Saham Chaka Alexander menurun drastis." ujar Devin.
"Mendadak sekali, sejak aku menyerang Ronal habis-habisan." jawab Chaka.
"Pria muda ini bergerak gesit, namun ceroboh dalam tindakannya." ungkap Devin.
Chaka menduga-duga sebuah hal. "Dia ini bekerjasama dengan tuan Bayoli, bisa saja cepat menghasutnya."
"Tidak perlu menghasut lagi, karena tuan Bayoli ayahnya." ujar Devin.
"Hah, benar saja? Dalam hal ini aku tidak tahu."
"Berkelana terlalu jauh, masih ketinggalan info. Kamu pasti heran 'kan, punya Papa mertua sepintar ini." Membenarkan jas, dengan senyum bangga.
Kaila tidak menyerah, meski Isruni menolak menjadi saksi. Di tengah kesibukan berlatih, Kaila masih menemui Isruni di asramanya.
"Isruni, aku mau bicara sebentar." berteriak di depan pintu.
"Aku menolak permintaanmu." jawab Isruni, dengan setengah berteriak.
"Buka dulu pintunya, setidaknya berikan penjelasan padaku." pinta Kaila.
Isruni membuka pintu. "Aku rasa, tidak ada hal yang perlu dijelaskan."
"Aku ingin tahu, apa alasan kalian membunuh orangtua Kak Chaka." ujar Kaila.
Kaila sengaja menjebaknya agar bicara, padahal dia memutar perekam suara dalam tas sekolahnya.
"Orangtua Chaka yang menyebabkan Mama kami meninggal." jawab Isruni.
"Mengapa tidak toleransi dengan melapor pada polisi, main hakim sendiri juga tidak bagus." ujar Kaila.
"Aku rasa, kalian juga bukan keluarga yang bisa mengampuni pembunuh." jawab Isruni.
"Iya, itu prinsip banyak orang. Namun, tidak ada salahnya memaafkan. Aku harap, kamu dan keluargamu berhenti di batas ini. Menyerahkan diri akan terlihat bertanggungjawab, tidak dinilai sebagai pecundang sejati." Kaila menawarkan persyaratannya.
"Orangtua Chaka juga kabur saat menabrak Mama, lebih pecundang yang mana? Bertahun-tahun kami ditinggalkan, dengan rasa duka mendalam. Apa saat mengetahui pelakunya, kami harus membiarkan lepas." Isruni mendorong Kaila, hingga tersudut ke tembok. "Kamu tidak tahu apa-apa, jadi berhenti ikut campur."
"Aku mengerti perasaanmu, namun balas dendam bukan penuntasan paling terbaik." jawab Kaila.
"Aku tidak butuh menjadi terbaik, yang aku butuhkan adalah kepuasan." Isruni mencengkeram lengan baju Kaila.
"Baiklah, kita lihat saja di persidangan nanti. Siapa yang akan dibenarkan hakim, pasti akan ditentukan dengan teliti." Kaila tersenyum, menghempaskan tangan Isruni.