Loven Draft

Loven Draft
Kemah



Yana mengambil pecahan gelas di lantai, lalu tangannya tidak sengaja tergores. Mengeluarkan darah segar dari jari telunjuknya. Ronal segera mengobati tangan Yana, dengan membersihkan luka-lukanya terlebih dulu.


"Satu mata sapi untuk berdua." ujar Kaila.


"Penghematan sekali, seperti tidak sanggup beli telur." jawab Yana.


"Bukan tidak sanggup membeli, namun tidak sanggup tanpa Kaihan." Kaila melihat Yana, dengan senyum genitnya.


"Hoek... hoek... muak Kakak mendengarnya. Dasar bocah cilik bucin!" Yana bertindak memuntah-muntahkan sesuatu, padahal tidak ada apa-apa.


"Namun ini kenyataannya Kak." ujar Kaila.


"Halah, pernyataan bohong itu. Kalau kamu tidak sanggup tanpa Kaihan, tidak mungkin bisa bernafas sampai sekarang." jawab Yana.


Kaila nyengir. "Heheh... iya juga Kak."


"Dasar kufur nikmat." Yana menjulurkan lidahnya.


Sampai di tujuan, mereka membuat tenda. Kaila dan Kaihan duduk di kursi paling pojok, sambil meniup baling-baling. Beberapa menit kemudian, mereka istirahat sejenak.


"Cie, duduk berduaan!" ledek Kaihan.


"Cie Kak Yana!" Kaila sengaja jadi kang comblang.


"Ini juga terpaksa, karena tidak kebagian tempat duduk." jawab Yana.


"Sungguh banyak alasan." Kaila menjulurkan lidahnya, dan berlagak mau muntah.


"Aku sedang tidak beralasan, ini kenyataannya." Yana resah dengan gerakannya di atas kursi.


Chaka tidak ada rasa dengan Yana, namun tidak tahu mengapa ada rasa tidak rela. Bagaimana mau rela, melihat istri sah bersama pria lain. Bagaimanapun juga, Chaka adalah suami sahnya.


"Awas tuh Ronal, lain kali aku kerjain. Aku pasti sudah gila, sampai seperti ini membuntuti Yana." Chaka bagaikan kebakaran jenggot sendiri, di balik rerimbunan pohon.


Kegiatan selanjutnya adalah berjalan-jalan ke dalam hutan. Kegiatan itu dilakukan berkelompok, dan Yana hanya menunggu bersama Ronal. Kaila dan Kaihan satu kelompok, dan itu memang terlalu sering terjadi.


"Iya, kita berdua memang jagoan kelas kakap." Kaihan menyunggingkan senyuman terbaiknya.


"Kita sudah terkenal, di sejagat sekolah." ujar Kaila.


"Hahah... suka ngerjain orang-orang si." jawab Kaihan.


"Eh, sekarang kita gagalkan mereka saja yuk." tawar Kaila.


"Boleh, boleh, kita buat jebakan saja. Kebetulan ada tanah berlubang, nanti kelompok 2 akan lewat jalan tersebut." jawab Kaihan.


Mereka berdua segera mengambil dahan pohon yang besar, beserta rumput-rumput juga. Cukup lama mereka bekerja sama, untuk membuat keseruan yang menyebalkan.


Yana dan Ronal duduk di bawah pohon, menunggu Kaila dan Kaihan yang berjalan masuk hutan.


"Daripada menunggu mereka terlalu lama, mending kita makan cemilan saja yuk." ajak Ronal.


"Aku cukup sedikit saja, lagi menjaga porsi makan." jawab Yana, dengan jujur.


"Kamu seperti ini saja sudah cantik, ngapain harus diet segala." puji Ronal.


"Kamu seperti pernah melihat aku saja, kamu 'kan tidak dapat melihat." jawab Yana.


"Aku melihat dengan menggunakan hatiku." Ronal mengucapkannya sambil tersenyum.


"Memangnya mata punya hati, kamu ini gombal saja." jawab Yana.


Yana mengambil keripik kentang, yang telah dibuka bungkusnya oleh Ronal. Sesekali helai poninya bergerak, ke sana dan kemari. Angin begitu deras sekali, hingga debu-debu menyambar pori Yana.


"Aduh, debu kena mataku." keluh Yana.


"Sini, sini, biar aku tiup." jawab Ronal.


Ronal meniupkan angin ke arah mata Yana, dan Chaka mengintip dari balik celah daun-daunan. Di depannya dingin, namun tetap ada rasa tidak rela. Namanya juga istrinya, bukan orang lain lagi.