
Febby melahap makanan dengan serius, sangat menikmati sate kambing. Ukurannya jumbo, jadi tidak rela berbagi.
"Ya ampun Feb, lihat deh bibir kamu penuh makanan." tegur Yana.
Artha menarik tisu dari wadahnya. "Anak kecil yang makan, memang seperti ini Kakak ipar." Mengelap bibir Febby.
"What? Mengapa kamu memanggilku dengan sebutan begini." ujar Yana.
"Aku 'kan adik sepupu Chaka, dan sebentar lagi akan menikah dengan temanmu. Senang tidak, akhirnya kalian berdua jadi keluarga." Artha mengedipkan matanya.
"Aku heran, kamu kok bisa suka sama temanku yang cuek begini?" Yana ingin tahu.
"Sebenarnya dia beruntung, bisa disukai olehku. Aku terlalu tampan, untuk bersama dengannya." Malah mengatai Febby, langsung di depan orangnya.
Febby berhenti makan, lalu melemparkan tisu ke kepala Artha. Berani-beraninya menghibah di depan orangnya. Suara batin Febby sudah memakinya, dan siap melemparkan senjata pamungkas.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata Kaila yang melakukan panggilan video. Yana menggeser tanda berwarna hijau, lalu berbicara dengan sang adik.
"Ada apa?" tanya Yana.
"Kak, bisa-bisanya bersantai makan. Apa tidak tahu, waktuku sudah habis sehari. Itu artinya masih ada dua hari, untuk membuktikan pada Papa." Kaila cemberut.
"Bagaimana nilai kamu?" tanya Yana, sambil menikmati makanan.
"Orang yang banyak tertawa itu menandakan lemah, karena tidak bisa berada di posisimu. Kalau membantu kamu hanya untuk mengusir tanggapan mereka, aku juga tidak akan sudi. Namun demi membantumu dapat kepercayaan depan Papa, aku menjadi sangat bersedia." jelas Yana.
"Kamu perhitungan sekali Kak." Kaila cemberut.
"Ini bukan soal perhitungan supaya mendapatkan imbalan. Namun, ingin kamu melakukan sesuatu karena niat. Kakak tidak suka, bila kamu hanya ikut-ikutan." jawab Yana.
Akhirnya Yana memutuskan untuk pulang, setelah makan enak bersama Artha dan Febby. Setelah mengantarkan mereka ke tempat tinggal masing-masing, Yana pulang sendirian menuju rumah.
Di dalam perjalanan, ada mobil yang mengikuti dari belakang. Yana mempercepat laju kendaraannya, dengan perasaan cemas. Pulang sampai larut malam, namun tidak membawa pengawal. Jika orangtuanya tahu, pasti akan sangat marah.
"Siapa sebenarnya mereka, aku harus berbelok ke lorong sempit saja. Alihkan perhatian mereka secepatnya, sebelum terlambat menyelamatkan diri." Yana berbelok ke area perumahan.
Setelah itu dia berputar pada jalan lingkaran, lalu mobilnya berputar arah balik. Mobil para penjahat itu tidak terkecoh, masih bisa mengejar mobil Yana. Ingin menelepon Febby, takut merepotkan. Dia pasti capek baru saja sampai, dan hal ini membuatnya teringat Chaka. Biasanya, laki-laki itu selalu berada di depan. Dia berusaha melindungi istrinya dengan tubuh yang tegap.
Yana merasakan tabrakan dari samping, namun masih bisa dikendalikan. Mobil tidak terguling sudah bersyukur, masih lagi ditabrak dari belakang. Yana mengendarai mobilnya lebih cepat lagi, tidak mempedulikan apa yang diterjangnya.
Bruk!
Yana tidak sengaja menabrak hewan ternak yang lewat. Ayam bangkok itu mengeluarkan darah dari mulutnya, dan Yana merasa bersalah. Dia tetap melajukan kendaraannya, sampai dikejar-kejar warga.
”Ya Tuhan, tolong aku. Harusnya kemana aku berlari, aku tidak tahu kawasan ini.” batinnya berdoa.