Loven Draft

Loven Draft
Yana Disandera



Yana bingung karena tidak tahu akan dibawa kemana. Mobil berjalan dengan tidak tentu arah, menuju ke sebuah rumah tidak berpenghuni.


"Ronal, kenapa kamu melakukan ini padaku. Padahal kamu sudah mempunyai istri." teriak Yana.


Ronal menyentuh pipi Yana. "Aku sangat menyukai kamu, tentu saja menculik adalah solusi terbaik. Jika aku biarkan kamu bersama Chaka, itu sangat tidak adil."


"Aku tidak peduli, dan yang aku cinta cuma Chaka seorang." ungkap Yana.


"Kamu memang terlalu berani, menyebutkan laki-laki lain di depanku. Sangat arogan, jelas-jelas menyelamatkan diri tiada harapan." Ronal mengejeknya.


"Yang lebih kasian itu kamu, sudah bersalah masih membuat kesalahan baru. Kamu pikir dengan menculik aku, mereka tidak akan dapat menemukan. Melihat kemampuan luar biasa suamiku, aku yakin cepat atau lambat aku dibebaskan." jawab Yana, dengan percaya diri.


Sudah tengah malam, Chaka masih saja melakukan pencarian. Pengawal Belko juga tidak tenang, Kaihan dan Devin pun ikut serta membantu.


"Kemana si Ronal membawa istriku." Chaka menggerutu, gelisah sendiri.


"Sepertinya tempat yang tidak dapat dijangkau oleh kita." jawab Kaihan.


Chaka menjalankan mobilnya ke arah jalan pariwisata, sangat kecil dan berbelok-belok lorongnya. Banyak tumbuhan kaktus yang ditanam, di antara pohon-pohon besar. Ada juga tumbuhan mawar, yang diletakkan di emperan gedung. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, kecuali suara jangkrik bersahut-sahutan.


"Kenapa malam ini sangat mencekam, tidak ada kuntilanak gantung diri 'kan?" Belko masih sempat-sempatnya mengeluarkan bahan lawakan.


"Kuntilanak tidak ada pengawal Belko, kecuali mencari kamu untuk jadi suaminya." jawab Kaihan, dengan candaan.


"Hahah... hahah..." Devin dan detektif Melvi tertawa, mendengar percakapan mereka.


Kaila sedang menutup wajahnya dengan buku, lalu terkejut saat membukanya. Sudah ada Kaihan di depan kepalanya, sambil melemparkan senyuman manisnya.


"Kamu mengejutkan aku saja." ujar Kaila.


"Aku tahu kamu gelisah, karena Kak Yana belum ditemukan." jawab Kaihan.


"Aku ingin makan berdua denganmu, berani-beraninya menolak." teriak Ronal.


"Kamu gila, aku tidak mau bersamamu." jawab Yana tegas.


"Aku tidak butuh persetujuan dari kamu, aku akan tetap melakukan apa yang aku suka." ujar Ronal.


"Aku bisa menghalangi yang kamu suka, selama itu menganggu diriku." jawab Yana, dengan santainya.


Tasya dan Bibi Een mondar-mandir, sama-sama menghentakkan kaki. Tiba-tiba, mereka memanggil sebutan masing-masing secara bersamaan.


"Bibi!"


"Nyonya!"


"Bibi saja yang duluan." Tasya melihat mulut bibi Een mulai terbuka.


"Iya, memang ada yang mau aku bicarakan. Namun, nyonya saja yang bicara duluan."


"Bi, sebenarnya aku mau mencari Yana juga. Aku takut dia kenapa-kenapa, apalagi traumanya belum sembuh total." ungkap Tasya.


"Iya sudah, sekarang kita bantu tuan Chaka mencarinya." jawab bibi Een.


Bibi Een mengikuti langkah kaki Tasya, yang sudah keluar rumah duluan. Mereka masuk ke dalam mobil, lalu Tasya mulai menghidupkan mesinnya. Tasya fokus mengemudikan mobil, dengan mengarahkan setir kendaraan roda empat tersebut.


"Mereka mungkin sedang dalam perjalanan pulang, ini sudah tengah malam." ujar Tasya.


"Iya, ikut mencari tidak masalah juga. Semakin banyak yang ikut serta, maka kita akan cepat bertemu nona Yana." jawab bibi Een.