
Binazir melihat kalungnya tidak sepenuhnya utuh, masih ada bekas yang samar. Jadi seperti itu rasa kesalnya pada Dayu, meskipun memaafkan, namun sulit sekali untuk merespon.
Dhisa melihat Binazir yang duduk di emperan kosan. "Bina, kita keluar sebentar yuk!"
"Tidak bisa, aku sedang menunggu pesanan barang online." jawab Binazir.
"Oh gitu, iya sudah aku bantu Aurin di dapur." Dhisa tersenyum imut.
"Kamu berniat sekali meninggalkannya. Tidak jadi pergi, baru ingin menolong." ledek Binazir.
Dhisa hanya tertawa saja, tanpa menjawab lagi. Dhisa menghampiri Aurin yang hanya memasak ubi jalar rebus.
"Hah? Ngapain kamu membuat masakan seperti ini?"
"Aku sekarang mulai gendut, jadi harus diet. Tanganku terlihat sedikit bergelambir, nanti tidak seksi lagi." jawab Aurin.
Seorang kurir tidak sengaja terjebak macet, lalu sebuah motor menabrak pinggir kardus. Kardus sobek dan terpelanting, hingga mengenai sebuah besi lancip pinggir jalan.
"Waduh, bisa kena marah dengan konsumen ini. Hah, yang naik motor mengapa tidak hati-hati. Sebagai pengguna jalan jangan kebut-kebutan dong, pikirkan perasaan kami para pekerja ini." Bapak kurir menendang penyangga motornya, lalu berlari ke pinggir jalan.
Melihat paket yang sudah rusak, bapak Wiloyo jadi ingin menggantinya dengan plastik baru. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada alat untuk packing. Bapak Wiloyo memeriksa apakah barang masih baik-baik saja, namun malah plastik jebol karena kepenuhan muatan.
Bapak Wiloyo memasukkannya ke dalam keranjang rotan, bersamaan dengan barang-barang yang lain. Sesampainya di kosan mengetuk pintu terlebih dulu, sampai Binazir membukanya dengan membawa uang. Total barang dan ongkos kirimnya sekitar satu juta, jadi langsung diberikan oleh Binazir.
"Dik, maaf iya tadi kardusnya bolong, bahkan plastiknya juga sobek." ucap pak kurir, seraya mengangkat bra ke atas udara.
Binazir membulatkan kedua matanya, lalu merampas barang tersebut dengan cepat. Dia dengan malu, menyembunyikan bra di belakang punggung.
"Ini salahku, yang pesan melebihi kapasitas standarisasi pembelian." Binazir menyipitkan mata ke arah pintu kosan.
"Dik, barangnya mau difoto sama orangnya."
"Pergi!" Berteriak dengan suara lantang, sampai pak kurir menutupi telinganya dengan tangan.
Aurin buru-buru keluar sambil membawa panci. "Ada apakah gerangan?"
"Dia pengganggu, cepat usir." Binazir melotot.
Aurin langsung memukul kepala bapak kurir menggunakan panci. Tetangga komplek sampai melihat ke arah mereka berdua dengan membuka mulut lebar, perdebatan itu agak aneh dan mengherankan. Mengapa kurir diserang sampai segitunya, pikir mereka.
"Ampun Dik, aku tidak bermaksud." jawab bapak kurir.
"Tidak bermaksud namun diam saja." ujarnya kesal.
"Bagaimana mau menjelaskan, temanmu sudah berteriak seperti orang setres." jawabnya, berdasarkan fakta.
Bapak kurir langsung berlari terbirit-birit, karena percuma menjelaskan dengan Aurin. Rasa tidak terima, membuat Aurin mengejarnya sampai lapangan voly.
"Mau kabur kemana anda, setelah bilang temanku setres, beraninya tidak bertanggungjawab." Aurin berbicara dengan nafas terengah-engah.
"Maaf Dik, barangnya mengalami kecelakaan di jalan. Aku benar-benar tidak sengaja, ingin membuatnya rusak." jawab Wiloyo.
"Harusnya, Bapak juga mengerti, bahwa temanku beli barang dengan uang, bukan sekadar memetik daun nangka di halaman." celoteh Aurin.
"Sekali lagi aku minta maaf." Wiloyo berlari menghindar, saat panci dilempar ke arahnya.
Wiloyo berlari tunggang langgang, mengambil motornya yang tertinggal. Binazir membuka paket satu persatu, semua barang lengkap. Hanya kardusnya yang rusak, dan beberapa plastik sobek. Aurin sampai rumah kelaparan, lalu memasak mie instan.
"Aurin, katanya kamu mau diet mengapa makan mie instan?" tanya Dhisa.
"Aku khilaf bila denganmu." Aurin terus menyendok kuah sampai penuh.
"Sudah tahu khilaf, masih saja diteruskan." ujar Dhisa.
"Aku tidak tahan lagi, aku benar-benar kelaparan." jawab Binazir.
Keesokan harinya, mereka pergi ke kampus bersama. Dayu dan Bayu berpapasan dengan mereka, namun Binazir sengaja mengacuhkannya. Binazir malas melihat Dayu, mengambil langkah cepat lebih baik. Aurin tersenyum dalam diam, tatkala melihat Yakult yang sedang berada di lapangan.
Dosen Sheshy melempar hasil skripsi sambil membanting meja. "Sebentar lagi kalian akan magang di perusahaan ternama. Perusahaan Shimpony ini, tidak bisa menerima kekurangan yang berlebihan. Jika kalian bersalah, maka masuk ke ruang pelatihan. Jika masuk ruang pelatihan, maka akan menunggu waktu magang yang lebih lama."
"Mengapa tidak magang di perusahaan lain saja. Selalu saja memaksakan kehendak di perusahaan, yang jelas-jelas daya saing tinggi." Binazir angkat suara.
"Kamu bicara seperti itu, karena tidak mampu bersaing." Dosen Sheshy semakin kesal dengan Binazir.
"Baiklah, nanti aku akan lembur untuk memperbaikinya." Binazir cemberut.
Dosen Sheshy hanya menyampaikan beberapa hal, yang perlu dipersiapkan sebelum magang. Tuan muda Argen adalah pimpinan perusahaan, yang lebih menginginkan hasil sempurna pada setiap penampilan laporan pekerja. Tak terkecuali karyawati magang pun, harus melakukan hal serupa juga.