
Dharmo dan Thara malah bingung, ingin mencari Yana di mana. Mereka tidak paham kota tersebut, kecuali desa terpencil yang biasa ditinggali. Febby dijemput dengan Artha, dan orangtuanya ingin menumpang.
"Kami berdua ingin membantu mencari nona Yana." ucap Dharmo.
"Iya Febby, biarkan kami ikut dalam mobil Artha." timpal Thara.
"Baiklah, ayo kita pergi bersama." jawab Febby.
Kaila lari terbirit-birit memasang sepatu, takut ditinggal pergi lalu sendirian di rumah. Dia meneriakkan kata tunggu, sampai berdiri di depan pintu mobil.
"Aku ikut, jangan biarkan aku tertinggal." ujar Kaila heboh.
"Kami bukan berbelanja ke mall, yang pasti mau menghadapi bahaya. Mengapa kamu ingin ikut anak kecil." ledek Artha.
"Hei, berhenti memanggilku anak kecil. Aku bosan mendengarnya!" ucap Kaila, dengan lantang.
"Sudah, sudah, berisik sekali! Ayo semuanya pergi." Febby membuka pintu mobil.
Kaila ikut dibawa pergi sampai ke dermaga, dan Febby memeriksa sekeliling. Tidak tahu mengapa, firasat kepala membawa dirinya sampai ke tempat itu. Artha menghubungi Chaka melalui ponselnya, dan menyuruh saudara sepupunya segera datang.
"Eh, aku melihat ada mobil Ronal." Artha fokus pada objek, yang di sudut gudang dermaga.
"Iya, aku juga hafal bentuknya." Febby mengingat kejadian waktu di persidangan.
Keesokan harinya, Kaila berada di kantin sekolah. Sedang sarapan pagi bersama pacarnya, namun berita tidak enak menganggu pemandangan matanya.
Kaila melihat berita plagiarisme yang menyentil nama kakaknya. Kaila marah dan menggebrak meja, ingin rasanya menelan hidup-hidup para pencari masalah.
"Cepatlah, kamu bantu aku mencari sumber pembuat berita hoak ini." pinta Kaila pada Kaihan.
"Aku akan mengusahakannya, namun tidak janji berhasil." jawab Kaihan.
"Eh, enak loh berbelanja di sini. Berbeda dengan pasar biasanya, tampak rutin dibersihkan." ucap Thara.
"Iya, di sini pasar kesukaan aku dari gadis." jawab Tasya.
"Beruntung sekali, siapapun yang menjadi pelanggan." Thara menatap takjub, dengan menyapu bersih pandangannya ke sekitar.
"Aku sudah bertahun-tahun lamanya, setiap belanja kebutuhan lauk pauk ke sini." Tasya tersenyum, membenarkan pernyataan Thara.
"Ini ikan pare, aku jadi teringat dengan pengalaman pahit masa lalu." Thara memegang kulit ikan pare yang sudah jadi ikan asin.
"Ikan pare ini lezat sekali, seluruh anggota keluarga menyukainya." jawab Tasya.
Thara ikut memasukkan ikan pare ke dalam plastik. "Namun, ekornya ini pernah membuat suamiku nyaris mati. Saat itu kapal diterjang ombak deras, hingga Dharmo terjatuh ke dalam laut. Dia bertemu ikan pare, lalu ekornya mengenai kaki." jelas Thara.
Tasya mengangkat tubuh ikan pare setinggi wajahnya. "Ternyata meskipun enak, ikan ini sangat berbahaya."
Kaihan pergi ke warnet, tempat teman-temannya biasa bermain game. Kaila meminta tolong pada mereka, untuk mencari sumber artikel rahasia tersebut.
"Dia menyembunyikan diri sebagai pemilik situs." ujar Kaila.
"Gampang mengatasi ini, seperti kasus sebelumnya. Kami adalah hackers pahlawan paling handal. Hanya saja, mengerjakan ini tidak gratis." Seorang pria berkacamata menggerakkan jari telunjuk ke atas udara.
"Sudahlah cepat, jangan banyak bicara. Soal uang, aku akan suap mulut kalian sampai kenyang." Kaila tidak sabar lagi.
"Tidak mau diberi makanan, kami lebih membutuhkan uang." jawabnya.
"Dua-duanya akan aku berikan, cepat kerjakan tugas sekarang." Kaila menepuk pundaknya kuat.
"Siap laksanakan titah nona." jawabnya, dengan merasa sedikit lucu.