Loven Draft

Loven Draft
Nomor Dirahasiakan



Tiba-tiba ponsel Chaka berbunyi, dan tertera tulisan dirahasiakan. Chaka memilih tidak menerima panggilan tersebut, karena tidak jelas asal usulnya. Namun masih saja, nomor itu terus menghubunginya. Bahkan kali ini, lebih membuat risih.


Chaka terpaksa menggeser panggilan asing tersebut. "Halo, siapa ini?"


"Aku adalah orang yang akan membunuhmu. Namun sebelum itu, aku pastikan kau mengalami teror manis." jawabnya, dengan datar.


"Hei pengecut, ancamanmu ini tidak mempan untukku." ujar Chaka.


"Kita lihat saja nanti hahah." Tertawa dengan suara mengerikan.


Chaka baru saja mau bicara, namun sudah dimatikan. Bahkan dia tidak dapat menghubungi si penelepon.


"Siapa si dia, mengapa nomor ponselnya tidak terlihat. Pasti dia menggunakan pengaturan privasi khusus." Chaka merasa kesal sendiri.


Matahari mulai merangkak dari hinggapannya, dan giliran senja yang merayap pada kaki langit. Chaka segera kembali ke rumah, lalu menyuruh beberapa karyawati datang ke rumah. Yana yang sedang berjalan di teras, diganggu oleh tindakan Chaka.


"Itu di sana, banyak sekali kuman. Apa lagi sandal itu, baru dibawa melangkah ke jalan kedurhakaan." Chaka melirik tajam.


"Apaan si, dasar pria tidak jelas." Yana menggerutu.


Dia memilih berpindah tempat, duduk di sebuah kursi. Namun tiba-tiba Chaka menyuruh perempuan muda itu, untuk memukul-mukul kursi yang diduduki Yana.


"Itu ada lalat, tidak bisakah kau melihatnya." ujar Chaka.


"Mana tuan, aku tidak melihat." jawabnya.


"Haduh, sepertinya matamu bermasalah. Besok, kau konsultasikan ke dokter saja." ucap Chaka.


"Baiklah tuan." jawabnya.


”Hih menyebalkan sekali tuan Chaka, tidak bisakah melihat diriku gembira sedikit. Mengapa dia seenaknya, menyuruh diriku datang ke rumah.” batinnya.


"Hah, ini celana pendek siapa? Mengapa begitu melar karet pinggangnya. Ditambah lagi jamuran, dan ada titik hitam. Peribahasa mengatakan, tai lalat hinggap." Artha memperhatikan jemuran celana, yang berwarna putih lusuh tersebut.


Febby yang sedang membuka jendela, hanya dapat melihat punggungnya. Wajahnya tidak terlihat sama sekali, jadi tidak tahu bila orang tersebut adalah Artha.


"Pria mesum! Awas kau, akan aku pukul menggunakan jaring listrik pembunuh nyamuk." gerutu Febby.


Febby mengepalkan kedua tangannya, dan benar-benar merasa geram. Febby keluar dari kosan, seperti vampire yang mencium darah dipanggang. Kini dia siap berteriak, dengan taring giginya yang keluar.


"Om genittt.....!" Suaranya menggelegar, sampai membangunkan satpam yang tertidur di kandang kambing.


Artha menoleh ke arah Febby, bersamaan dengan satu pukulan jaring listrik. Artha kejang-kejang mendadak, dan tergeletak di tempat.


"Waduh gawat! Dia tewas tidak iya." Febby segera melihat kondisinya, sambil menepuk-nepuk pipinya.


Febby segera membawanya ke rumah sakit. Setelah dari tadi mengalami kesulitan, saat meminta bantuan warga. Tidak butuh waktu lama, Artha telah sadar.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Febby.


"Bagaimana mungkin, kau masih sempat bertanya. Harusnya lihat dengan kedua bola matamu." jawab Artha.


"Sorry deh, aku kira tukang mesum." ucap Febby.


"Hanya karena melihat celana tidak bermutu bin jamuran, kau sampai berpikir segitunya tentangku." jawab Artha.


Febby merasa tidak terima, karena Artha mengatai barang miliknya. "Jadi, kau mengatai punyaku. Wah, wah, kau benar-benar mengajak perang."


"Makanya jangan sembarangan bertindak lagi." Artha protes, dengan mulut bergumam.